Banyak orang mengenalku sebagai pribadi yang humoris, ceria, dan menyenangkan. Setiap kali orang lain bercerita, aku berusaha mendengarkan dan memberikan respons positif. Aku selalu berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitarku. Banyak orang merasa aku selalu bahagia dan mudah diajak berbicara. Bahkan, tidak sedikit juga yang berpikir bahwa hidupku selalu berjalan mulus tanpa masalah.
Di balik kepribadianku yang terlihat sempurna, aku sebenarnya memiliki sisi yang tidak banyak orang tahu. Tidak banyak yang tahu bahwa aku pun sering menghadapi kesulitan dalam hidupku. Tetapi, aku lebih memilih untuk menyimpan dan tidak menceritakannya kepada orang lain karena tidak ingin merepotkan mereka yang pasti memiliki beban masing-masing. Saat sendiri, aku lebih memilih untuk diam dan tidak melakukan banyak hal. Tawa yang selalu aku tampakkan untuk orang lain pun jarang terlihat saat aku sedang sendiri. Aku merasa bahwa aku memiliki kapasitas sosial yang terbatas, dan kapasitas tersebut biasanya habis setelah aku berinteraksi dengan orang lain.
Antara Tuntutan Empati dan Habisnya energi sosial
(Ket : Ilustrasi baterai sosial yang berubah)
Kapasitas sosial yang terbatas ini sering kali mendatangkan perasaan gelisah bagiku. Ada momen di mana aku sedang merasa jenuh, lelah, dan tertekan oleh masalah yang sedang aku hadapi. Namun di saat yang bersamaan, ada seorang teman yang datang kepadaku dan bercerita mengenai masalahnya yang cukup berat. Di satu sisi, aku merasa bahwa kapasitas sosialku sudah mencapai batas dan aku membutuhkan waktu untuk sendiri. Namun, aku juga merasa bahwa aku harus menanggapi temanku dengan baik agar mereka tetap merasa didengarkan dan dihargai.
Setelah berinteraksi dengan banyak orang, aku sering kali merasa sedikit bersalah karena apa yang aku tunjukkan tidak sesuai dengan kepribadianku yang asli. Aku terkadang berpikir apakah sikap antusiasku selama ini termasuk bentuk kebohongan. Bukan karena aku tidak suka melihat orang lain bahagia, aku hanya merasa kurang jujur kepada orang lain dan diriku sendiri. Pada dasarnya, aku sangat senang apabila orang lain mau berbagi cerita kepadaku. Hanya saja, aku khawatir jika suatu saat tidak dapat memberikan respons dengan baik karena terlalu lelah menghadapi masalah pribadiku. Aku merasa takut jika diriku tidak mampu memenuhi ekspektasi orang lain.
Kondisi ini terkadang memicu pertanyaan besar dalam diriku. Tidak jarang aku merasa bingung menentukan kepribadian mana yang sebenarnya aku miliki, apakah sosok humoris yang sering terlihat di depan publik, atau si pendiam yang menyukai keheningan. Ada ketakutan mendalam jika orang lain mengetahui sisi pendiamku tersebut. Aku khawatir mereka akan menganggapku sombong dan perlahan-lahan mulai menjauhiku.
Belajar Jujur dan Berdamai dengan Batas Diri
Suatu hari, sebuah catatan kecil dari novel yang kubaca menyadarkanku. Di sana tertulis untuk tidak menjadikan hidup orang lain sebagai patokan kebahagiaan hidup diri sendiri. Dari sana aku tersadar, apakah ini sama halnya dengan keadaanku sekarang yang masih sering memikirkan perkataan dan tindakan orang lain. Aku merasa harus selalu tersenyum dan terlihat baik-baik saja agar orang lain juga merasa bahagia. Namun di saat itu, aku mulai tersadar bahwa aku sebenarnya tidak perlu selalu tersenyum bahagia ketika memang tidak baik-baik saja. Suatu saat, mungkin aku hanya bisa diam di depan orang lain dan itu tidak apa-apa.
Sekarang, aku mulai belajar bahwa tidak masalah untuk sesekali jujur dan memperlihatkan suasana hati yang sebenarnya kepada orang lain. Aku tersadar bahwa menjadi seseorang yang selalu ceria di depan banyak orang bukanlah sebuah kebohongan, melainkan bagian dari kebahagiaan yang tulus. Namun, aku mulai memahami bahwa aku juga memiliki batasan diri yang tidak dapat dipaksakan. Saat ini, aku lebih memilih untuk menanggapi orang lain sesuai kemampuanku dengan tetap menghargai perasaan mereka. Aku juga mulai membuka mata bahwa sebetulnya orang-orang di sekitarku sangat menerima apabila aku berani menampakkan diri apa adanya. Aku hanya terlalu khawatir dengan tanggapan orang lain yang belum tentu terjadi. Aku sadar, kecemasan yang selama ini menghantuiku hanyalah ketakutan tak berdasar. Pada kenyataannya, aku dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menerima diriku apa adanya.
Penulis: Talitha
