Lumpur yang Mencuri Hari Esok

Bagi Rahmi, hujan biasanya berarti aroma tanah basah dan suara katak yang bersahutan di belakang rumah. Namun, akhir November itu, hujan terdengar seperti raungan monster yanag lapar. Sudah tiga hari langit Sumatera Utara seperti tumpah, tak memberi jeda bagi tanah untuk bernapas.

“Mak, kenapa air sungai warna cokelat pekat?” tanya Rahmi sambil menunjuk ke arah hilir.

Ibunya, yang sedang sibuk membungkus surat-surat berharga ke dalam plastik, hanya diam. Wajahnya pucat. Sebagai perempuan yang lahir dan besar dikaki bukit itu, sang ibu tahu ada yang salah. Bukit di atas sana tak lagi hijau rimbun seperti dulu. Sejak alat-alat berat naik ke atas dan pohon-pohon raksasa dibawa turun satu per satu, bukit itu terlihat seperti raksasa yang dikuliti.

Malam itu, apa yang ditakuti pun tiba.

Suara “Brakkk!” yang memekakkan telinga terdengar dari arah bukit. Bukan petir, melainkan suara bumi yang menyerah. Dalam sekejap, lampu padam. Suasana menjadi gelap gulita, hanya menyisakan teriakan histeris warga dan suara gemuruh lumpur yang menyapu apa saja.

“Rahmi, lari ke tempat tinggi! Jangan lepas tangan Mak!” teriak Ibunya.

Mereka berlari menembus hujan yang menusuk kulit. Di belakang mereka, rumah kayu tempat Rahmi tumbuh besar lenyap ditelan lumpur dalam hitungan detik. Di kegelapan itu, Rahmi mendengar tetangganya berteriak memanggil nama anak mereka yang terseret arus. Hatinya mencelos. Ternyata, nyawa manusia bisa terasa begitu murah di hadapan alam yang terluka.

Esok paginya, desa mereka berubah menjadi lautan lumpur. Tidak ada lagi jalan, tidak ada lagi jembatan. Yang tersisa hanya puing-puing kehidupan dan wajah-wajah penuh duka.

Dua hari di pengungsian, perut Rahmi mulai perih. Bantuan yang dijanjikan di televisi tak kunjung sampai. Jalanan terputus, kata orang-orang. Rahmi melihat ayahnya dan laki-laki lain di desa itu tampak frustrasi. Di ujung jalan, terdengar kabar bahwa warga mulai mendatangi gudang makanan karena sudah tak tahan melihat anak-anak mereka menangis kelaparan.

“Apakah kita jadi pencuri, Mak?” tanya Rahmi saat melihat orang-orang membawa karung beras dari gudang yang dibobol.

Ibunya memeluk Rahmi erat, air matanya jatuh. “Bukan, Nak. Mereka hanya ingin bertahan hidup karena yang seharusnya menjaga kita belum datang.”

Sambil menatap bukit yang kini gundul dan berantakan, Rahmi teringat kata gurunya di sekolah: Alam adalah ibu kita. Kini Rahmi sadar, jika sang Ibu disakiti terus-menerus hutan didiamkan gundul dan tanahnya dikeruk tanpa ampun maka sang Ibu tak lagi punya kekuatan untuk melindungi anak-anaknya.

Bencana ini bukan sekadar soal hujan. Ini soal pohon-pohon yang hilang dan janji-janji yang tak ditepati. Rahmi kehilangan bonekanya, rumahnya, dan teman sekelasnya. Namun yang paling menyakitkan, ia kehilangan rasa aman setiap kali mendengar suara rintik hujan turun ke bumi.