Di atas peta, ia hijau nan asri Namun di lapangan, ia hanyalah sisa-sisa perih Akar yang dulu memeluk bumi dengan erat Kini tercerabut, diganti beton dan sawit yang menjerat.
Hujan hanyalah tamu yang datang berkunjung Namun tanpa payung hutan, ia menjadi pemukul punggung Air tak lagi meresap, ia melompat dengan beringas Membawa lumpur, batu, dan nyawa yang terhempas.
Bukan alam yang murka, bukan Tuhan yang tega Ini adalah surat balasan atas tamak yang tak terhingga Izin-izin ditanda tangani di atas meja yang rapi Sementara di bawah bukit, rakyat mati dalam sepi.
Suara tangis ibu membelah arus cokelat yang pekat Anak-anak bertanya, ke mana rumah mereka berangkat? Kita menyebutnya musibah, kita menyebutnya takdir Padahal ini adalah buah dari kebijakan yang kikir.
Sumatra sedang bersaksi, dalam rupa tanah yang runtuh Bahwa integritas telah mati, dan nurani telah lumpuh Sampai kapan kita berpura-pura buta? Hingga seluruh pulau ini tenggelam dalam air mata?