Namaku Rishyad, aku bersekolah di SMAN 6 Purworejo. Disana aku mempunyai banyak teman yang baik, salah satu temanku bahkan sering kali mengajakku jalan-jalan atau liburan seperti ke Magelang, Yogyakarta atau hanya sekadar makan-makan di daerah Purworejo saja. Biasanya aku malas keluar rumah untuk pergi liburan, tapi dengan iming-iming “kesempatan sekali seumur hidup” oleh temanku, aku terpancing dan berakhir menyetujuinya. Memang benar, masa-masa yang paling indah itu adalah masa-masa SMA.
Pada tanggal 26 Desember 2024, aku diajak oleh temanku itu ke Gunung Telomoyo. Awalnya aku berpikir untuk menolak karena pada tanggal 28 Desember 2024 atau lebih tepatnya malam hari sebelum tanggal 29 Desember 2024, ada acara kumpul musyawarah rutin karang taruna di rumahku. Karena aku belum pernah ke gunung dan berpikir bahwa ini adalah mungkin kesempatan sekali seumur hidupku untuk ke gunung jadi aku setuju ke Gunung Telomoyo, ditambah karena aku jarang keluar rumah dan saat aku meminta izin kepada orang tuaku, bukannya mendapat penolakan mereka malah mengizinkannya, akan tetapi dengan satu syarat. Syaratnya yaitu harus boncengan karena aku tidak punya SIM. Karena belum pernah ke gunung sama sekali, aku mencari tahu informasi Gunung Telomoyo di google. Ternyata Gunung Telomoyo terdapat 3 jalur, yaitu jalur untuk pendaki, jalur untuk kendaraan off-road/trail, dan jalur untuk kendaraan biasa.
Tanggal 29 Desember 2024, aku bangun tidur jam 5 pagi. Aku mulai bersiap-siap dan menunggu jemputan, jam 05.30 temanku datang. Ternyata ada satu orang lagi yang ikut, alhasil yang pergi ke Gunung Telomoyo ada 3 orang. Jalan ke Gunung Telomoyo sangat panjang dan banyak belokan. Selain itu, semakin kesana jalannya semakin menanjak dan suhunya semakin dingin. Kami beberapa kali berhenti karena kedinginan. Kami berangkat dari Purworejo ke Gunung Telomoyo melalui berbagai daerah seperti Bener, Salaman, Magelang, Secang, Grabag, Pagergunung dan akhirnya sampai di Dalangan. Kami menggunakan jalur Dalangan untuk ke puncak gunung karena jalurnya sudah diaspal dan bisa dilewati kendaraan roda dua.
Di Dalangan banyak sekali orang yang menuju puncak Gunung Telomoyo dan kembali turun dari puncak Gunung Telomoyo. Untuk menuju puncak Gunung Telomoyo, pengunjung diharuskan membeli tiket sebesar Rp. 15.000/orang. Setelah membeli tiket, kami langsung menuju puncak Gunung Telomoyo menggunakan motor. Jalur menuju puncak Gunung Telomoyo sangat menanjak dan berkelok-kelok, sering kali ada beberapa mobil jeep yang membawa beberapa penumpang turun gunung. Aku berpegangan erat dihandle motor karena takut jatuh. Kami berhenti di warung-warung lesehan untuk beristirahat dan makan. Sambil makan, aku memfoto beberapa pemandangan dari warung lesehan karena pemandangannya sangat bagus. Setelah makan kami lanjut untuk menuju puncak Gunung Telomoyo.
Tantangan menuju puncak Gunung Telomoyo sangat banyak. Mulai dari jalurnya yang sangat menanjak dan berkelok-kelok. Banyak mobil jeep yang turun gunung sambil membawa beberapa penumpang dan ada pemotor yang menyalip motor kami, sehingga kami harus berhati-hati. Suhunya semakin dingin karena semakin menanjak, kami berhenti sejenak di pinggir jalur karena terdapat pemandangan yang bagus, selain itu suhu udara yang turun membuat kami kedinginan, kalau tidak salah saat aku mengecek suhunya mencapai 9 derajat Celcius dan salah satu temanku tidak kuat terhadap dingin sehingga kami tidak jadi ke puncak Gunung Telomoyo. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk turun gunung dan pulang ke rumah.
Kami turun dari Gunung Telomoyo, suhu yang awalnya dingin menjadi hangat kembali. Saat mau pulang ke rumah, temanku mengajakku pulang lewat Borobudur untuk mencari makan. Setelah sampai di kawasan Borobudur, kami berhenti di sebuah warung untuk makan. Setelah makan, kami lanjut pulang tetapi ditengah perjalanan kami kehujanan. Kami berhenti sejenak untuk memakai mantel tapi saat kami memakainya, hujannya malah berhenti. Kedua temanku melepas mantelnya, sedangkan aku yang sudah mengenakan mantel, malas untuk melepaskannya sehingga aku pulang sambil memakai mantel walaupun cuacanya tidak hujan. Setelah kurang lebih satu jam berlalu, akhirnya kami sampai di Purworejo dan temanku mengantarkanku pulang ke rumahku.
