Seorang ibu menatap sebuah foto di tangannya yang kotor
Ia membelai foto itu dengan jemarinya dengan lembut
Seakan jemarinya tengah menyentuh langsung wajah di potret itu
Permata bening meluncur pelan di sela jemarinya
dan ia berbisik “Kamu janji akan pulang sebelum hujan deras”
Cakrawala menghitam dan guntur mulai bersahutan
Langit Sumatera menangis tanpa suara pilu
Membawa lumpur dan duka dalam pusaran yang berisik
Hamparan hijau itu kini terkoyak dan membawa mereka pergi
Mereka yang mengejar mimpi kini hilang di dekap tanah yang kehilangan pegangan
Ini bukan takdir Tuhan
Hutan yang dijagal, diberikan pada rahim sawit
Ini adalah pesta pora para tuan tanah!
Orang-orang berdasi itu menjual nyawa mereka demi sebuah kekayaan
Jiwa-jiwa itu dikubur hidup hidup oleh ketamakan
Ini semua adalah dosa manusia yang tidak termaafkan
Dan kini hanya angin busuk yang dapat membawa kabar kematian
Membisikkan berita duka yang abadi
Ibu masih disana, membeku dengan mata yang semakin mati
“Kamu janji akan pulang sebelum hujan deras” bisiknya memaki sepi.
