Kpopers, Laksana Pisau Bermata Dua

38072564-302467843644012-2864563613849354240-n-add0c9954a4d75f9901a8afab4437d27_600x400
sumber : IDN Times

K-pop merupakan singkatan dari Korean Pop atau bisa disebut sebagai pop Korea. K-pop merupakan genre musik populer asal Korea Selatan. Namun, bagaimana ya asal muasal K-pop? Ternyata, K-pop merupakan gabungan dari pop culture yang dipadukan dengan lirik berbahasa Korea, sehingga lahirlah suatu genre musik baru yang biasa disebut dengan K-pop atau Korean Pop. Genre ini biasanya dibawakan oleh grup dengan beberapa anggota. Beberapa grup yang sangat terkenal diantaranya seperti Blackpink, BTS, EXO, Twice, dan lain sebagainya.

Genre K-pop sekarang ini semakin mendunia, bahkan K-pop menjadi salah satu bagian dari Gelombang Korea atau ‘Korean Wave’, istilah ini mengacu pada penyebaran atas popularitas budaya populer Korea melalui melalui produk-produk hiburan seperti drama, musik, style. Korean wave membuat orang-orang dari luar Korea tertarik untuk belajar mengenai bahasa dan budaya korea. Berangkat dari itu, genre K-pop mulai dikenal oleh orang-orang hingga memunculkan penggemar-penggemar yang disebut dengan kpopers.

Para kpopers yang sangat mengidolakan idolanya, pasti mereka akan mendukung kegiatan positif dari idolanya tersebut. Kpopers akan menunggu setiap comeback dari idolanya, bahkan membeli pernak-pernik seperti poster, lightstick, photocard, hingga album yang harganya tidak murah. Hal ini menunjukan bahwa para kpopers sangat mendukung terhadap setiap kegiatan yang dilakukan oleh idolanya. Mengidolakan seseorang juga membawa hal positif untuk para kpopers, seperti mereka akan kembali bersemangat disaat mendengarkan lagu idolanya. Selain itu, kpopers memiliki motivasi untuk menabung lebih besar karena mereka ingin membeli pernak-pernik dari idolanya. Kpopers juga termotivasi untuk belajar bahasa Korea dan hal ini membawa dampak yang sangat positif karena kebanyakan kpopers juga akan termotivasi untuk melanjutkan studi di negara Korea, dan masih banyak dampak positif lainnya dari menjadi kpopers.

Di lain sisi, terkadang kita sering kali menemui para kpopers yang terlanjur cinta kepada idolanya sehingga mereka bertindak secara berlebihan. Oknum kpopers seperti ini yang membuat non kpopers memiliki stigma negatif terhadap kata ‘K-pop’ dan ‘kpopers’. Kebanyakan kpopers yang terlalu mencintai idolanya akan membela idola tersebut mati-matian serta menjatuhkan ‘idol’ lain yang dirasa berhubungan dengan idola kpopers tersebut. Hal inilah yang membuat adanya anggapan jika menjadi seorang kpopers merupakan hal yang salah. Menjadi kpopers juga memiliki dampak negatif. Terkadang ngidol membuat kpopers sering memikirkan idolanya dan menjadi lupa waktu. Selain itu, untuk membeli pernak-pernik idolanya dibutuhkan uang yang tidak sedikit, sehingga hal ini membuat kpopers menjadi boros. Menjadi kpopers yang fanatik juga membuat para kpopers mempunyai musuh karena apabila mereka mengusik ‘idol’ lain, lalu membuat kpopers lain tidak terima, maka pada akhirnya akan terjadi ‘war fandom atau bisa disebut pertengkaran antar penggemar.

Menjadi kpopers memang nano-nano, karena mereka akan merasakan dampak positif dan negatif saat menjadi penggemar K-pop. Namun, alangkah baiknya jika ingin menjadi kpopers, kita cukup mencintai idola sewajarnya saja dan jangan berlebihan karena sesuatu yang berlebihan tidak baik, bukan? Jadikan idola sebagai penyemangat dan jangan mencintainya berlebihan.

Referensi :
Gumelar, S. A., Almaida, R., & Laksmiwati, A. A. (2021). Dinamika psikologis fangirl K-Pop. Cognicia, 1-3.

Putri, L. A. (2020). DAMPAK KOREA WAVE TERHADAP PRILAKU REMAJA DI ERA GLOBALISASI. Al-Ittizaan: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, pp. 42-44.

Sihombing, L. H. (2018, Maret Volume 3, No. 1 ). PENGARUH KPOP BAGI PENGGEMARNYA: SEBUAH ANALISIS KAJIAN BLOG. Jurnal Makna, pp. 56-59.