Kontemplasi Mimpi

Akan kubuka sekat-sekat perjalananku. Tapi rasanya terlalu singkat jika diceritakan dari sini, maka biarkan aku membawa kembali bulan-bulan di dua ribu sembilan belas lalu. Bebaskan aku sesaat saja untuk sekadar mengurai sisa-sisa mimpi yang tumbuh saat itu.

Kisah ini dimulai ketika kipas angin di dalam kelas yang tiba-tiba berhenti berputar. Hening menyeruak. Tak lama guru BK-ku melanjutkan pembahasannya tentang dunia perkuliahan. Di balik jendela tua yang teralinya sedikit berdebu, aku melempar pandangan ke luar kaca. Terik menyengat. Pikiranku mengembara ke masa depan. Aku tersenyum tipis. Bukan. Aku tersenyum bukan karena seorang yang kusuka tak sengaja lewat, melainkan aku tahu akan melangkah ke mana setelah menyelesaikan pendidikanku waktu itu.

Bel istirahat memecah kantuk kita. Guru BK melenggang pergi meninggalkan murid-muridnya yang dihujani kebingungan memilih jurusan. Tapi mungkin, aku adalah salah satu dari beberapa dari kami yang tidak bingung terhadap arah. Entah kenapa seperti ada mimpi yang menyala dalam diriku, yang mengatakan dengan lantang jika nanti aku akan mengambil jurusan informatika di sebuah universitas negeri di Indonesia.

Satu tahun terlewati. Kukira jalan yang kujejaki sudah benar dan pasti. Aku masih belum sadar jika kabut tebal ternyata tengah mengukung pikiranku. Tak ada yang kupikirkan kecuali informatika. Niatku benar-benar terarah ke sana. Benar-benar tak ada yang menyanggah hal itu sampai ketika semuanya berbalik dari ekspektasi.

Biar kujeda sebentar …

9 Januari 2021 datang. Hari itu adalah hari pengumuman siswa eligible di sekolahku. Aku begitu tak percaya ketika namaku ada di salah satu dari seratus dua puluh lima nama temanku. Dengan perasaan yang sangat senang, aku membawa kabar baik itu pada ibuku yang tengah menuang secangkir teh untuk ayahku. Aku menyampaikannya dengan raut gembira. Ibuku langsung memelukku. Matanya berkaca-kaca. Haru dan perasaan lain bercampur menjadi satu. Bahkan emosi itu masih terasa sampai sekarang. Persis masih terasa ketika aku tengah menulis kalimat ini.

Ini belum selesai. Satu tahun lebih idealisme yang akan memilih informatika, mendadak mati. Benar-benar mati. Semua pertimbangan menguap memenuhi pikiran. Nilai rapot yang tidak terlalu tinggi, keahlian di bidang IT yang mendekati angka nol, banyak dari beberapa yang mengatakan jika informatika sulit, dunia kuliah yang mengerikan dan semua hal buruk yang terjadi saat itu membuatku terpelanting ke titik terendah. Aku menangis sepanjang malam. Mendadak bimbang memilih jurusan bahkan ketika empat hari lagi pendaftaran SNMPTN ditutup. Tidak ada yang menjamin aku tetap berdiri tegak pada idealisme yang sebelumnya telah kuanggap benar.

Pikiranku kacau. Aku melepas mimpi itu, menaruhnya ke tanah. Aku berjalan lagi, pelan-pelan. Menerka sebenarnya apa yang kusuka. Berhari-hari kuhabiskan untuk berdiskusi dengan orang terdekatku terkait jurusan yang akan kuambil nanti. Tepat ketika satu hari lagi pendaftaran ditutup, aku bersama emosi yang lebih stabil dari sebelumnya, dengan yakin memilih satu nama yang memberiku rasa nyaman.

Pendidikan matematika.

Ajaib. Semua ketakutan rasanya lenyap. Gelombang damai yang lama tak menyapaku akhirnya kembali lagi. Aku lupa bahwa matematika adalah mata pelajaran paling kusuka. Terhitung sejak kelas 3 SD dan masih berlanjut sampai sekarang. Soal-soal tentang angka terasa unik. Angka-angka berpola itu seperti memintaku untuk memecahkan teka-teki mereka.

Hari bergulir cepat. Maret dipenuhi harap-harap cemas. Seraya menanti pengumuman, kuhabiskan sisa waktu bersama latihan-latihan soal untuk menyiapkan SBMPTN. Aku bersiap atas kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Dan hari itu datang juga.

22 Maret 2021, pukul 14.59 WIB.

Bahkan kalimat sebelum ini masih membekas saat kubaca. Saat itu jantungku rasanya seperti jatuh ke perut. Tidak ada toleransi untuk meredakan degupnya. Telapak tangan dan kaki begitu dingin sampai warnanya memucat. Semua emosi bercampur antara sedih, gelisah, takut dan khawatir. Dengan tangan gemetar dan segala pasrah terhadap hasil, kuketik nama, tanggal lahir dan nomor pendaftaranku. Aku memejam. Jantungku semakin tak bisa kuatur lagi. Satu yang kutahu ketika mataku terbuka.

Biru.

Aku menggigit bibir bawahku, menangis tertahan dan langsung memeluk ibuku yang berada di dekatku. “Aku lolos, Bu,” ucapku dengan isak tangis tak percaya atas rencana besar alam raya.

Kisah ini telah menemukan ujungnya. Aku tidak menyesal karena membuang mimpiku saat itu. Karena aku tau, kejadian sekarang adalah takdir terbaik yang diciptakan. Lagipula, siapa yang tidak senang ketika mendapat teman-teman hebat seperti kalian?

Terima kasih, ya, sudah berkenan membaca tulisan ini sampai akhir. Jika harimu terasa berat, sempatkan istirahat. Aku yakin, kamu akan baik-baik saja seperti ketika kamu yang berhasil melewati hari-hari beratmu di waktu-waktu sebelumnya. Semangat, orang baik!

-Wulan

3 Likes