Di tepian Sungai Batang Toru yang dulu jernih,
kini mengalir lumpur dan tangis yang tak terdengar.
Pohon-pohon tua roboh seperti harapan yang patah,
sementara asap hitam menutupi langit yang dulu biru.
Salah siapa?
Tanyakan pada gergaji yang rakus memangkas hutan,
pada buldozer yang menggaruk luka di tubuh bumi,
pada tambang yang menghisap darah ibu pertiwi
tanpa pernah bertanya: apakah dia masih bisa bernapas?
Anak-anak di Aceh berlari dari ombak yang murka,
nenek-nek di Padang memeluk reruntuhan rumah,
petani di Lampung meratapi sawah yang tenggelam—
dan kita semua bertanya dengan suara yang sama:
“Mengapa bumi membalas dengan begini kejam?”
Tapi bumi tak pernah kejam,
dia hanya lelah diabaikan.
Hutan yang menjadi paru-parunya dicabuti,
sungai yang menjadi nadinya diracuni,
dan gunung yang menjadi tulang punggungnya digali
hingga dia tak sanggup lagi menahan beban.
Salah siapa?
Salah kita yang lupa bahwa tanah ini bukan milik,
tapi titipan untuk cucu yang belum lahir.
Salah kita yang memilih kemewahan sesaat
di atas keselamatan yang abadi.
Sumatra menangis dalam bahasa banjir dan longsor,
dalam bahasa asap dan gempa,
berharap ada yang mendengar
sebelum terlambat—
sebelum yang tersisa hanya penyesalan
di atas tanah yang sudah tak bisa lagi
memaafkan.