Hujan turun dengan sangat deras sejak pagi, seperti doa yang disimpan terlalu lama di langit. Di sebuah desa kecil di Sumatera, hidup seorang remaja bernama Harun yang sedang berdiri sembari memandang sungai yang mulai meluap. Dahulu, sungai itu adalah tempat dimana dia bersama teman temannya bermain. Air sungainya jernih, ikannya banyak, dan pohon-pohon yang menjulang tinggi di sekitar sungai bagai pelindung yang setia.
Tetapi saat ini sungai itu berubah menjadi monster. Air yang semula jernih kini menjadi coklat yang mengalir sembari membawa batang kayu, lumpur, dan juga sisa-sisa rumah yang ikut hanyut terbawa derasnya arus. Orang-orang panik dan berteriak “ini bencana alam!” “Tuhan sedang murka!”. Namun Harun tahu, hal ini tidak sesederhana itu.
Beberapa tahun yang lalu, ia masih melihat hutan yang begitu hijau berdiri sangat megah di perbukitan. Kemudian satu per satu pohon itu ditebang. Truk besar yang datang sembari membawa kayu, lalu meninggalkan bukit gundul yang amat terluka. Sungai juga ikut disakiti, orang-orang membuang sampah ke sungai seolah sungai adalah tempat pembuangan, bukan sebagai sumber kehidupan.
Harun pernah bertanya kepada sang ayah, “Kalau pohon habis, apakah sungai akan marah ayah?” Ayahnya hanya tertawa kecil, “Alam tidak akan marah, sayang. Alam hanya akan mengikuti hukum-Nya.” Saat ini Harun mengerti. Sang hujan hanya menjalankan tugasnya. Sang sungai hanya mencari jalan. Namun manusia lah yang merubah segalanya.
Banyak rumah yang rubuh, sekolah terendam air dan lumpur, jalanan yang menghilang, dan teriakan yang berubah menjadi tangisan. Saat di pengungsian, seorang ibu menggendong dan memeluk erat anaknya namun dia menatap kosong ke arah kampung yang tidak lagi sama. Seorang kakek yang menangis karena bukan hanya kehilangan rumahnya, tetapi dia juga kehilangan berbagai macam kenangan selama puluhan tahun bersama alam yang dulu sangat bersahabat.
Di tengah kepanikan yang melanda, Harun menatap ke arah bukit yang sudah botak dan sungai yang sangat sesak. Ia bertanya di dalam hatinya “ini bencana alam atau ini bencana ulah manusia?”. Dan jawabannya ia temukan sendiri. Bencana ini bukan sekedar air yang meluap dan bukan sekedar tanah yang longsor. Ini adalah suara dari alam yang selama ini sudah kita abaikan. Alam sudah memberi tanda, namun Manusia terlalu sibuk mengambil tapi lupa menjaganya.
Pada malam itu, di antara dinginnya pengungsian, Harun menulis: Jika suatu hari orang bertanya, “Bencana Sumatera salah siapa?”. Jangan buru-buru untuk menyalahkan langit. Jangan langsung menunjuk Tuhan. Lihat dulu ke cermin. Karena mungkin jawabannya adalah kita, manusia yang lupa untuk bersyukur, lupa untuk menjaga, tapi paling cepat menyalahkan.
Pada akhirnya air surut. Hidup perlahan berjalan kembali. Harun berjanji pada diri nya sendiri kelak ia ingin tumbuh menjadi seseorang yang menjaga bumi bukan malah merusak nya. Karena sejatinya alam tidak butuh manusia. Tetapi manusia tidak akan bisa hidup tanpa alam.