Di tanah hijau yang dulu tersenyum,
hujan turun tanpa jeda dan ampun,
sungai meluap membawa pilu,
menyapu rumah, mimpi, dan waktu.
Gunung berdiri dalam diamnya luka,
tanah runtuh menelan cerita,
tangis anak-anak pecah di senja,
menyatu dengan doa para ibu yang pasrah.
Sungai meluap membawa amarah,
namun amarah itu bukan miliknya.
Ia hanya mengembalikan
apa yang manusia buang:
keserakahan, kelalaian,
dan janji-janji penjagaan yang diingkari.
Siapa yang harus dituduh?
Hujan hanya jatuh sesuai kodrat.
Gunung hanya runtuh saat dipaksa lemah.
Alam tidak bersalah—
manusialah yang terlalu berani
menantang batas kehidupan.
Di balik izin yang ditandatangani,
di balik alat berat yang menderu,
ada mata yang menutup,
dan nurani yang memilih diam.
Saat rumah hanyut,
siapa yang bertanggung jawab?
Sumatera tidak butuh simpati sesaat,
tidak butuh pidato berlapis duka.
Ia butuh keberanian
untuk berhenti merusak
dan mulai menjaga.
Wahai bumi Andalas yang tabah,
kami titipkan doa pada setiap sujud,
semoga luka ini perlahan sembuh,
dan esok hadir dengan cahaya yang utuh.
