"Ketika Air Mengambil Tempat Pulang"

Aku terduduk di sudut pos pengungsian, sambil memeluk Rian yang tertidur di atas pangkuanku. Nafasnya teratur seolah tak terjadi apa-apa. Di tengah gelap malam lampu-lampu darurat memantulkan bayangan orang-orang yang kebingungan dan kehilangan rumah, aku menjadi salah satunya. Tak ada lagi tempat pulang, hanya menyisakan kenangan.

Beberapa jam sebelumnya aku berdiri terpaku di atas tanggul darurat, menatap reruntuhan yang dulunya adalah rumah kami. Atap sengnya tidak ada, dinding papan yang menghilang terseret arus dan perabotan rumah mengambang entah kemana, rumah kecil yang kubangun dengan sisa tenaga dan harapan kini lenyap ditelan banjir tanpa sisa. Aku ingin menangis tetapi Rian menggenggam bajuku erat membuatku harus bertahan.

Pagi itu Rian sedang bermain di halaman rumah kami. Ia berlari kecil, tertawa, lalu berkata kepadaku “Bunda, nanti kalau sudah besar aku mau rumah kita tetap di sini” Aku tersenyum sambil mengangguk. Namun beberapa jam kemudian hujan turun tanpa henti, air sudah setinggi lutut dan aku mencoba menyelamatkan barang-barang penting. Aku mengambil pakaian Rian, surat-surat, dan foto ayahnya yang telah lama tiada.

Saat itu aku masih percaya bahwa rumah ini akan bertahan, aku tak menyangka jika keputusan untuk bertahan beberapa menit lebih lama hampir merenggut segalanya.

Kini aku mengusap wajah Rian yang masih berbekas lumpur, rumah kami memang hilang tetapi anakku masih di sini, bernafas di pelukanku. Di tengah kehilangan yang tidak terhitung aku belajar satu hal, selama Rian masih menggenggam tanganku aku masih memiliki tempat pulang meski bukan lagi sebuah rumah.