Kesinoniman dan Keantoniman?

Screenshot_20211222-205325_Google Play Store

Kesinonim dan keantonim?

Dalam bahasa Indonesia, kata sinonim dan antonim tentu sudah tidak asing lagi. Materi tentang antonim dan sinonim termasuk dalam relasi makna. Hubungan makna adalah hubungan semantik yang ada antara satu unit bahasa dengan unit bahasa lainnya. Sinonim adalah persamaan kata, sedangkan antonim adalah lawan kata. Nah, untuk lebih jelasnya mari kita kupas secara bergantian apa itu sinonim dan apa itu antonim.

Pertama kita akan membahas sinonim. Sekilas, persamaan kata atau sinonim ini terlihat sederhana, bukan? Menurut Kridalaksana dalam buku “Kamus Linguistik”, dikatakan bahwa jika suatu kata dapat diganti dengan kata lain dalam konteks yang sama dan makna konteksnya tidak berubah, maka kedua kata tersebut dapat dikatakan menjadi sinonim. Dari pernyataan di atas, dapat kita simpulkan bahwa pengertian dari sinonim itu sendiri adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu kata dengan kata lainnya. Hubungan sinonim ini bersifat timbal balik. Artinya, jika suatu kata sinonim dapat ditentukan bahwa kata tersebut memiliki arti yang sama. Contohnya seperti saya dan aku, manusia dan orang, haus dan dahaga, kamu dan Anda, kembang dab bunga, dan masih banyak lagi.

Kemudian yang selanjutnya adalah antonim. Di sini antonim berarti bahwa hubungan semantik antara dua unit bahasa yang mengungkapkan kebalikan, kontradiksi atau pertentangan satu sama lain. Sederhananya, antonim adalah kata yang memiliki arti yang berlawanan dengan kata lain. Misalnya tinggi dengan pendek, jauh dengan dekat, gelap dengan terang, benar dengan salah, baik dengan buruk, dan masih banyak lagi.

Adapun jenis-jenis antonim itu sendiri. Pertama, antonim kembar yang memiliki perlawanan dua kata. Kedua, antonim majemuk yang mencakup banyak kata dan mencakup lebih dari satu kata. Ketiga, antonim bertahap yang memiliki tingkatan dalam konflik kata atau bahkan pertarungan kata. Keempat, antonim hierarkis yang dikatakan berada pada posisi yang berlapis-lapis atau berjenjang. Dan yang terakhir, antonim relasional yang dihasilkan dari dua kata yang berhubungan atau berhubungan satu sama lain.

Referensi :

Aminuddin. 1988. Semantik Pengantar Studi Makna. Banding. CV Sinar Baru.

Tarigan, Henry Donner. 1993. Pengajaran semantik. Bandung: luar angkasa.

Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik 2: Memahami Ilmu Makna. Bandung: Eresco

1 Like