Pengalaman paling berkesan dalam hidup saya terjadi pada tahun 2021, ketika saya menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) semasa SMK di Jakarta Timur. Tanpa diduga, saya dipilih menjadi ketua kelompok—bukan karena saya mencalonkan diri, melainkan justru ketika saya sedang tidak berada di tempat. Saat saya kembali dari toilet, keputusan telah diambil: saya resmi menjadi ketua kelompok. Perasaan saya saat itu campur aduk—antara bangga, bingung, dan tertekan. Saya belum punya bayangan bagaimana harus memimpin kelompok dalam situasi lapangan yang nyata. Saya hanya tahu, ini akan jadi tantangan yang besar.
Pada awalnya, saya memimpin dengan cara yang salah. Saya bersikap arogan, merasa paling tahu, dan terlalu sering mengabaikan masukan dari anggota kelompok. Saya menganggap posisi ketua adalah alat untuk memberi perintah, bukan untuk membangun kerja sama. Sikap saya kaku dan terlalu memaksakan kehendak. Saya ingin semua orang mengikuti arahan saya tanpa bertanya. Saya pikir, itulah cara agar semua berjalan lancar. Namun saya lupa, bahwa tim bukan sekadar kumpulan orang yang patuh, tetapi individu yang butuh dihargai.
Dibenturkan dengan Realitas
Sikap saya perlahan menjadi masalah. Ketegangan mulai terasa, dan kekompakan kelompok kami mulai goyah. Hingga suatu hari, salah satu anggota kelompok menegur saya secara langsung. Ia berkata dengan tegas, “Anda menyebut diri Anda ketua dan ingin semua orang patuh karena jabatan Anda? Bahkan untuk melihat dan merasakan apa yang dirasakan anggota pun Anda tidak mampu.” Ucapan itu menampar kesadaran saya. Awalnya saya marah dan malu, tapi semakin saya pikirkan, kata-kata itu benar adanya. Saya mulai merenung—apakah saya benar-benar sudah memimpin, atau hanya sekadar memerintah?
Sejak hari itu, saya mencoba berubah. Saya mulai belajar mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Saya belajar menyadari bahwa jabatan adalah tanggung jawab, bukan kekuasaan. Saya mencoba membangun kembali kepercayaan anggota, satu demi satu. Saya tidak lagi menempatkan diri di atas, tapi berusaha berjalan bersama. Ketika ada kegiatan, saya pastikan mereka beristirahat terlebih dahulu. Jika mereka lelah, saya harus lebih siap lagi. Karena pemimpin yang baik bukan yang paling nyaman, melainkan yang paling kuat menanggung lelah.
Tumbuh dalam Kritik, Bukan Pujian
Perubahan ini tidak terjadi seketika, tapi perlahan mulai terasa. Hubungan antaranggota mulai membaik, komunikasi lebih terbuka, dan pekerjaan lebih ringan karena kami saling mendukung. Saya sadar, menjadi pemimpin berarti siap untuk tidak selalu dihargai saat berbuat benar, tapi tetap harus kuat saat disalahkan. Banyak orang menganggap pemimpin hanya memberi instruksi, padahal pemimpin justru harus paling siap menerima tekanan. “Benar tak selalu dipuji, tapi salah hampir selalu dicaci” dan saya harus belajar bertahan di antara keduanya.
Pengalaman ini sangat membentuk saya. Saat kembali aktif dalam organisasi sekolah dan terpilih menjadi Ketua OSIS, prinsip yang saya bawa sudah berbeda. Saya tidak lagi berambisi terlihat paling depan, tapi saya ingin menjadi pemimpin yang paling bisa diandalkan. Saya lebih fokus membangun kepercayaan dan merawat hubungan. Berkat perubahan sikap itu, saya mendapat banyak kepercayaan, bahkan dikenal sebagai salah satu Ketua OSIS terbaik di sekolah. Yang lebih membanggakan, menjelang kelulusan pada tahun 2022, saya ditawari langsung oleh kepala sekolah untuk bekerja sebagai staf melalui kontrak resmi selama dua tahun.
Pemimpin Juga Manusia
Pengalaman memimpin selama PKL mengajarkan saya satu hal penting: bahwa pemimpin juga manusia. Ia bisa salah, bisa dikritik, dan harus terus belajar. Tapi bedanya, seorang pemimpin tidak boleh berhenti memperbaiki diri. Ia harus cukup kuat untuk menerima caci maki, dan cukup bijak untuk tidak mencari pujian. Memimpin bukan tentang menjadi yang paling benar, tapi tentang menjadi yang paling bertanggung jawab. Dari pengalaman inilah saya mengerti, bahwa menjadi pemimpin sejati tidak hanya soal posisi, tetapi tentang keberanian untuk berubah dan bertumbuh.
