Kain Batik Jlamprang Budaya Legendaris Pekalongan

Indonesia memiliki budaya yang sangat beragam. Hal ini mencerminkan adanya perbedaan berbagai suku bangsa, agama, dan adat yang hidup berdampingan dalam satu kesatuan. Keanekaragaman ini terlihat dari berbagai aspek kehidupan, seperti bahasa, seni, adat istiadat, kepercayaan, dan tradisi. Salah satu keanekaragaman Indonesia yang mengudara hingga saat ini adalah seni rupa. Seni rupa Indonesia kaya dan beragam, sehingga mencerminkan warisan budaya nasional dari berbagai suku dan daerah.

Adapun seni rupa tradisionalnya, seperti batik, tenun, ukiran kayu, dan wayang. Seni rupa ini tentunya bukan hanya dilihat dari segi ekspresi keindahan, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan sejarah Indonesia. Salah satu daerah yang masih melestarikan budaya seni rupa pada era sekarang adalah Pekalongan. Pekalongan adalah sebuah daerah yang berada di Pesisir Utara Jawa Tengah yang dijuluki sebagai Kota Batik.

Secara geografis, Pekalongan terletak di jalur pantai utara Jawa yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya yang menjadi simpul strategis dalam jaringan transportasi regional. Pekalongan memiliki kekayaan budaya yang melimpah. Warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Pekalongan salah satunya yaitu Kain Batik Jlamprang. Batik Jlamprang merupakan salah satu jenis batik yang terkenal di Indonesia, tidak hanya terkenal karena keindahan motifnya, tetapi juga karena makna dan simbolisme yang terkandung di dalamnya.


sumber: Google Image Result

Batik Jlamprang memiliki sejarah yang panjang dan kaya akan historis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kartika Setiawan (2018), “Batik Jlamprang berasal dari zaman Kerajaan Mataram Islam, yang kemudian berkembang di Kota Pekalongan”. Batik Jlamprang memiliki ciri khas motif yang unik dengan warna yang cerah. Batik ini menjadi salah satu batik terkeren di Indonesia.

Kain Batik Jlamprang berkembang di daerah pesisir Pekalongan, sehingga warnanya pun bermacam-macam. Hal tersebut sesuai dengan selera pembeli yang berasal dari Eropa, Cina, dan negara-negara yang lain. Warna dominan dalam batik Jlamprang yang sering digunakan adalah rnerah, hijau, biru, dan kuning, meskipun ada juga yang menggunakan warna soga.

Salah satu bagian penting untuk menghasilkan batik yang bagus dan cantik diperlukan proses pembuatan batik yang baik dan terstruktur. Dalam proses pembuatan Kain Batik Jlamprang juga memerlukan ketelatenan dan kesabaran yang cukup tinggi. Proses pembuatan batik Jlamprang ini meliputi beberapa tahapan, yakni: pemilihan bahan, pembuatan motif, pewarnaan, dan penyelesaian akhir. Setiap tahapan memerlukan ketelitian dan keahlian guna menghasilkan batik jlamprang yang berkualitas. Menurut Wulandari (2018), “Proses pembuatan batik Jlamprang memerlukan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi, karena setiap tahap memerlukan ketelitian dan keahlian”.

Batik Jlamprang, khas Pekalongan mempunyai proses yang cukup panjang dalam proses pembuatannya mulai dari membuat pola di kain, menerapkan lilin malam, pewarnaan, dan membersihkan lilin malam. Motif Jlamprang yang rumit dengan warna yang cerah menjadi ciri khas yang seringkali menggunakan teknik batik tulis dan cap atau kombinasi keduanya. Berikut proses pembuatan Batik Jlamprang, antara lain:

  1. Persiapan Kain
    memilih kain yang sesuai, tetapi biasanya kain yang digunakan adalah kain katun atau sutra yang memiliki daya serap yang cukup baik,

  2. Pembuatan Pola (Njaplak)
    Pola motif Jlamprang digambar di atas kertas, lalu dipindahkan ke kain (njaplak),

  3. Penerapan Lilin Malam (Nglowong dan Ngiseni)
    Lilin malam diaplikasikan pada kain dengan mengikuti pola melalui alat canting untuk batik tulis ataupun melalui alat cap untuk batik cap,

  4. Pewarnaan (Nyolet, Nembok, atau Ngelir)
    Kemudian kain diwarnai dengan teknik colet pada motif dan celupkan kain tersebut untuk membuat latarnya serta lakukanlah beberapa kali dengan warna yang berbeda sesuai motif yang diinginkan,

  5. Penghilangan Lilin Malam (Nglorod)
    Lilin malam yang menutupi kain dihilangkan dengan cara merendam kain kedalam air yang mendidih,

  6. Finishing
    Kain batik Jlamprang selanjutnya dicuci, dikeringkan, dan disetrika agar hasil akhirnya rapi.


    sumber: Google Image Result

Adapun motif yang digunakan Kain Batik Jlamprang memiliki makna dan simbolisme yang mendalam. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Siti Rohmah (2020), “Motif-motif yang digunakan dalam Batik Jlamprang memiliki makna yang terkait dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Pekalongan, seperti motif bunga yang melambangkan kesuburan dan motif burung yang melambangkan kebebasan.” Selain itu, batik Jlamprang ini terkenal bukan hanya dari kain saja tetapi batik ini juga terkenal akan tarian khusunya yaitu Tari Jlamprang.

Tari Jlamprang adalah tarian kelompok khas Pekalongan yang menggambarkan semangat kerja keras, ketekunan, dan kreativitas masyarakat Pekalongan dalam membatik. Tarian ini merupakan tari kreasi modern yang menampilkan gerakan-gerakan yang menggambarkan proses membatik. Saya sebagai masyarakat asli Pekalongan dituntut harus bisa menari tradisional daerah sendiri yaitu tari Jlamprang. Tarian ini cukup rumit dan membutuhkan latihan yang konsisten. Pengalaman saya yang masih membekas hingga sekarang yakni ketika saya pertama kali mencoba mempelajari dan mempraktikan langsung tarian batik Jlamprang saat SMP.

Pada waktu itu saya merasa kesulitan dalam menguasai gerakan-gerakan yang susah dipraktikan dan harus bisa sinkron dengan musik tradisional tarian ini. Namun, saya konsisten berlatih tari Jlamprang dan akhirnya saya dapat menguasai tarian batik Jlamprang ini dengan sangat baik. Pengalaman ini telah terukir dalam hidup saya karena tari Jlamprang ini pernah saya tampilkan pada waktu acara perpisahan SMP. Saya merasa sangat bangga dan bahagia karena dapat menampilkan tarian batik Jlamprang dengan baik dan membuat para tamu undangan terkesan dengan keindahan dan keanggunan tarian tersebut. Ketika saya menari Jlamprang, saya jadi belajar tentang pentingnya memiliki sikap sabar, tekun, bekerja sama dengan kelompok, dan belajar tentang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tarian tersebut, seperti nilai-nilai kesopanan, kesederhanaan, keindahan, dan keharmonisan.

Batik Jlamprang mempunyai peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pekalongan. Kain batik Jlamprang biasanya digunakan dalam bermacam-macam acara, seperti acara pernikahan, khitanan, acara adat, dan lain sebagainya. Batik Jlamprang juga menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat Pekalongan. Jadi, masyarakat Pekalongan banyak dikenal sebagai pengusaha batik. Menurut Sutanto (2019), “Batik Jlamprang merupakan salah satu identitas budaya Kota Pekalongan, yang membedakan masyarakat Pekalongan dengan masyarakat lainnya di Indonesia.”

Salah satu cara mahasiswa dalam melestarikan batik Jlamprang yaitu dengan mengenakan pakaian batik dalam kegiatan perkuliahan. Dalam hal ini tentu sudah saya terapkan sejak awal masuk semester satu hingga semester sekarang dan semester berikutnya. Hal ini juga akhirnya menjadi ciri khas saya dalam berpakaian ketika di Perkuliahan. Ketika seseorang menggunakan batik juga dapat membagikan visualisasi corak yang khas dengan menyimpan makna di balik kebudayaan batik Jlamprang ini kepada teman-teman.

Ketika saya menggunakan batik juga dapat membagikan visualisasi corak yang khas dengan menyimpan makna di balik kebudayaan batik Jlamprang ini kepada teman-teman. Selain itu, kita sebagai generasi muda juga dapat mempromosikan batik secara digital melalui media sosial. Upaya pelestarian batik Jlamprang juga dapat dilakukan oleh pemerintah. Namun, masyarakat juga perlu bekerja sama untuk melestarikan batik Jlamprang ini melalui bidang pendidikan, kegiatan pelatihan, dan promosi digital. Dengan demikian, batik Jlamprang ini dapat terus berkembang dan menjadi salah satu warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Indonesia.


sumber: Google Image Result

Daftar Pustaka

  1. Hartono, B. (2019). Batik Jlamprang: Sebuah Tinjauan Historis dan Filosofis. Jurnal Filsafat dan Sejarah, 12(2), 1-15.
  2. Kusumaningrum, F. (2020). Pelestarian Batik Jlamprang melalui Pendidikan dan Pelatihan. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 5(1), 1-12.
  3. Prabowo, A. (2019). Batik Jlamprang dalam Acara Adat dan Upacara. Jurnal Antropologi dan Sosiologi, 5(1), 1-10.
  4. Rohmah, S. (2020). Makna dan Simbolisme Motif-Motif Batik Jlamprang. Jurnal Seni dan Desain, 5(1), 15-30.
  5. Sari, R. (2018). Batik Jlamprang: Sumber Pendapatan bagi Masyarakat Pekalongan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 10(2), 1-8.
  6. Setiawan, K. (2018). Sejarah Batik Jlamprang di Kota Pekalongan. Jurnal Sejarah dan Budaya, 12(1), 1-15.
  7. Sutanto, H. (2019). Batik Jlamprang: Identitas Budaya Kota Pekalongan. Jurnal Identitas dan Kebudayaan, 3(1), 1-10.
  8. Wijayanti, S. (2020). Pentingnya Melestarikan Batik Jlamprang sebagai Warisan Budaya. Jurnal Budaya dan Pariwisata, 8(1), 1-6.
  9. Wulandari, A. (2018). Proses Pembuatan Batik Jlamprang di Kota Pekalongan. Jurnal Teknologi dan Kejuruan, 10(1), 18-22.