Jurnal pencarian masa depan

WhatsApp Image 2021-04-09 at 7.21.21 PM

Assalamualaikum teman-teman semua disini saya akan share sedikit mengenai pengalaman saya selama berjuang di kampus impian yang Alhamdulillah telah saya dapatkan sekarang ini. Oiya, sebelumnya perkenalkan saya salah satu mahasiswa program studi D3 Akuntansi PSDKU UNS Madiun, salam kenal semua ^^.Disini sudah pada tahu belum ya kalau UNS memiliki kampus PSDKU dimana merupakan kepanjangan dari Program Studi diluar Kampus Utama, nah kampus ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2013 dimana letaknya berada di ibukota kabupaten Madiun yaitu di daerah Caruban. Namun sebelum program studi D3 diadakan,terdapat program studi D2 yang mana terdiri dari jurusan Teknik Informatika dan Teknologi Hasil Pertanian. Lalu mulai tahun 2020 kampus tersebut membuka program studi baru yaitu D3 Akuntasi, D3 Teknik Informatika, dan D3 Teknologi Hasil Pertanian dan untuk program studi D2 telah dihapuskan. Disamping itu, saya pernah mendengar berita bahwa Kampus Madiun juga akan membuka program studi S1 namun untuk kapan nya saya juga belum tahu hehe. Untuk saat ini kampus Madiun sedang dalam perbaikan fasilitas untuk mendukung proses belajar mengajar kelak pada saat sudah tatap muka dimulai. Baiklah cukup segitu aja informasi mengenai kampus saya, sekarang saya akan share sedikit mengenai perjuangan saya dalam memasuki perguruan tingi. Pada tanggal 23 Maret ada berita besar yang mengharuskan seluruh masyarakat baik pekerja, pelajar, pengusaha, maupun pejabat untuk tetap tinggal dirumah (stay at home). Seperti yang telah kita ketahui virus COVID-19 mulai memasuki wilayah Indonesia dimana persebarnya yang begitu cepat dan hingga sekarang ini telah memakan ribuan nyawa dari seluruh belahan dunia. Stay at home membuat saya harus terpaksa belajar dirumah sendiri dan les diluar pun diliburkan. Pada saat itu saya bingung ingin melanjutkan kuliah dimana,orang tua saya menyarankan untuk mencoba Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) dimana ketika saya masuk disalah satu PTK di Indonesia tersebut saya akan mendapat banyak sekali benefit seperti lulus langsung diangkat menjadi ASN, kuliah dibiayai oleh negara dan masih banyak benefit lainnya. Namun pada saat itu saya bingung untuk memilih PTK mana yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan saya. Lalu saya bertanya kepada guru BK dan beliau memberikan saran untuk mencoba salah satu PTK di Jakarta yaitu STIS. Kebetulan pada saat tahun angkatan saya seleksi di PTK tersebut yang harusnya ada 4 tahap namun 1 tahap seleksi harus dihapuskan sehingga hanya ada 3 tahap seleksi. Melihat banyak sekali peminat PTK tersebut yang mana kurang lebih sekitar 15.000 pendaftar dan yang diterima hanya sekitar 600-an mahasiswa. Otomatis saya tidak terlalu berharap diterima disitu dong:”) melihat peminat PTK tidak hanya orang yang seumuran dengan saya, namun juga 2-3 tahun diatas saya dimana ilmu yang mereka dapatkan lebih banyak dari saya. Di sisi lain pada saat saya SMA saya mulai menyukai pelajaran kimia dikelas 12 karena memang guru yang mengajar saya benar-benar membuat saya suka pelajaran kimia ini. Lalu saya juga mencoba UTBK yang mana memilih UNS karena menurut saya UNS merupakan salah satu Universitas yang tergolong unggulan dan saat itu juga saya memikirkan biaya hidup di Surakarta yang tidak jauh berbeda dengan daerah saya. Saya memilih program studi kimia pada fakultas MIPA dan untuk pilihan kedua saya ngikut pilihan orang tua. Lalu kembali ke PTK tadi yaa, jadi waktu tes seleksi tahap 1 itu saya diantar oleh ayah dan ibu saya ke tempat tes tepatnya di Daerah Yogyakarta. Setelah tes selesai nilai langsung muncul dan Alhamdulillah diantara 3 subtes saya berhasil lolos semua,eitss jangan seneng dulu lulus 3 subtes bukan berarti lulus tahap 1 yaa. Seperti yang telah saya paparkan tadi peminat STIS belasan ribu orang dan yang diambil hanya 600 orang. Akhirnya saya pun tetap bersyukur atas hasil yang saya dapatkan biarpun tidak lulus ditahap 1 ini. Yang penting dicoba dulu ya teman-teman nggak usah peduli siapa saingan kita dan seberapa pintar saingan kita, karena rezeki orang itu tidak pernah tertukar,percaya dehJ. Orang tua saya pun tidak kecewa dengan hasil yang saya dapatkan, malah setelah tes itu saya diajak jalan-jalan ke Malioboro hehe… Intinya cukupkan hidupmu dengan bersyukur ya teman-teman, masih banyak orang-orang dibawah kita dan juga masih banyak orang-orang yang sayang sama kita <3. Setelah tes di STIS tersebut 4 atau 5 hari kemudian saya mengikuti tes UTBK. Namun untuk tes UTBK ini hasil tidak langsung keluar, saya harus menunggu sampai hari terakhir tes berakhir dan masih menunggu lagi untuk proses penilaian yang mana saat itu sekitar kurang lebih 3 minggu. Dan pada saat hari-H pengumuman UTBK saya mencoba untuk menenangkan diri untuk jangan pernah kecewa terhadap hasil yang saya dapatkan. Setelah saya melihat hasil UTBK saya awalnya sempat tidak percaya dengan keputusan pihak ltmpt dimana hasil yang saya dapatkan bercap merah yang artinya saya belum ditakdirkan untuk berkuliah di program studi kimia. Namun sebelum pengumuman UTBK tersebut saya disarankan oleh nenek saya untuk mencoba mendaftar di PSDKU Madiun yang mana pada saat itu baru pertama kali membuka penerimaan mahasiswa baru prodi D3. Saya pun mencoba untuk mendaftar di kampus tersebut dan Alhamdulillah rezeki saya tidak jauh-jauh dari orang tua. Sebuah kebetulan rumah nenek saya tidak terlalu jauh dari kampus sehingga biaya hidup akan terasa akan lebih ringan. Disamping itu mandiri tak bisa lagi masuk dalam opsi, karena saya yang sadar diri dengan keadaan perekonomian yang kurang stabil. Menghabiskan banyak uang hanya untuk sekedar memuaskan ego tentu saja bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan. Terimakasih teman-teman semua yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca sedikit mengenai pengalaman saya. Semoga kalian yang sedang berjuang ditahun ini, diberikan jalan yang terbaik untuk segalanya dan jangan pernah kecewa terhadap takdir yang diberikan oleh Allah SWT karena Allah tahu atas segala yang kita butuhkan bukan kita inginkan, sekian Wassalamualaikum WR.WB.

Salam hangat, 09 April 2021

Penulis