Jerit Pilu dari Tanah Sumatera

Di tanah Sumatra,

di mana pepohonan dulu berdoa di bawah cahaya pagi

kini bumi retak oleh jerit yang tak pernah selesai

hujan turun seperti ribuan luka yang dibuka bersamaan,

membanjiri sungai yang kelelahan menahan beban derita.

Banjir merayap masuk ke rumah-rumah kecil,

mengangkat perabot, memisahkan keluarga,

menghapus jejak masa lalu yang masih hangat di dinding.

Di dalam arus keruh itu,

ada nama-nama yang hanyut tanpa sempat berpamitan,

ada tangan kecil yang tak berhasil diraih,

ada napas terakhir yang tenggelam dalam senyap.

Di punggung bukit yang rapuh,

tanah akhirnya menyerah menyerah pada kelelahan yang panjang.

Longsor turun seperti malam yang tiba terlalu cepat, menelan tenda, menutup jalan, dan bersama debu yang bergulung,

terkuburlah cerita-cerita yang belum selesai ditulis.

Ada keluarga yang kini hanya bisa memanggil nama seseorang yang tak lagi menjawab.

Ada seorang ibu yang kehilangan seluruh dunianya dalam satu detik yang tak terduga.

Ada ayah yang menggali puing dengan harapan setipis doa yang bergetar.

Angin pun membawa kabar kematian itu

dari lembah ke lembah,

bukan dengan teriakan,

melainkan dengan desau lirih

yang hanya dimengerti mereka yang sedang berkabung.

Namun di luar sana,

dunia tetap sibuk merayakan dirinya sendiri

Para pejabat turun ke lokasi,

berdiri rapi di tengah puing,

mengucap empati yang telah dilatih.

Televisi terus bersiaran

seolah tak ada yang peduli hari itu.

Tak ada bencana nasional,

tak ada sorotan kamera yang merekam air mata suci dari mereka yang tinggal di tenda darurat.

Sumatra seakan jadi pulau yang disembunyikan

dibiarkan menanggung deritanya sendiri.