Sumatra terdiam terlalu lama
Tanah rapuh kehilangan daya
Hutan gundul, tak sempat dijaga
Lalu hujan turun membawa petaka
Sungai meluap membawa ingatan silam
Rumah, jalan, dan doa hanyut beriringan
Lereng menyerah pada luka yang dipendam
Karena terlalu lama dipaksa bertahan sendirian
Ini bukan sekadar murka cuaca atau hujan
Melainkan luka yang terkumpul perlahan
Saat alam dilukai oleh keserakahan
Dan nyawa dianggap angka dalam laporan
Di tengah lumpur seorang ibu menggenggam harapan
Memeluk sisa hidup tanpa perlindungan
Tak ada pidato, tak ada pembenaran
Hanya ketakutan yang nyata dan kesunyian
Jika masih ingin bertanya tentang kesalahan
Jawabannya tumbuh dari pembiaran
Sumatra runtuh bukan karena kebetulan
Melainkan karena manusia lupa batas kemanusiaan
