Jalan masa depan dari Tuhan

Ujian Nasional telah dilaksanakan, masa SMA pun akan segera berakhir dan kita dihadapkan pada sebuah pilihan entah itu melanjutkan pendidikan atau bekerja, setiap siswa pasti sudah mempunyai pilihannya masing-masing dan berusaha mempersiapkan pilihan tersebut secara maksimal, begitu juga dengan diri saya, saya telah memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi kedinasan yang ada di Indonesia, ketika itu sudah menjadi sebuah target maka saya juga harus mempersiapkannya secara maksimal. Pada saat itu pendaftaran memang belum dibuka namun saya sudah mulai mempersiapkan diri untuk tes samapta seperti lari, push up, sit up, pull up setiap sore hari, berlatih soal-soal, menerapkan pola hidup sehat agar lancar ketika tes kesehatan nanti dan melengkapi berkas-berkas yang akan digunakan untuk mendaftar. Walaupun persiapan secara teori dan fisik sudah saya lakukan tetapi saya masih merasa kurang maksimal, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan salah satu bimbel khusus kedinasan yang ada di indonesia yang dimana tempat dari bimbel tersebut lumayan jauh dari kota tempat saya tingal, dari sini saya mulai belajar tentang menghargai makna dari sebuah perjuangan, seorang anak yang belum resmi lulus dari SMA sudah merantau ke kota orang sendirian tanpa ada satupun kerabat atau teman yang dikenal, demi memperjuangan apa yang ia cita-citakan.

Waktu pun terus bergulir, hari demi hari berganti, tibalah waktunya tes masuk perguruan tinggi kedinasan itu diselenggarakan. Dimulai dari tes tertulis, kemudian tes kesehatan, dan masih ada lagi tes samapta, psikotes, serta wawancara yang dimana itu jadikan satu waktu dalam pantukhir. Serangkaian tes sudah saya jalani, tibalah waktu yang sangat menegangkan dalam hidup saya, pengumuman pantukhir. Upacara penutupan telah dilaksanakan, pengumuman kelolosan dibacakan, nama saya disebutkan dalam pengumuman tersebut yang artinya saya tidak lolos, iya saya tidak lolos. Kecewa, sedih, marah itu sudah pasti, apalagi melihat teman-teman seperjuangan dapat menggapai keberhasilannya namun disatu sisi perjuangan saya harus terhenti sampai disini, padahal kurang satu langkah lagi bagi saya dapat menggapai apa yang saya cita-citakan namun sayang, Tuhan belum merestuinya.

“Masih ada waktu, saya akan mencoba lagi tahun depan” ucap saya pada waktu itu, iya saya tidak kuliah ditahun itu, saya masih berambisi untuk meraih cita-cita saya untuk berkuliah di salah satu sekolah perguruan tinggi kedinasan tersebut. Namun, strategi saya ditahun berikutnya akan berbeda dengan tahun kemarin, jika tahun kemarin saya sangat idealis dengan tidak mendaftar perguruan tinggi negeri maka ditahun ini saya akan mendaftar. Namun, ada beberapa kendala ketika saya memutuskan untuk mendaftar perguruan tinggi negeri, salah satunya adalah saya belum dapat memutuskan prodi mana yang menjadi pilihan saya. Di suatu kesempatan saya bertemu dan berbincang-bincang dengan seorang teman, dia bercerita kalo ada prodi baru di salah satu perguruan tinggi negeri yang katanya masih berhubungan dengan perguruan tinggi kedinasan yang saya cita-citakan. Akhirnya, saya mencari informasi tentang prodi tersebut, semakin saya mendalami informasi semakin saya tertarik. Ketika sedang menjelajahi sosial media saya mendapat informasi jika prodi tersebut dibuka dan lulusan tahun kemarinpun juga dapat mendaftar hanya dengan menggunakan nilai raport, ini menarik. Tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar dan beruntungnya saya diterima, benar saya diterima menjadi salah satu bagian keluarga dari Mahasiswa perguruan tinggi negeri terbaik yang ada di Indonesia tersebut.

Sudah menjadi Mahasiswa tetapi bukan berarti cita-cita yang dulu hilang begitu saja, cita-cita itu masih membara dalam diri, berharap itu terkabul ditahun ini. Dikarenakan wabah pendemi yang melanda, semua tes yang akan diselenggarakan perguruan tinggi kedinasan jauh berbeda dibanding tahun kemarin, ada beberapa tes yang dihilangkan demi kesehatan dan keselamatan para pendaftar. Namun, tes akan tetap diselenggarakan. Tes demi tes telah bergulir, semua masih sama seperti yang dulu pernah saya ikuti tetapi bedanya kali ini para peserta harus menerapkan protokol kesehatan. Rangkaian tes telah saya ikuti, saya lolos tes demi tes dan bertemu dengan pantukhir kembali, rasa trauma dari tahun lalu masih menghantui. Seperti yang sudah saya ceritakan diatas, rangkaian tes kali ini berbeda dengan tahun lalu karena pandemi, pantukhir dilakukan secara online tidak seperti tahun lalu yang dibacakan didepan calon pendaftar langsung. Hari pantukhirpun datang, pengumuman peserta yang lolos sudah diupload di web, dengan memanjatkan doa-doa, dengan rasa penuh harap, saya sangat berharap agar lolos ditahun ini, tahun kedua saya mendaftar pada perguruan tinggi kedinasan tersebut. Pengumuman dibuka akan tetapi, tidak ada nama saya disana, yang berarti saya gagal untuk kedua kalinya, ditahun kedua dengan penuh rasa kecewa saya kembali mengulangi kegagalan ditahun lalu.

Kenapa semesta tidak mengaaminkan dan Tuhan tidak mengabulkan doa-doa yang saya panjatkan, apa kurangnya usaha yang telah saya lakukan. Pertanyaan yang berkali-kali muncul dikepala, hidup terasa tidak baik-baik saja waktu itu. Namun, lambat laun saya dapat berdamai dengan kenyataan tersebut, perlahan saya juga mendapat jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan saya di masalalu, apa mungkin menjadi seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri tersebut adalah jawaban lain atas doa-doa yang telah saya panjatkan, apakah mungkin ini adalah jalan masa depan yang diberikan Tuhan agar saya dapat berkembang dan berproses menjadi manusia yang lebih baik. Pada akhirnya saya sadar, tidak berguna menghakimi kenyataan yang sudah menjadi takdir untuk diri kita, yang terpenting adalah kita harus selalu memberikan yang terbaik apapun jalan yang diberikan oleh Tuhan. Jika memang disini sudah menjadi takdir saya, saya akan memberikan yang terbaik untuk diri saya dan bermanfaat untuk lingkungan, semoga saya dapat berkembang, berproses, berprestasi, bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain, membanggakan orang tua serta Universitas.

Harapan terdekat saya adalah mempunyai banyak teman sehingga saya dapat belajar banyak hal dari teman-teman saya tersebut. Harapan saya kedepannya ketika saya lulus nanti saya ingin menjadi seorang Aparatur Sipil Negara yang bertanggung jawab, berguna, bermanfaat untuk masyarakat dan bagi negara serta, saya juga ingin membangun berbagai usaha nantinya. Pesan dari penulis untuk siapapun yang membaca tulisan ini, bagaimanapun kehidupan yang kita jalani, seberat apapun kita menjalaninya, semesta berpihak kepada kita atau tidak, Tuhan merestui keinginan kita atau tidak. Kita harus tetap menjalani kehidupan ini, harus tetap berjalan, tidak apa pelan yang penting harus lurus kedepan, karena kita tidak tau ada kejutan apa diujung jalan yang telah kita lalui ini. Seberat apapun suatu masalah harus kita hadapi bukan hindari dan ada waktu dimana kita akan menoleh ke belakang seraya berkata “Ternyata saya bisa melewati ini semua” dan saat kata itu terucap kita sudah menjadi seseorang yang hebat dan bangga dengan diri kita sendiri. Tetap berjalan kawan!. Salam.WhatsApp Image 2021-03-01 at 22.58.00

3 Likes