Ironi Sang Pembela

Air meluap, tanah runtuh,

desa tenggelam, nyawa melayang,

pemerintah datang dengan jas hujan baru,

membawa kamera, bukan solusi.

“Saudara-saudara, kami prihatin,”

ucap pejabat di depan mikrofon,

sementara rakyat menggigil lapar,

menunggu nasi bungkus yang tak kunjung tiba.

Hutan ditebang atas nama pembangunan,

izin tambang diteken tanpa ragu,

ketika bukit runtuh menelan rumah,

mereka sibuk menyusun laporan indah.

Banjir jadi panggung politik,

longsor jadi bahan pidato,

janji rehabilitasi bergema di televisi,

tapi pohon tetap hilang, sungai tetap marah.

Rakyat menambal atap dengan terpal,

pemerintah menambal citra dengan kata-kata,

di antara lumpur dan tangisan,

yang tersisa hanyalah ironi.