Ini Dia Manfaat Formal Analisis Komponen Makna yang Harus Kalian Ketahui!

Halo Sobat Mijil!

Pada mata kuliah Semantik kita semua sudah mempelajari tentang Analisis Komponen Makna. Pernah ga sih kalian bertanya-tanya sebenarnya apa manfaat analisis komponen makna itu? Saya pribadi ketika mempelajari bab Analisis Komponen Makna selalu bertanya-tanya terkait manfaat analisis komponen makna tersebut.
Nah untuk itu, yuk kita sama-sama bahas tentang Manfaat Formal Analisis Komponen Makna di bawah ini!

Berbicara tentang manfaat pasti Sobat Mijil sudah mengetahui bahwa manfaat itu merupakan proses yang bisa menghasilkan sesuatu yang berguna. Ini berarti bahwa analisis komponen makna tentunya dapat memberikan sesuatu yang berguna untuk analisis semantik. Apa sih manfaatnya? Sebelum mengetahui itu, saya akan mengajak Sobat Mijil untuk mengingat kembali tentang Analisis Komponen Makna.

Menurut Aminuddin (2008:128) komponen merupakan keseluruhan makna dari suatu kata, terdiri atas sejumlah elemen, yang mana antara elemen satu dengan elemen yang lainnya memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Dari pengertian komponen tersebut, komponenen makna atau komponen semantik menunjukkan bahwa setiap kata atau unsur leksikal itu mencakup satu atau lebih suatu unsur yang bersama-sama membentuk makna kata tersebut. Analisis ini mengumpamakan setiap unsur leksikal mempunyai atau tidak mempunyai ciri yang dapat membedakannya dengan unsur yang lain.

Setelah kita ingat kembali tentang analisis komponen makna, saya berasumsi bahwa manfaat dari analisis komponen makna ialah untuk membedakan unsur makna atau memberikan jawaban tentang hubungan antara makna satu dan makna yang lain. Namun, pendapat yang bersifat asumsi belum tentu terjamin kebenarannya. Oleh karena itu, kita akan membahas manfaat formal analisis komponen makna berlandaskan pada pendapat yang dikemukakan oleh J.D. Parera.
Berikut merupakan beberapa manfaat analisis komponen makna untuk analisis semantik kalimat maupun semantik ujaran:

1) Adanya analisi komponen makna kata dapat menjawab tentang mengapa beberapa kalimat itu dikatakan benar, dan mengapa beberapa dikatakan tidak benar? mengapa pula beberapa kalimat memiliki sifat anomali?
Pada manfaat analisis komponen makna yang pertama ini mungkin muncul pertanyaan dari Sobat Mijil “yang dimaksud kalimat benar dan tidak benar itu seperti apa sih?” dan “kalimat yang bersifat anomali itu apa? contohnya bagaimana?”

Kalimat yang dikatakan ‘kalimat benar’ adalah kalimat yang kebenarannya diakui dan berlaku dimana saja.
Contohnya:
• Pacarnya adik perempuan saya seorang laki-laki.
• Teman saya yang sedang mengandung itu seorang wanita.
Kedua contoh kalimat tersebut adalah sebuah kebenaran yang umum di masyarakat. Kalimat pertama menunjukkan bahwa perempuan berpasangan dengan laki-laki, dan hal tersebut diakui di mata umum. Begitu juga dengan contoh yang kedua, seseorang yang mengandung itu sudah dipastikan bahwa Ia adalah seorang wanita, karena kodratnya demikian.

‘Kalimat tidak benar’ adalah kalimat yang bertentangan antara yang ada dalam diri dan yang diakui di masyarakat.
Contohnya:
• Bibi saya seorang laki-laki.
• Pria itu melahirkan.

Dalam silsilah keluarga ‘Bibi’ adalah seorang perempuan, jika dikatakan Bibi adalah seorang laki-laki maka kalimat tersebut berkontradiktoris in terminis. Kalimat kedua juga sama, di masyarakat kita tahu bahwa seseorang yang melahirkan pastinya adalah seorang wanita bukan seorang pria.

‘Kalimat yang memiliki sifat anomali’ yakni kalimat yang tidak memiliki kaitan atau kecocokan satu sama lain.
Contohnya:
• Meja itu disembelih.
• Karyawan supermarket dekat rumah saya itu segitiga sama kaki.
Apakah Sobat Mijil pernah melihat meja disembelih? Tentu saja tidak, bukan? Karena ‘Meja’ dan ‘sembelih’ tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Begitu juga dengan ‘Karyawan supermarket’ dan ‘segitiga sama kaki’ keduanya tidak berkecocokan.

2) Dengan adanya analisis komponen makna, kita dapat memperkirakan hubungan antara makna. Dimana hubungan tersebut dibedakan menjadi 5 jenis, diantaranya:
Kehiponiman (yaitu hubungan dua kata, antara makna yang universal dan makna yang spesifik)
Contoh: “burung” dan “merpati”
Keterbalikan (yaitu hubungan berkebalikan atau berlawanan)
Contoh: “bos” dan “bawahan”
Keantoniman kontradiksi (hubungan yang bertentangan antara komponen komposisi semantik bersifat mutlak)
Contoh: “hidup” dan “mati”
Keantoniman kontrer (yaitu hubungan yang terdapat skala komposisi komponen semantik)
Contoh: “tinggi” dan “pendek” maka dikatakan menjadi “tidak tinggi tidak pendek”.
Kesinoniman (yaitu hubungan yang memiliki kesamaan atau identik)
Contoh: “sombong” dan “angkuh” keduanya memiliki makna yang sama.

3) Komponen makna dapat dipakai sebagai alat untuk menguji bahwa kalimat-kalimat bersifat analitis, bersifat kontradiktoris in terminis, dan bersifat anomali.

Konklusi
Pendapat tentang manfaat formal analisis komponen makna J.D. Parera tersebut dapat memberikan jawaban untuk kita bahwa analisis komponen makna dapat memberikan beberapa manfaat untuk analisis semantik. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa asumsi saya di awal tadi tidak sepenuhnya salah, karena pada intinya manfaat analisis komponen makna yakni untuk membedakan unsur makna atau memberikan jawaban tentang hubungan antara makna satu dan makna yang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Chaer (2009:116-117), Ia mengatakan bahwa manfaat analisis komponen makna salah satunya untuk membedakan makna suatu kata dengan kata yang lain.

Itu dia manfaat formal analisis komponen makna yang harus kalian ketahui. Saya berharap artikel ini dapat dipahami oleh Sobat Mijil. Mohon maaf apabila masih banyak kekeliruan, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan💖
Terima kasih!

Sumber Referensi:
Ruriana, Puspa. (2014). METODE ANALISIS KOMPONEN MAKNA. Diakses dari METODE ANALISIS KOMPONEN MAKNA – Pusat Bahasa Al Azhar.
Parera. (2009). Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.