Ingin Menjadi Kebanggaan Keluargaku, tetapi Perjalanannya Berlika-liku

Sebagai seorang pelajar yang baru saja pindah ke Kebumen, Jawa Tengah, setelah menghabiskan masa pendidikan dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama di Bekasi, Jawa Barat, saya tidak pernah membayangkan akan bersekolah di SMA ini. Tahun ajaran baru dimulai dengan serangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yang sebelumnya didahului dengan Pra-MPLS. Pagi itu, saya berangkat bersama seorang teman yang belum saya kenal, tanpa diantar orang tua. Saya menduga orang tua sengaja melakukan ini agar saya bisa mendapatkan teman baru. Benar saja, dalam perjalanan, kami berkenalan dan ternyata sekelas. Kekhawatiran awal saya tentang kesepian perlahan menghilang.

Setelah MPLS selesai, saya menghadapi beberapa tantangan. Mayoritas teman-teman di sini berbicara dengan bahasa Jawa. Meskipun saya bisa memahami percakapan mereka, saya kesulitan untuk membalasnya. Selain bahasa, saya juga harus beradaptasi dengan cita rasa makanan di daerah ini yang cenderung manis, berbeda dengan makanan asin yang biasa saya konsumsi. Minggu pertama pembelajaran membawa kejutan karena saya ditempatkan di kelas yang berisi siswa-siswa dengan prestasi akademik tinggi. Awalnya, saya merasa tertekan karena lingkungan ini penuh dengan ambisi dan tekad yang kuat. Di satu sisi, saya senang berada di lingkungan yang positif, namun di sisi lain, saya merasa inferior karena kemampuan mereka yang luar biasa. Namun, hal itu tidak mengurangi semangat saya untuk belajar dan meraih nilai yang baik. Saat pengumuman nilai rapor, sistem kurikulum Merdeka memisahkan kelas 11 berdasarkan pilihan mata pelajaran yang diambil. Memasuki kelas 11 dengan lingkungan pertemanan baru ternyata tidak terlalu sulit. Saya aktif berpartisipasi di kelas dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Rohis untuk meningkatkan kemampuan non-akademik. Saya juga berusaha meningkatkan prestasi akademik dengan mengikuti les dan belajar materi UTBK sebagai persiapan untuk menghadapi Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Rutinitas saya begitu padat, berangkat pukul 07.00 dan pulang pukul 15.30, dilanjutkan dengan les dan rapat jika ada. Meskipun melelahkan, saya tetap menikmatinya.

Tibalah masa pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui SNBP. Pengumuman siswa yang memenuhi syarat membuat saya sempat cemas. Syukurlah, nama saya termasuk dalam daftar tersebut. Kebahagiaan itu kemudian diikuti kebingungan dalam memilih kampus dan jurusan yang tepat. Saya berdiskusi dengan guru Bimbingan Konseling (BK) mengenai nilai saya dan dengan orang tua mengenai preferensi kampus. Berdasarkan nilai rata-rata, mata pelajaran Ekonomi menjadi yang tertinggi. Awalnya, saya tertarik pada jurusan Ilmu Sosial dan Kesejahteraan Sosial, tetapi karena nilai Sosiologi saya kurang tinggi, saya memutuskan untuk memilih jurusan Ekonomi. Sebenarnya, saya ingin melanjutkan studi di Universitas Padjadjaran (UNPAD), namun beberapa pertimbangan mendorong saya untuk memilih PTN di Jawa Tengah. Menyadari keterbatasan nilai saya, saya mempertimbangkan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Tidar (UNTIDAR). Setelah berdiskusi dengan orang tua, saya akhirnya memutuskan untuk memilih UNTIDAR. Awalnya, saya tertarik pada program studi S1 Pariwisata, tetapi pada akhirnya saya memilih S1 Manajemen sebagai pilihan pertama dan S1 Ekonomi Pembangunan sebagai pilihan kedua.

Pada hari Selasa, 18 Maret 2025, pukul 15.00 WIB, pengumuman SNBP diumumkan, bertepatan dengan selesainya ujian sekolah. Perasaan cemas dan takut bercampur aduk. Saya memberanikan diri membuka link pengumuman tersebut tanpa ditemani orang tua, dan hasilnya, saya diterima di program studi S1 Manajemen, pilihan pertama saya. Kebahagiaan meluap atas perjalanan panjang ini. Namun, saya juga merasa sedih melihat teman dekat saya tidak lolos. Semua usaha, doa, dan dukungan dari orang-orang terdekat menjadi bagian penting dari keberhasilan ini. Penerimaan di universitas ini hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang. Saya berharap dapat terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi positif bagi orang lain.