Sumber gambar: Pinterest
Ketika matahari yang perlahan tenggelam dan suasana yang mulai menggelap. Aku, duduk termenung. Berdiam diri di sebuah tempat, tempat yang tersisa dari sebuah bencana yang terjadi. Aku ingat, di mana saat air mulai memasuki kediaman rumahku, disaat kami sedang menikmati waktu bersama dengan keluarga. Aku, ayah, ibu, dan semua yang ada di sana, berlarian luntang-lantung keluar rumah entah ke mana. Mencari pertolongan pun sudah tidak mungkin rasanya. Aku dan keluargaku hanya berusaha untuk mencoba bertahan dari apa yang terjadi.
Air yang terus mengalir menjadi semakin deras, membawa semua yang bisa ia bawa. Rumah, kendaraan, kayu, batu, lumpur dan segala kehidupan yang berarti, ia bawa dengan arusnya yang tidak biasa. Air yang keruh, terus menghatam semua makhluk yang hidup ataupun mati menuju entah ke mana dan entah kapan surutnya. Semua yang ada, semua yang dimiliki, seketika semua lenyap, hanyut terbawa oleh derasnya arus banjir.
Orang-orang berkata, jika bencana ini terjadi karena curah hujan yang tak biasa, atau karena alam yang marah. Namun, aku tahu bukan hanya karena itu bencana terjadi. Aku ingat, saat sebelum bencana ini terjadi, bagaimana hutan yang berada di hulu bukit itu disakiti. Pohon yang ditebang secara asal, secara ilegal, ataupun setelah menebangnya mereka tidak memiliki niat untuk bertanggung jawab. Truk-truk besar yang melintas, membawa tanah dan kayu tanpa henti, hanya untuk transaksi sementara.
Aku masih termenung, memikirkan atas apa yang terjadi. “Apakah ini salah alam? Atau salah kita yang lupa pada alam?” gumamku. Aku masih belum menemukan jawabannya, sebagian orang ada yang menyalahkan pemerintah, sebagian lagi ada yang menyalahkan perusahaan besar, dan sebagian lagi ada yang menyalahkan diri sendiri. Semua merasa benar, semua merasa bersalah. Tetapi, bisa saja sekumpulan orang yang tidak memiliki rasa simpati hanya merasa, bencana ini hanya bencana biasa. Padahal, bencana yang mereka kira hanya biasa nyatanya bencana ini banyak menelan korban jiwa.
Semakin aku pikirkan, semakn aku terdiam. Mungkin bencana ini bukan hanya soal siapa yang salah. Namun, tentang bagaimana setiap keputusan manusia ingin sekecil apapun, jejak yang tidak hanya terasa di hari ini tetapi bisa saja terasa di masa depan anak dan cucu mereka.
Di bawah langit yang kini sudah menggelap sepenuhnya, aku bangkit, menatap hamparan rusak yang terjadi di depanku. Saat itu aku berjanji, akan berkisah untuk mengajak setiap orang mendengar suara dari alam yang selama ini terabaikan. Bahwasanya sebuah bencana bukan hanya hasil dari sebuahh hujan, tetapi hasil dari pilihan yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Sampai, semuanya runtuh tak bersisa.
