Hujan yang tidak pernah bersalah

Tulisan Cerpen


Sumber gambar: https://share.google/xn7MXUHxzXffi0DsQ

Malam itu hujan turun begitu deras. Indah sudah terbiasa dengan datangnya hujan. Biasanya ia cukup menutup jendela, lalu tidur sambil mendengar gemericik air. Tapi malam itu sangat berbeda, jam dua dini hari ia terbangun karena suara yang bukan lagi deru air, melainkan seperti ribuan truk melaju bersamaan yang seperti ingin menghantam. Tanah bergetar, Anaknya yang sedang tidur terbangun dan menangis memanggil “Ibu…”.

Dengan menggendong anaknya yang berusia empat tahun Indah berlari. Di kegelapan ia berlari, ia melihat air setinggi rumah datang, membawa pohon-pohon, batu, dan kayu gelondongan. Dia menggendong anaknya dan terus berusaha berlari.

Indah berhasil memegang sebatang pohon yang masih berdiri miring. Anaknya terus menangis di pelukannya mereka sampai basah kuyup. Di kejauhan, dia mendengar jeritan tetangga, suara kayu patah, dan gemuruh longsor yang terus datang.

Pagi harinya, Indah masih memeluk anaknya dia berhasil selamat. Tapi ia melihat kampungnya sudah tidak ada lagi. Hanya puing-puing kayu dan lumpur cokelat yang menutupi segalanya. Rumahnya dan rumah tetangga sudah lenyap.

Relawan datang dan membawa Indah dan anaknya ke Pos. Indah dan anaknya tiba di pos dan beristirahat. Salah seorang relawan bertanya pada Indah.

“Bu, keluarga Ibu apakah ada yang hilang?”

Indah tidak menjawab langsung. Ia menarik nafas lalu berbicara

“aku tidak tahu siapa lagi yang hilang dan yng aku tahu, Yang hilang adalah waktu yang pernah ada. Waktu ketika hutan masih hijau. pohon pohon belum ditebangi secara liar dan waktu ketika kami percaya janji-janji mereka.”

Relawan itu diam. Dia tidak tahu harus berkata apalagi . Indah menatap anaknya yang sudah tertidur di pangkuannya karena kelelahan.

“kami semua hilang. Kami yang dulu percaya akan janji-janji kalian. Kami yang diam saat pohon-pohon ditebang satu per satu. Dan sekarang, yang tersisa hanya cerita kenangan tentang rumah yang pernah ada, dan hutan yang pernah melindungi kami.”

“Maafkan Ibu nak,” bisiknya pelan pada anaknya yang sudah tertidur lelap. “Ibu lupa mengajarkanmu bagaimana cara untuk menjaga alam kita. Sekarang alamlah yang mengajarkan kita, dengan cara paling kejam dan tidak tersangka.” Dengan wajah yang lelah Indah berusaha untuk tidur. Di bawah pos itu ada seorang ibu dan anak yang menunggu harapan akan esok hari yang tidak menentu.