Hujan Yang Tak Pernah Diam

Hujan turun tanpa henti dari semalam. Air mengalir dengan deras di jalanan desa kecil di kaki gunung. Lintang menatap keluar jendela rumah kayunya, dan ia begitu cemas. Sungai yang biasanya tenang kini murka, membawa puing-puing kayu dan tanah yang longsor dari hutan di atas bukit.

Dia ingat kata-kata ayahnya “Hutan itu paru-paru kita, nak,jangan biarkan dibabat habis.” Namun sekarang, rumah-rumah di sekitarnya terancam hanyut.Lintang berlari ia menolong tetangganya yang terjebak di rumah mereka. Dengan kantong plastik yang berisi dokumen penting dan makanan seadanya, ia melintasi genangan air yang hampir mencapai pinggangnya.

Anak-anak menangis, orang tua berdoa, dan semua berusaha bertahan.Di tengah kekacauan itu, Lintang melihat seorang pemuda dari desa sebelah yang berusaha menahan longsor dengan sekadar batang pohon. “Kita harus bersatu!” teriak Lintang. Tidak ada yang menyalahkan siapa pun mereka semua sadar, ini bukan kesalahan satu orang.

Alam memang marah, tapi manusia juga ikut bersalah karena menebang hutan sembrangan dan mengabaikan peringatan.
Setelah beberapa jam, air mulai surut. Desa rusak, tapi mereka selamat. Lintang duduk di tanah basah, menatap sungai yang kembali tenang.

Hatinya berat, tapi ia sadar satu hal jika mereka belajar dari kejadian sekarang, menjaga alam bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Hujan mungkin datang lagi, tapi desa itu sudah tahu, mereka harus suda siap dengan apa yang akan terjadi dan harus mulai bertindak sebelum bencana berikutnya.