Hujan Tidak Pernah Bersalah

Hujan turun sejak pagi, tidak deras, tetapi tidak juga berhenti. Langit Sumatra tampak gelap dan terasa berat. Rafi berdiri di depan rumah kayunya, menatap sungai yang berubah menjadi arus cokelat yang ganas. Airnya tinggi, berputar cepat, membawa lumpur, sampah, dan kayu gelondongan berukuran besar yang saling bertabrakan.

“Airnya naik cepat sekali,” kata Rafi dengan suara gemetar.

Ayahnya menatap sungai itu lama. “Kalau kayu-kayu itu sudah turun,” katanya pelan, “artinya hulu sudah benar-benar rusak.”

Belum sempat Rafi bertanya, air meluap ke halaman. Gelombang kecil menghantam tiang rumah. Suara benturan kayu terdengar keras, membuat dada Rafi berdebar. Ibu bergegas mengangkat barang-barang. Adik Rafi menangis saat air mulai membasahi buku-buku sekolahnya.

Mereka mengungsi dengan langkah cepat. Di jalan, Rafi melihat kayu gelondongan tersangkut di jembatan kecil. Air semakin tinggi, tidak bisa lewat, lalu meluap ke rumah-rumah warga. Teriakan orang-orang bercampur dengan suara arus yang menghantam apa saja di depannya.

Di balai desa, suasana kacau. Pakaian warga basah dan penuh lumpur. Beberapa orang menatap sungai dari kejauhan, wajahnya pucat.

“Ini bukan cuma hujan,” kata seorang bapak dengan suara bergetar.

“Hutan di atas sana sudah habis,” sahut yang lain.

Rafi teringat perbukitan yang dulu hijau. Kini banyak tanah terbuka. Pohon-pohon besar yang dulu menahan air kini berubah menjadi gelondongan yang menghantam desa mereka. Sungai yang dulu tenang kini menjadi jalur kehancuran.

Tak jauh dari desa mereka, longsor terjadi. Tanah dan batu runtuh menutup jalan. Sawah rusak. Air sungai semakin keruh. Semua saling terhubung, seperti luka yang terus melebar.

Malam datang bersama listrik yang padam. Hujan masih turun. Dari jendela balai desa, Rafi melihat satu lagi kayu gelondongan melaju deras, menghantam tiang jembatan hingga berguncang.

Rafi mengepalkan tangan. Ia sadar, bencana ini bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari keputusan manusia, dari pohon yang ditebang tanpa memikirkan akibat, dan dari tanah yang dibiarkan kehilangan kekuatannya.

Hujan boleh turun dari langit, tetapi banjir yang membawa kayu dan kehancuran ini adalah hasil dari kesalahan yang dibiarkan terlalu lama.

Di tengah suara air yang menderu, satu pertanyaan terus menggema di kepala Rafi, lebih keras dari benturan kayu di sungai, “Bencana ini, salah siapa?”