Hujan mulai mengguyur sejak sore, pelan namun pasti, bagaikan saran yang diabaikan. Malam tiba dengan suara gemuruh. Sungai Batang Lurah yang biasanya mengalir tenang tiba-tiba berubah menjadi makhluk besar yang menakutkan. Airnya meluap, membawa serta tanah, kayu, dan kenangan yang telah terpendam selama bertahun-tahun. Desa Bukit Lestari terbangun oleh teriakan dan suara bangunan yang runtuh.
Sari menggandeng anaknya, Raka, berlari menerjang hujan. Kakinya terperosok dalam lumpur, napasnya tersengal-sengal. Ia menoleh ke belakang, melihat rumah panggung milik orangtuanya terhantam oleh arus. Dalam sekejap, rumah itu miring dan kemudian roboh. Sari hanya bisa memeluk Raka, menahan air mata yang bercampur dengan air hujan.
Di bukit belakang desa, air mengalir deras tanpa ada halangan. Bukit itu dulunya hijau dan sejuk, tempat penduduk mengambil kayu secukupnya dan menggembalakan ternak. Kini, warnanya cokelat kusam, botak, dan penuh bekas galian serta jalan tanah yang disebabkan oleh alat berat. Tampaknya bukit itu telah menyerah.
Di pagi hari, desa berubah menjadi lautan lumpur. Warga berkumpul di tempat pengungsian dengan wajah yang lelah. Anak-anak menangis karena kelaparan, sedangkan orang tua memandang kehancuran dengan tatapan kosong. Di sudut tenda, Pak Marno duduk memeluk lututnya. “Saya sudah tinggal di sini selama empat puluh tahun,” ujarnya kepada siapa saja yang mau mendengarkan, “banjir memang ada, tetapi tidak pernah semengerikan ini. ”
Perbincangan mengenai penyebab bencana mulai muncul. Beberapa orang beranggapan ini adalah kemarahan alam, sementara yang lain menyalahkan cuaca ekstrem sebagai penyebab utama. Namun, ada juga pembicaraan lain yang lebih kritis. “Hutan kita sudah musnah,” kata seorang pemuda. "Itulah akibat dari tambang tersebut. " Ucapan itu terasa berat di udara, tapi tidak ada yang berani menjawab dengan tegas.
Di televisi posko bantuan, berita nasional sedang tayang. Seorang pejabat berpakaian rapi menjelaskan tentang penilaian dan bantuan yang sedang dilakukan. Seorang ahli lingkungan mengungkapkan bahwa kerusakan di hulu adalah masalah yang sangat mendesak. Penduduk hanya bisa menyaksikan dengan diam. Kata-kata yang muncul di layar tidak bisa mengeringkan pakaian mereka yang basah, apalagi mengembalikan rumah yang telah hilang.
Sari menatap layar tersebut dengan berbagai perasaan. Ia teringat kembali pada rapat desa beberapa tahun lalu, ketika sebagian warga menolak rencana pembukaan lahan besar di bukit. Mereka dianggap sebagai penghalang perkembangan. Tawaran pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan lebih terdengar menarik dibandingkan dengan kekhawatiran akan potensi banjir.
Beberapa hari kemudian, air mulai surut, meninggalkan lumpur setinggi betis dan aroma tidak sedap yang menyengat. Warga mulai membersihkan sisa-sisa puing, mencari barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Di tengah pekerjaan mereka, pembicaraan mulai lebih terbuka. Mengenai kesalahan yang telah dilakukan bersama. Mengenai kebisuan yang sudah terlalu lama.
Raka mengangkat sebatang cabang kecil dan menancapkannya ke dalam tanah. “Ini adalah pohon,” ujarnya dengan sederhana. Sari tersenyum dengan kepahitan, kemudian berlutut untuk membantu anaknya. Bibit kecil itu terlihat lemah di tengah tanah yang terluka, tetapi ia tetap teguh berdiri.
Beberapa minggu setelahnya, para relawan tiba membawa bibit pohon. Anak-anak sekolah menanamnya di lereng bukit. Tidak ada spanduk besar, tidak ada janji muluk. Hanya tangan-tangan kecil yang berusaha memulihkan kelalaian orang dewasa.
Sari berdiri mengamati bukit tersebut. Ia akhirnya menyadari bahwa pertanyaan “Bencana Sumatra, salah siapa? ” tidak dimaksudkan untuk saling menyalahkan. Pertanyaan tersebut adalah sebuah refleksi tentang keserakahan, pengabaian, dan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Hujan masih akan turun di masa depan. Sungai akan terus mengalir. Namun kini, di tanah yang perlahan pulih, muncul kesadaran baru bahwa alam tidak pernah benar-benar marah, ia hanya menuntut apa yang telah dilupakan.