Hujan, Hutan, dan Tangan Manusia

Hujan pertama turun saat fajar belum sepenuhnya bangun. Mula-mula rintik, lalu deras, dan akhirnya seperti tirai air yang tak bisa disibakkan. Dari balik jendela rumah papan yang sudah lapuk di beberapa sisi, Sasa melihat jalan tanah di depan rumah berubah warna—dari cokelat kering menjadi lumpur licin yang mengalir perlahan.

Ayahnya berdiri di ambang pintu, menatap langit yang kelabu. “Kalau hujan seperti ini terus, sungai pasti naik,” katanya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Sasa diam. Ia sudah hafal tanda-tanda itu. Bau tanah basah yang terlalu pekat. Suara serangga yang menghilang. Sungai di belakang rumah yang mendadak terdengar lebih dekat, lebih gaduh.

Benar saja. Menjelang siang, air mulai merayap ke halaman. Dalam hitungan jam, genangan berubah menjadi banjir setinggi betis. Ibu mengangkat karung beras ke bangku, sementara Sasa menyelamatkan buku-buku sekolahnya ke rak paling atas.

Ini banjir ketiga tahun ini.

Saat listrik padam, desa seolah kehilangan napas. Tidak ada suara televisi, tidak ada lampu. Hanya hujan dan air yang mengalir tanpa kendali. Sasa duduk di lantai, memeluk tas sekolahnya. Ia teringat cerita kakek yang sering diceritakan ulang oleh Ayah.

Dulu, kata kakek, desa ini dikelilingi hutan lebat. Pohon-pohon tinggi berdiri rapat, akarnya menahan tanah dan air. Sungai mengalir tenang, jernih, dan menjadi tempat anak-anak mandi sepulang sekolah. Banjir adalah cerita yang jarang sekali terjadi.

Namun kini, bukit di belakang desa tak lagi hijau. Banyak pohon telah berganti menjadi tanah terbuka, jalan tanah, dan lahan luas yang ditanami satu jenis tanaman saja. Saat hujan datang, air turun tanpa penghalang, membawa tanah, sampah, dan apa pun yang dilewatinya.

Sore hari, warga mengungsi ke mushala karena lantainya lebih tinggi. Sasa duduk di sudut, memperhatikan wajah-wajah lelah di sekitarnya. Ada Pak Juna yang kehilangan ayam-ayamnya. Ada Bu Sari yang menangis karena kasurnya terendam. Ada pula yang hanya diam, menatap kosong.

“Ini memang sudah takdir,” ujar seseorang.

“Tapi kenapa dulu jarang banjir?” sahut yang lain.

Bu Ratna, guru Ardi, ikut mengungsi sambil membawa map berisi dokumen sekolah. “Takdir memang milik Tuhan,” katanya tenang, “tapi manusia juga punya tanggung jawab.”

Tak ada yang langsung menjawab. Kalimat itu menggantung di udara lembap, seperti kabut yang menunggu turun.

Dua hari kemudian, banjir surut. Lumpur tertinggal di mana-mana. Bau tidak sedap menyelimuti desa. Warga bergotong royong membersihkan rumah dan jalan. Sasa membantu Ayah mengeruk lumpur dari selokan kecil di belakang rumah. Dari sana, mereka mengangkat plastik, kaleng, dan potongan kayu yang tersangkut.

“Semua ini ikut memperparah,” kata Ayah sambil menunjuk sampah-sampah itu.

Belum sempat desa benar-benar pulih, kabut asap datang menyusul. Pagi hari terasa aneh—matahari ada, tetapi cahayanya pucat. Udara terasa berat. Sekolah tetap dibuka, namun Bu Ratna meminta murid-murid tetap di kelas dan menutup jendela.

Sasa batuk kecil. Beberapa temannya izin tidak masuk sekolah karena orang tua mereka khawatir.

“Kenapa masalahnya selalu datang bersamaan?” tanya Sasa saat jam istirahat.

Bu Ratna tersenyum lelah. “Karena alam saling terhubung. Hutan rusak, air dan udara ikut terganggu.”

Kata-kata itu terus Sasa pikirkan. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu luput dari pandangannya: truk-truk besar yang lewat membawa kayu, lahan yang dibersihkan tanpa jeda, sungai yang semakin dangkal dan kotor.

Suatu sore, pemuda-pemuda desa berkumpul di pos ronda. Tidak ada agenda resmi. Mereka hanya lelah menghadapi banjir dan asap yang datang silih berganti.

“Kita tidak bisa menunggu orang lain terus,” kata salah satu dari mereka. “Kalau bukan kita, siapa?”

Akhirnya, mereka sepakat melakukan hal sederhana. Membersihkan sungai secara rutin. Mengurangi sampah plastik. Melaporkan jika ada pembakaran lahan di sekitar desa. Sekolah ikut terlibat. Bu Ratna mengajak murid-murid menanam pohon di bukit kecil yang masih tersisa.

Hari penanaman tiba. Sasa memegang bibit pohon kecil di tangannya. Daunnya masih sedikit, batangnya rapuh. Saat ia menanamnya, tanah terasa lembek, seolah masih menyimpan amarah hujan sebelumnya.

“Pohon ini mungkin tidak akan menyelamatkan desa sekarang,” kata Ayah yang ikut membantu. “Tapi ia adalah janji.”

Sasa mengangguk. Ia tahu perubahan tidak datang secepat banjir atau asap. Perubahan tumbuh perlahan, seperti pohon itu.

Musim hujan belum berakhir. Kabut masih sesekali datang. Namun desa kini berbeda. Sungai mulai lebih bersih. Orang-orang lebih peduli. Anak-anak tumbuh dengan cerita baru—bukan hanya tentang bencana, tetapi tentang usaha menjaga.

Suatu pagi, hujan turun lagi. Sasa berdiri di beranda rumah. Air mengalir, tetapi tidak meluap. Ia menarik napas panjang. Udara masih lembap, tetapi terasa lebih ringan.

Mungkin hutan belum sepenuhnya kembali. Namun setidaknya, manusia mulai mendengarkan.

Dan ketika hutan tak lagi diam, Sasa percaya—Sumatra masih punya harapan.