Hidup Itu Soal Pilihan yang Tepat

Kala itu, ketika saya masih berumur 18 tahun, ada sebuah momen yang selalu saya nantikan sedari kecil hingga akhirnya saya dapat mencapainya, yaitu kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Perasaan senang disertai bangga meluap-luap di hati atas semua yang telah diperjuangkan dan dilewati selama masa-masa sulit di sekolah. Namun, kata orang-orang, lulus SMA bukanlah akhir; justru itulah langkah awal di mana kamu akan menentukan pilihan hidupmu, masa depanmu, dan akan dihadapkan dengan berbagai pilihan yang sulit.

Saya adalah seorang remaja yang tinggal dan besar di kota yang indah, yaitu Kota Magelang atau kota sejuta bunga. Nama saya Achwan Thoriq Ghifari, teman-teman dan orang kampung biasa memanggilku Ariq. Saya merupakan lulusan salah satu SMA swasta di Kabupaten Grabag, Magelang.

Kejadian itu berlangsung saat saya lulus SMA. Benar saja apa kata orang-orang: saya dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit, apakah setelah lulus ini saya harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau bekerja. Pada waktu itu, perekonomian keluarga saya sedang sangat buruk. Perbincangan yang intens dan cukup lama terjadi di antara kami sekeluarga, hingga akhirnya saya memutuskan untuk gap year atau berhenti selama satu tahun.

Hari-hari setelah kelulusan terasa begitu cepat. Saya bingung harus berbuat apa, terlebih saat itu ayah masih menganggur dan belum mendapatkan pekerjaan. Suatu hari, di akun Instagram @lokermagelang.id, terdapat sebuah postingan lowongan pekerjaan sebagai waiter di sebuah café & resto bernuansa joglo. Di situ saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan tersebut.

Tibalah hari wawancara. Dengan pakaian rapi berwarna hitam putih, saya melihat banyak sekali orang yang turut mendaftar. Jujur, saya sangat ragu apakah saya bisa diterima. Ketika giliran saya tiba, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh pihak HRD. Saya menjawab semua pertanyaan itu dengan mantap dan percaya diri. Hingga akhirnya, ibu tersebut berkata, “Baik, terima kasih sudah menjawab semua pertanyaan saya. Silakan tunggu dua atau tiga hari ke depan. Jika Anda lolos, kami akan menghubungi untuk informasi mulai bekerja.”

Hari pertama, belum ada kabar. Hari kedua pun masih tidak ada informasi. Saat itu saya mulai pesimis dan yakin bahwa saya tidak diterima. Namun tiba-tiba, tringgg, tringgg, handphone saya berdering. Dengan cepat saya mengangkatnya.

“Halo, selamat sore, Ariq. Selamat, Anda lolos dan diterima sebagai waiter di resto & café kami. Anda bisa mulai bekerja besok, ya,” ucap ibu HRD dengan nada lembut.

“Siap, Ibu. Terima kasih informasinya,” jawab saya dengan nada gembira.

Rabu, 11 September 2023, saya mulai bekerja di resto & café tersebut. Saya bertemu dengan empat orang lain yang juga diterima. Jujur, saya tidak menyangka bahwa dari lebih dari 30 peserta yang mendaftar, saya termasuk salah satu yang lolos.

Di hari pertama, kami dijelaskan oleh HRD mengenai job desk atau tugas seorang waiter, di antaranya mengantarkan makanan, membersihkan meja, menyapu lantai, dan banyak lagi. Singkat cerita, setelah beberapa bulan menjadi waiter, saya diangkat menjadi seorang bartender atau peracik minuman. Di situ saya belajar banyak hal, mulai dari membuat berbagai macam minuman seperti soda, kopi, maupun soft drink.

Tak terasa enam bulan berlalu begitu cepat. Banyak teman yang keluar dan banyak juga pendatang baru yang masuk. Pergantian personel sering terjadi. Pada bulan ketujuh, saya dipindahkan oleh manajer ke bagian dapur atau kitchen. Pengetahuan baru pun saya pelajari. Saya belajar bagaimana cara memasak, mengolah makanan, memilah sayur yang layak dan tidak layak, menghafal berbagai macam bumbu satu per satu, dan memasak ala resto & café. Saya sangat senang karena bisa mempelajari banyak hal baru. Namun, karena resto mulai sepi pelanggan, kami para karyawan dipulangkan atau diberhentikan secara halus karena owner tidak mampu lagi membayar karyawan.

Sebulan setelah dirumahkan, saya memutuskan untuk kembali melamar pekerjaan di empat instansi sekaligus di bidang F&B. Berbekal CV dan pengalaman kerja yang saya miliki, kerja keras saya selama ini benar-benar membuahkan hasil. Dari empat instansi yang saya lamar, dua di antaranya menerima saya.

Lagi dan lagi, saya kembali dihadapkan pada pilihan yang sulit. Instansi pertama adalah outlet masakan Jepang, dan yang kedua adalah bagian kitchen atau koki di Trio Plaza.

Saya berdiskusi kembali dengan ayah. “Kedua instansi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ayah hanya bisa menyarankan, ambil yang sekiranya kamu minati dan yang membuatmu nyaman,” ucap ayah dengan nada lembut.

Saya berpikir keras selama empat jam, memikirkan instansi mana yang sebaiknya diambil.

Esok harinya, “Selamat datang di Gohan, Ariq. Saya tunggu kinerja kamu di outlet ini, ya,” ucap seorang ibu berbaju putih rapi dengan wajah berdarah Tionghoa.

“Siap, Ibu. Terima kasih sudah menerima saya,” jawab saya dengan sopan. Dan akhirnya, saya memilih bekerja di outlet masakan Jepang tersebut.

Hidup itu selalu dipenuhi dengan pilihan; tergantung bagaimana kita memilih dengan bijak dan benar, serta menyesuaikannya dengan potensi diri sendiri. Kita adalah orang yang paling mengenal diri kita. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa semua pilihan sebenarnya ada di tangan kita sendiri. Orang lain hanya bisa memberikan saran, tetapi yang menjalani adalah diri kita.