Fenomena self-healing sedang populer akhir-akhir ini, khususnya di kalangan anak muda. Banyak dari mereka merasa tertekan oleh masalah pekerjaan, tuntutan sosial, serta persoalan pribadi yang terus menumpuk, sehingga memilih meluangkan waktu untuk memulihkan diri secara mental. Destinasi alam seperti hutan, pantai, dan pegunungan menjadi pilihan favorit karena mampu memberikan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Pantai Goa Cemara di Bantul menjadi salah satu lokasi yang paling sering dipilih. Hamparan pasir hitam yang lembut, rimbunan hutan cemara udang yang rindang, angin laut yang sejuk dan suara deburan ombak menciptakan suasana nyaman bagi siapa pun yang ingin sekadar duduk, menarik napas panjang, dan melepas penat.
Namun, meningkatnya popularitas di pantai ini membawa konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, jumlah pengunjung Pantai Goa Cemara pada tahun 2020 mencapai 18.843 orang. Kunjungan yang tinggi ini memang berdampak positif bagi ekonomi warga, tetapi juga memicu tantangan lingkungan yang serius. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah akumulasi sampah, sebuah permasalahan global yang kini semakin terasa di kawasan pesisir Bantul.
Sampah yang menumpuk tidak hanya merusak keindahan pantai, tetapi juga mengurangi kenyamanan dan kualitas rekreasi pengunjung. Data penelitian menunjukkan bahwa timbulan sampah per orang per hari di Pantai Goa Cemara mencapai 2,44 liter atau sekitar 0,49 kg. Jika dikalikan dengan ribuan pengunjung, jumlah tersebut menjadi sangat besar. Komposisi sampah pun beragam: tempurung kelapa (36%), sampah kayu (18%), sisa makanan (20%), plastik (8%), styrofoam (13%), kertas (4%), dan lainnya (1%). Sebagian besar berasal dari aktivitas kuliner, piknik, dan kebiasaan pengunjung yang meninggalkan sampah begitu saja di area pantai.
Melihat kondisi tersebut, self-healing seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengotori tempat yang justru kita pilih sebagai ruang untuk menenangkan diri. Alam telah memberi kita keindahan untuk memulihkan pikiran dan emosi, maka sudah sewajarnya kita menjaga kebersihan dan keasriannya agar tetap dapat dinikmati oleh semua orang. Upaya menjaga kelestarian pantai sebenarnya bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana yang mudah diterapkan.
Beberapa langkah tersebut antara lain mengurangi penggunaan plastik dan styrofoam, yang sulit terurai dan mudah terbawa omabak dan angin laut. Pengunjung juga dapat membawa tempat makan dan botol minum sendiri agar tidak menambah sampah kemasan. Jika terpaksa membeli makanan atau minuman berkemasan sekali pakai, sampahnya dapat dibawa pulang kembali, apalagi bila tempat sampah di pantai tidak memadai. Selain itu, kita juga bisa mengingatkan teman atau keluarga ketika terlihat membuang sampah sembarangan, karena perubahan perilaku sering bermula dari saling mengingatkan.
Dengan menerapkan kebiasaan sederhana tersebut, self-healing bukan hanya menjadi cara untuk memulihkan diri, tetapi juga bentuk kepedulian agar alam tetap sembuh dari beban sampah yang kita tinggalkan. Goa Cemara adalah ruang untuk menenangkan hati, bukan tempat untuk membiarkan sampah menggunung. Yuk, jaga kebersihan alam agar kita bisa menikmati keindahannya tanpa terganggu oleh tumpukan sampah!
