Hujan turun tanpa aba-aba,
menyusuri nadi bumi yang terluka.
Sungai meluap membawa amarah,
menyeret sunyi, merobohkan rumah,
menggulung doa-doa yang belum sempat pulang.
Langit seolah kehilangan teduhnya,
awan menghitam, menulis duka
di kanvas cakrawala.
Tanah merintih di bawah pijakan manusia,
retak oleh keserakahan yang dibungkam nurani.
Di antara lumpur dan puing harapan,
jerit ibu menjadi kidung pilu,
anak-anak kehilangan pagi,
dan malam menjelma kubur kenangan
yang basah oleh air mata.
Siapakah yang patut disalahkan,
jika rimba ditebang tanpa belas?
Jika alam hanya dijadikan angka
dalam neraca keuntungan semu?
Bencana pun menjelma bahasa,
menegur manusia dengan cara paling keras.
Wahai Tanah Andalas,
maafkan kami yang lalai membaca isyaratmu.
Biarlah derita ini menjadi cermin,
agar kelak hujan hanya membawa kesuburan,
bukan lagi ratapan dan kehilangan.