Generasi Z merupakan kelompok usia produktif yang tumbuh dalam era digital, namun masih menghadapi tantangan serius dalam hal literasi keuangan dan pengelolaan keuangan pribadi. Perilaku konsumtif yang dipengaruhi oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan budaya self-reward menjadi tantangan utama yang menghambat pencapaian resiliensi keuangan.
Self-Reward
Budaya Self-Reward dan paparan media sosial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Secara parsial, budaya Self-Reward memiliki pengaruh dominan, yang menunjukkan bahwa konsumen Gen Z cenderung melakukan pembelian sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Self reward dapat dijakan sebagai alasan bagi generasi z untuk berbelanja dimedia sosial yang tanpa mereka sadari telah bersikap konsumtif yang berlebihan. Maka, untuk mencegah perilaku konsumtif, harus bijak dalam menggunakan sosial media dan memprioritaskan kebutuhan dibandingkan dengan keinginan
Tindakan Memberi Penghargaan pada Diri Sendiri
Definisi mendasar self-reward yaitu tindakan memberi penghargaan pada diri sendiri agar mendapat kesenangan dan kepuasan karena telah mencapai sesuatu (Gulman, 2024). Gen Z seringkali memilih self-reward sebagai cara untuk memotivasi diri, merayakan pencapaian, atau bahkan untuk mengatasi stres dalam kehidupan sehari-hari.
Di era digital saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi banyak membawa perubahan besar dalam berbagai segi kehidupan manusia. Salah satu wujud nyata dari perubahan ini adalah meningkatnya penggunaan media sosial yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern.
Media Sosial
Media sosial tidak lagi sekadar sarana komunikasi dan hiburan, tetapi telah berkembang menjadi wadah ekonomi digital. Hal ini disebabkan oleh beragam kemudahan yang diberikan seperti dapat berbelanja kapan saja, tidak perlu mengantre, barang diantar sampai tujuan sehingga menghemat waktu, dan banyaknya metode pembayaran yang dapat dipilih (Taher, 2021). Hal itu menimbulkan fenomena self-reward yang menjadi bagian dari gaya hidup konsumtif yang semakin meningkat (Niininen et al.,2022).
Dorongan Emosional
Konsumen tidak hanya membeli produk berdasarkan fungsinya saja. Melainkan karena adanya dorongan emosional dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Konsumen sudah memiliki rasa percaya pada pernjual, sehingga sering kali konsumen membeli barang tanpa berpikir panjang, apalagi platform memberikan promosi yang menarik. Akibatnya, tingkat literasi keuangan yang rendah di kalangan generasi ini menyebabkan generasi tersebut berperilaku konsumtif dan minimnya kebiasaan menabung,
Hal tersebut juga dipengaruhi oleh gaya hidup hedonis dan materialistic. Oleh karena itu, pendidikan literasi keuangan menjadi penting untuk mengurangi perilaku konsumtif yang berlebihan dan meningkatkan pengelolaan keuangan yang lebih bijaksana (Andriyani, 2023).
Budaya Self-Reward
Budaya self-reward merujuk pada praktik individu memberikan penghargaan kepada diri sendiri sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian atau upaya tertentu. Pada Generasi Z, perilaku ini sering digunakan sebagai mekanisme motivasi dan pengelolaan stres.
Menurut penelitian, self-reward dapat meningkatkan kesejahteraan emosional dan motivasi intrinsik individu (Komarudin, 2024). Dalam konteks Gen Z, kebiasaan Self-Reward semakin umum terjadi, bahkan menjadi perilaku yang impulsif dengan didorong oleh budaya instan dan pengaruh media sosial. mengadaptasi dari khan et al.(2020), indikator budaya Self-Reward meliputi: pembelian produk untuk menyenangkan diri sendiri, pemberian kepada diri setelah menyelesaikan tugas, merasa lebih baik setelah membeli sesuatu, melakukan pembelian sebagai bentuk perawatan diri (Self-Care) dan menjadikan belanja sebagai sarana mengatasi stress.
Konsep Pembelian
Tokoh yang mengembangkan konsep pembelian impulsive yaitu, Rook & Fisher (1995) mendefinisikan pembelian impulsive sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli sesuatu secara spontan, tidak reflektif, seketika, dan kinetik. Sedangkan Verplanken dan Herabadi (2001) mengartikulasikan pembelian impulsive sebagai pembelian yang tidak rasional dan diasosiasikan dengan pembelian yang cepat serta tidak direncanakan, diikuti oleh adanya konflik pikiran dan dorongan emosional.
Adapun Rokk (1987) membagi dimensi pembelian impulsive ke dalam beberapa dimensi, yakni: spontanitas, kekuatan, kompulsi, intensitas, stimulasi dan ketidakpedulian akan akibat. Di dimensi lain menurut Verplanken & Herabadi (2001) ada 2 bagian yakni dimensi kognitif ( kurangnya perencanaan dan pertimbangan dalam melakukan pembelian) dan Afektif ( pembelian impulsive yang berkaitan dengan emosi seseorang )
Asal Kata
Istilah self reward berasal dari kata “self” adalah diri sendiri dan “reward” adalah penghargaan atau hadiah. Dalam bahasa Inggris Reward diartikan sebagai pahala, upah, hadiah dan lain sebagainya tergantung dari konteks pembicaraannya. Self Reward adalah sebuah penghargaan kepada diri sendiri untuk pencapaian yang telah dilakukan agar mendapatkan kesenangan dan kepuasan akan diri sendiri.
Self reward sendiri perlu dilakukan, untuk menghargai suatu pencapaian apa yang telah dilakukan, tujuannya untuk menghargai diri sendiri baik hal tersebut berhasil maupun gagal, karena ketika melalui kegagalan dengan memberi penghargaan diri sendiri agar bisa memiliki semangat baru untuk mencoba lagi. Self reward memberikan berbagai manfaat bagi diri dan kehidupan seseorang. seseorang yang melakukan self reward akan termotivasi untuk melakukna pekerjaan selanjutnya.
Rasa Bahagia
Tidak hanya meningkatkan motovasi, self reward juga dapat memberikan rasa kebahagiaan kepada seseorang karena sebagai bebtuk apresiasi atas keras nya perjuangan orang tersebut mencapai sesuatu. hal ini akan meningkatkan mental healt yang baik karena individu tersebut bahagia secara emosionalnya. Dapat disimpulkan bahwa budaya Self-Reward secara signifikan memberikan pengaruh terhadap keputusan pembelian, khususnnya pada generasi Z. Dorongan emosional, keinginan untuk memanjakan diri, dan kebiasaan merayakan pencapaian secara material membuat pembelian tidak lagi sepenuhnya bersifat rasional, melainkan emosional.
Perilaku Konsumtif
Perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa pertimbangan kebutuhan yang rasional. Generasi Z, yang tumbuh dalam era digital dengan akses informasi yang luas, rentan terhadap perilaku konsumtif akibat pengaruh media sosial dan iklan digital. Studi menunjukkan bahwa literasi keuangan yang rendah dan kontrol diri yang lemah berkontribusi signifikan terhadap perilaku konsumtif pada generasi ini (Akbar, R. P., & Armansyah, 2023).
Pembelian barang yang didasarkan atas keinginan tanpa memeprhatihan keguanan dan manfaat cenderung membuat seseorang menjadi konsumtif(Wahyuni,Irfani, Syahrina, et al., 2019). Akibat perilaku konsumtif yang dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan kondisi keuangan yang tidak terkontrol yang memicu terjadinya pembororsan karena pembelian yang dilakukan secara berlebihan dan terus menerus yang menyebabkan terjadinya penumpukan barang(Astuti, 2013). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif diantaranya (Kurniawan, 2017):
- Ingin menjadi trend setter
- Keinginan memiliki barang branded
- mengikuti perkembangan zaman
- ingin menarik perhatian orang lain
Studi menunjukkan bahwa self-reward yang berlebihan berkontribusi pada peningkatan pengeluaran impulsif, mengurangi kapasitas tabungan, dan menghambat perencanaan keuangan jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi Generasi Z untuk memiliki literasi keuangan yang memadai dan kontrol diri yang kuat guna mengelola praktik self-reward secara bijak. Verplanken & Herabadi (2001) menguraikan factor yang dapat memengaruhi pembelian impulsive:
Faktor eksternal
- Lingkungan toko
Terdapat beberapa variable yang ada di lingkungan toko, diantaranya penampilan fisik produk, cara menampilkan prosuk, serta tambahan seperti wangi, perpaduan warna yang indah dan music yang menyenangkan. Hal tersebut dapat menarik perhatian dan menimbulkan suasana hati yang positif dimana keduanya merupakan karakteristik pembelian impulsif
- Ketersedian waktu dan uang
Dua hal diatas termasuk dalam variable situasional yang dapat mempengaruhi terjadinya pembelian impulsive, baik benar-benar memiliki waktu dan uang maupun merasa memiliki keduanya
- Karakteristik produk
Karakteristik produk yang dapat mempengaruhi pembelian impulsife Adalah harga yang rendah, adanya kebutuhan terhadap produk tersebut, ukuran yang kecil dan ringan, sertanya kemudahan dalam menyimpan
- Factor marketing
Factor yang mempengaruhi adalah iklan yang besar, adanya sebaran massa, serta posisi produk display dan lokasi yang menonjol
Faktor Internal
- Emosi
Pembelian impulsive berhubungan dengan suasana hati tertentu. Munculnya kombinasi perasaan senang, kegairahan, dan kekuasaan menimbulkan kecenderungan untuk melakukan pembelian impulsive.
- Jenis kelamin
Kacen & Lee (2002) menyatakan bahwa Perempuan lebih memiliki kecenderungan untuk berbelanja serta berperilaku impulsive disbanding laki-laki. Oleh sebab itu, Perempuan lebih rentan untuk melakukan pembelian impulsive dibandingkan dengan laki-laki.
- Motivasi belanja hedonis
Konsumen melakukan pembelian impulsive Ketika termotivasi belanja hedonisnya. Sifat dasar hedonis sendiri terdiri atas kesenangan, kejutan, kepuasan, sesuatu yang baru, dan keakraban (Rook. 1987).
- FOMO (fear of missing out)
FOMO merupakan perasaan takut tertinggal. Banyak konsumen yang menjadikan pandangan mereka tentang suatu produk atau brand sesuai dengan masukan dan diperoleh dari orang lain pada media sosial.
FOMO
Istilah kata fear of missing out (FOMO) pertama kali dalam literatur pertama kali digunakan oleh Vaboril pada tahun 2010 (Hodkinson, 2019). JWT Intelligence (2012) menganggap FOMO sebagai perasaan gelisah dan terkadang menghabiskan banyak waktu bahwa individu merasa tertinggal dari apa yang rekan sebayanya lakukan, ketahui, atau memiliki sesuatu yang lebih baik dari diri individu tersebut.
Selanjutnya, FOMO diasosiasikan dengan sosial media yakni sebagai sebuah fenomena yang ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung secara terus-menerus dengan apa yang dilakukan orang lain dan kekhawatiran yang meresap bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman berharga dari mana seseorang tidak ada (Przybylski et al., 2013), FOMO terdiri dari perasaan lekas marah, kecemasan, dan perasaan tidak mampu, dengan perasaan ini cenderung memburuk ketika seseorang masuk ke situs sosial media (Abel et al., 2016).
Dampak Finansial dan Psikologis
Self rewad yang dilakukan dengan tidak bijak akan menimbulkan perilaku yang konsumtif. Kebiasaan self reward ini akan berdmpak pada keadaan financial generasi z. Dampak nya yaitu terbiasa dengan sifat boros. misalnya, seseorang sudah terbiasa pergi ke coffee shop sebagai bentuk self reward akan resah jika tidak pergi ke coffe shop tersebut. contoh lain misalnya, seseorang yang terbiasa self reward dengan membeli barang mahal di e-commerce tentunya akan mebuang atau menghilangkan pendapatan mereka yang bisa saja digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mereka yang lebih penting. dengan terbiasanya mereka membeli barang di e-commerce, akan muncul rasa ingin berhutang pada e-commerce tersebut atau dengan kata lain payment letter (kredit). dengan hal ini akan membuat masalah lain yaitu banyak nya hutang di media sosial mereka sendiri.
Dampak yang dapat terjadi dengan adanya fenomena self reward tidak hanya pada aspek finansialnya saja akan tetapi dapat berdampak pada aspek psikologis individu. Menurut Edward Deci & Richard Ryan – Self-Determination Theory (SDT) juga mengatakan bahwa dalam teori ini, kemandirian (autonomy) adalah salah satu dari tiga kebutuhan psikologis dasar, bersama dengan kompetensi dan keterhubungan (relatedness). Deci dan Ryan menyatakan bahwa terpenuhinya kebutuhan kemandirian sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis, karena memungkinkan individu merasa bahwa tindakan mereka berasal dari diri sendiri, bukan dari tekanan eksternal. Dengan melakukan self rewad akan memberikan dampak yang positif terhadap kehidupan mereka sehari-harinya.
Berpengaruh Positif dan Signifikan
Self-Reward dan paparan media sosial secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian Gen Z, mendorong perilaku konsumtif baik melalui faktor internal maupun eksternal. Namun, secara kontras, ditemukan bahwa hubungan antara self-reward dan perilaku konsumtivitas memiliki arah negatif yang sangat kuat. Hal ini berarti semakin tinggi kecenderungan individu Gen Z untuk melakukan self-reward, maka semakin rendah perilaku konsumtifnya.
Di tengah tekanan dan persaingan ketat di era digital yang memicu tren self-reward, ada indikasi bahwa bentuk Self-Reward yang didasari oleh motivasi intrinsik dan kontrol diri yang baik justru berkorelasi negatif dengan perilaku konsumtif. Untuk mencapai stabilitas keuangan di tengah tantangan global, penguatan budgeting menjadi kunci untuk menyeimbangkan dorongan self-reward dan paparan digital agar tidak berujung pada konsumtivitas yang merugikan.
DAFTAR PUSTAKA
- Putri, I. M., Mahardika, M. A., & Mukhroji, M. (2025). Pengaruh Budaya Self-Reward dan Paparan Media Sosial Terhadap Keputusan Pembelian pada Konsumen Gen Z di Era Digital. Jurnal Rumpun Manajemen dan Ekonomi, 2(4), 450-458.
- Arafat, M. Y., & Tauhid, N. A. M. (2025, August). PERAN BUDGETING SEBAGAI STRATEGI MENINGKATKAN RESILIENSI KEUANGAN GENERASI Z DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN GLOBAL MENURUT PERSPEKTIF SYARIAH. In Gunung Djati Conference Series (Vol. 56, pp. 193-200).
- Anggasta, G., & Puspitasari, D. G. G. (2024). IMPLIKASI BUDAYA SELF-REWARD TERHADAP KONSUMTIVITAS: STUDI KASUS GEN-Z. Jurnal Media Akademik (JMA), 2(12).
- Rahma, A. A. Pengaruh fomo (fear of missing out), motivasi belanja hedonis, ketersediaan uang, dan ketersediaan waktu terhadap pembelian impulsif online pada pemburu flash sale (Bachelor’s thesis, Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
- Pangastuti, N. R. D., & Kusumaningtyas, D. (2025). Pengaruh FOMO (Fear of Missing Out), Flash Sale, Live Stream Shopping Terhadap Impulsive Buying Pada Konsumen Lip Produk Di TikTok Shop. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan, 22(2), 33-44.
- Nafilah, J., Safitri, D., & Sujarwo, S. (2025). Fenomena Self-Reward dalam Budaya Konsumerisme Digital: Studi Literatur tentang Tren Gen Z di Media Sosial. Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara, 2(3), 2934-2939.