Elegi yang Ditelan Negara

Aku lahir ulang di lumpur,
setelah rumahku disalin air
menjadi liang tanpa nisan.
Ini bukan murka langit
ini upacara rakus
yang kalian resmikan diam-diam.

Hutan kami disulap jadi bangkai,
akarnya dicabut sampai tanah lupa bernapas.
Sungai mengamuk seperti ibu gila
yang anaknya dijual izin dan angka,
lalu disuruh tenang.

Kami menjerit sampai suara patah,
namun negeri menyumbat telinga.
Katanya ini bukan bencana nasional
mungkin korban harus bertumpuk
setinggi ambisi kalian.

Pejabat datang sebentar,
menabur senyum di atas genangan.
Kaki mereka bersih,
tangan kami membusuk
memeluk hidup yang tersisa.

Jika Sumatra hilang dari peta,
jangan salahkan alam.
Kami ditenggelamkan manusia,
dan dikubur sempurna
oleh negara yang memilih
tidak mengakui kematian kami.