Dibalik Hujan yang Disalahkan

Hujan selalu menjadi pihak yang paling mudah disalahkan. Setiap kali air meluap dan tanah runtuh, hujan disebut sebagai penyebab utama. Padahal, jauh sebelum hujan turun dengan deras, banyak hal telah lebih dahulu rusak, hanya saja tidak pernah benar-benar diperhatikan.

Hari itu, hujan turun sejak pagi. Awalnya biasa saja, seperti hujan-hujan sebelumnya. Aku masih sempat duduk di dapur, menunggu air mendidih, ketika terdengar teriakan dari arah jalan. Suaranya tidak teratur, saling tindih, dan dipenuhi kepanikan.

Air sungai naik.

Dalam hitungan menit, keadaan berubah. Sungai yang biasanya mengalir tenang mendadak meluap, membawa lumpur, kayu, dan bau tanah yang menyengat. Orang-orang berlarian keluar rumah. Ada yang menggendong anaknya, ada yang berusaha menyelamatkan barang seadanya, dan ada pula yang hanya terdiam karena tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan.

Di tengah kekacauan itu, banyak yang menyebut nama Tuhan. Aku juga. Namun, di sela kepanikan, muncul pertanyaan yang terus mengganggu pikiranku, benarkah hujan sepenuhnya bersalah atas semua ini.

Beberapa tahun terakhir, lingkungan di sekitar desa kami berubah perlahan. Bukit-bukit yang dulu hijau kini tampak gundul. Pohon-pohon ditebang, tanah dibuka, dan kendaraan pengangkut kayu keluar masuk tanpa henti. Semua terjadi begitu lama hingga kami terbiasa melihatnya. Tidak banyak yang bertanya, apalagi memprotes. Kami menganggapnya sebagai urusan pihak-pihak yang lebih berwenang.

Hari itu, urusan yang selama ini terasa jauh justru datang menghantam rumah kami sendiri.Tanah dari perbukitan runtuh bersama air. Batu dan lumpur menyapu apa pun yang dilewatinya. Kami tidak lagi memikirkan harta benda. Yang terpenting hanyalah menyelamatkan diri. Rumah-rumah terendam, kandang ternak hanyut, dan jalan desa berubah menjadi aliran air cokelat yang deras.

Setelah hujan mereda dan air mulai surut, keadaan tidak langsung membaik. Lumpur menumpuk di lantai rumah, akses jalan terputus, dan bantuan belum juga datang. Anak-anak menangis karena lapar, sementara orang dewasa berusaha bertahan dengan sisa tenaga dan harapan. Dalam kondisi terdesak, sebagian warga mengambil bahan makanan dari gudang yang rusak. Peristiwa itu kemudian disebut sebagai penjarahan.

Namun, bagi kami yang mengalaminya, itu bukanlah tindakan kriminal semata, melainkan bentuk keputusasaan. Ketika bantuan terlambat dan kebutuhan dasar tidak terpenuhi, bertahan hidup menjadi upaya mempertahankan hidup yang sulit dihindari.

Beberapa hari setelah peristiwa itu, kabar tentang desa kami mulai diberitakan. Bencana tersebut disebut sebagai akibat hujan deras dan cuaca ekstrem. Sekali lagi, hujan menjadi pihak yang paling mudah disalahkan. Tidak banyak pembahasan mengenai hutan yang telah lama hilang atau perbukitan yang kehilangan fungsi alaminya sebagai kawasan resapan air. Keputusan-keputusan manusia yang turut membuka jalan bagi bencana seolah terabaikan.

Padahal, hujan hanyalah pemicu terakhir. Kerusakan telah dipersiapkan jauh sebelumnya melalui pembiaran dan ketidakpedulian. Alam kehilangan kemampuannya untuk menahan air, sementara manusia perlahan kehilangan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Kini, sungai kembali mengalir tenang seperti sebelumnya. Namun, ketenangan itu tidak lagi memberikan rasa aman. Di balik hujan yang terus disalahkan, terdapat kesalahan-kesalahan lama yang belum benar-benar disadari, apalagi diperbaiki. Selama hal tersebut terus diabaikan, bencana bukan sekadar kemungkinan, melainkan sesuatu yang hanya menunggu waktu untuk terulang kembali.