Akar Minang di Tanah Rantau
Orang tuaku lahir dan besar dari tanah Sumatera Barat, tanah yang terkenal dengan budaya yang teguh dan adat yang dijaga erat. Setelah menikah, mereka memutuskan merantau, meninggalkan kampung halaman ke tanah Jawa, wilayah yang bagi kebanyakan orang luar pulau tersebut, merupakan tempat yang dianggap punya lebih banyak peluang dan harapan. Langkah itu tentu saja merupakan sebuah keberanian besar, dengan membawa mimpi yang sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik, meski harus meninggalkan keluarga di kampung halaman.
Bertahun-tahun keluargaku menetap di Jawa Barat, daerah Sukabumi. Bekerja keras setiap hari sekaligus berusaha menyesuaikan diri dengan suasana, bahasa, serta kebiasaan yang tentu saja sangat berbeda dari yang sebelumnya dikenal. Di lingkungan masyarakat Sunda aku lahir dan tumbuh, mengenal sedikit banyak budaya masyarakat Sunda, berbicara menggunakan bahasa setempat bersama teman-teman yang semuanya lahir dan besar di sana. Secara fisik dan keseharian, aku hidup seperti teman-teman setempatku, namun darah dan asal-usul tetap tak bisa dipisahkan dari tanah kelahiran orang tuaku. Di dalam rumah, jika berbicara dengan ibu atau ayah menggunakan bahasa Minang, aku kembali diingatkan bahwa di tanah Sunda ini aku hanyalah perantau.
Cerita Kampung Halaman dari Orang Tua
Sejak kecil, orang tuaku selalu menceritakan tentang kampung halamannya di Sumatera Barat. Mereka sering bercerita tentang rumah nenek, tentang keindahan alamnya, dan tentang nilai-nilai adat yang harus selalu kuingat dan dijaga dengan baik di mana pun aku berada.
Kebiasaan orang tuaku yang selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Minang dengan sanak saudara dan juga denganku, membuatku tidak perlu bersusah payah mengingat kata-kata atau belajar berbicara dalam bahasa Minang secara formal. Selain bahasa, masakan ibuku yang selalu khas Sumatera Barat membuat lidahku terbiasa dengan rasa yang kaya akan rempah, santan kental, dan rasa pedas yang nikmat. Bagi orang tuaku, resep masakan tradisional tersebutlah warisan berharga yang dapat dibawa ke mana pun mereka merantau tanpa takut hilang atau musnah, sekaligus menjadi penawar yang ampuh untuk menghapus sedikit rasa rindu mereka akan kampung halaman.
Krisis Identitas di Tanah Kelahiran
Seiring bertambahnya usia, perasaan bingung perlahan tumbuh dalam diriku, bahkan hingga saat ini. Di tempatku dibesarkan ini, di tanah Sunda, aku beberapa kali merasa seolah aku bukan bagian sepenuhnya dari sini. Banyak orang, seperti tetangga atau teman-teman dekat menyebutku sebagai “Dia orang Sumatera” atau “Dia orang Padang”. Setiap kali ada hal yang sedikit berbeda dalam berbicara atau kebiasaan yang kubawa dari rumah, mereka selalu mengaitkannya dengan asal-usul orang tuaku, seolah-olah aku memang hanya terlihat sebagai pendatang, bukan warga asli suku Sunda. Ketika menceritakannya kepada orang tuaku, mereka hanya mengajarkan untuk mewajarkan sikap teman-temanku, meyakinkan bahwa sampai kapan pun kita memang orang Sumatera, sewaktu-waktu akan kembali ke tanah asal. Rasanya seakan ada batas yang selalu memisahkanku dengan lingkungan sekitar. Meskipun aku paham sedikit banyak tentang budaya Sunda, bisa berbahasa Sunda, dan tumbuh besar di Sukabumi yang kental akan budaya Sunda, namun pandangan orang-orang tidak dapat dipaksakan.
Menjadi Orang Asing di Tanah Asal
Ada saat-saat di mana kami sekeluarga pulang kampung ke Sumatera Barat, mengunjungi kerabat dan sanak saudara. Tentu saja di perjalanan aku selalu berharap di tanah asal orang tuaku inilah aku akan merasa diterima, merasa pulang, dan merasa menemukan tempat yang memang milikku. Diam-diam aku berharap, bahwa di sini aku akan dianggap sebagai salah satu dari mereka, sebagai anak kampung yang kembali pulang. Namun mungkin memang salahku berharap terlalu banyak kepada manusia, karena di tengah keluarga besar dan kerabat sekalipun, aku kembali mendengar kata-kata yang kurang lebih sama: “Ah, dia kan orang Sunda”, atau “Wajarlah, dia kan dibesarkan di tanah Sunda”. Cara bicaraku yang kadang bercampur logat, kebiasaanku yang sudah terbawa suasana tempat tinggalku, dan cara pandangku yang mungkin mereka anggap berbeda, semuanya membuatku merasa kembali menjadi orang luar.
Di sana aku dianggap sebagai anak perantau yang tumbuh jauh dari akar budaya aslinya, di mana sudah banyak hal dalam diriku yang berubah mengikuti tempat tinggalku sekarang. Sekali lagi aku merasa berdiri di posisi yang sama: seperti di pinggiran, bukan bagian utuh dari kelompok mana pun. Rasanya memang aneh, di satu tempat aku dianggap orang Sumatera, namun di tempat lain aku dianggap orang Sunda. Lalu sebenarnya di mana aku seharusnya berada? Pertanyaan itu sering muncul di benakku, apakah identitasku ini hanya ditentukan oleh pandangan orang lain, bukan oleh apa yang aku rasakan sendiri? Aku tumbuh dengan membawa dua budaya, dua bahasa, dan dua cara pandang. Pada kenyataannya aku justru merasa tidak sepenuhnya diterima oleh salah satu dari keduanya. Seperti seseorang yang berjalan di jembatan penghubung, tapi tidak pernah sampai ke ujung mana pun, selalu berada di tengah saja.
Sisi Lain yang Terlupakan dari Kehidupan Perantauan
Banyak orang di luar sana yang meromantisasi kehidupan perantauan. Mereka menganggap menjadi perantau adalah jalan pintas menuju kesuksesan, sebuah perjalanan yang penuh keberanian, tekad, dan mental yang kuat. Kebanyakan dari mereka hanya melihat sisi luarnya saja: keberanian meninggalkan kampung, usaha membangun hidup baru, dan keberhasilan materi yang mungkin didapatkan. Sedikit yang membicarakan tentang apa yang dirasakan oleh anak-anak dari para perantau. Mungkin mereka memang tidak tahu ada perasaan berat yang tersembunyi di balik kisah perantau itu. Rasa terbelah, rasa tidak punya tempat yang benar-benar disebut milik sendiri, serta perasaan kurang diterima di mana pun. Meski kesuksesan finansial bisa diraih, tetapi identitanya diri yang kabur dan rasa keterasingan itu sering kali menjadi bayangan yang terus mengikuti dan sulit dihilangkan.
Menemukan Rumah di Dalam Diri
Orang tuaku mungkin tidak merasakan hal yang sama persis. Bagi mereka, kampung halaman tetaplah Sumatera Barat, tempat mereka lahir dan dibesarkan, sementara tanah Sunda hanyalah tempat mereka mencari nafkah. Namun bagiku, yang lahir dan besar di lingkungan masyarakat Sunda, batas itu seakan menjadi kabur dan sulit ditentukan. Aku memiliki kenangan dan kasih sayang yang mendalam pada kedua tempat itu. Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku harus memilih satu identitas saja agar bisa diterima secara utuh? Tapi rasanya tidak adil, karena kedua budaya itu sama-sama membentuk siapa aku sekarang.
Perasaan sedikit terasingkan ini mengajarkan satu hal nyata kepada diriku: menjadi jembatan penghubung antara dua budaya itu memang indah secara teori, namun berat dalam kenyataan. Aku belajar memahami dua cara pandang, dua adat, dan dua budaya, namun bayarannya adalah rasa tidak memiliki tempat pulang yang pasti. Akhirnya aku menyadari, mungkin tempatku bukanlah ditentukan oleh pandangan orang lain, bukan pula oleh sebutan suku yang mereka berikan. Tempatku ada di dalam diriku sendiri, di mana aku bisa merangkul kedua asal-usul itu dengan penuh rasa bangga.
Sumber gambar: pinterest
