Deadline Numpuk, Mental Jangan Ambyar: Self-Healing Ala Gen-Z Jalani Kuliah


Sumber: Gemini AI

Jadi mahasiswa Gen-Z itu rasanya kayak berpindah dari satu deadline ke deadline lain. Baru selesai satu tugas, eh notifikasi tugas lain muncul. Jadwal presentasi, laprak dan tugas proyek numpuk di kalender, sementara pikiran sudah keburu penuh dan lelah. Capek? Jelas. Kehilangan fokus? Sering. Bahkan kadang mempertanyakan pilihannya sendiri.

Kuliah sering kali disebut sebagai masa yang penuh tantangan dan produktif. Tapi kenyataannya, bukan cuma soal nilai dan IPK, tetapi soal bagaimana mahasiswa menjaga keseimbangan belajar di antara banyaknya deadline tugas dan kesehatan mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya, mahasiswa Gen-Z tumbuh diera serba cepat dan serba digital, di mana tekanan datang dari berbagai arah secara bersamaan.

Tugas yang menumpuk, deadline yang bersamaan, dan ditambah ekspektasi akademik yang tinggi saling mengejar yang jadi makanan sehari-hari mahasiswa. Satu tugas selesai, tugas lain sudah antre. Di tengah jadwal kuliah yang padat, tuntutan akademik, dan tekanan untuk selalu produktif, rasa lelah sering muncul bukan cuma fisik tapi juga mental. Sayangnya, kondisi ini sering dinormalisasikan sebagai “konsekuensi kuliah”, padahal kalau dibiarkan terus akan memicu ketidaksehatan mental.

Karena itu, salah satu cara yang dilakukan ala Gen-Z untuk menjaga keseimbangan diri adalah self-healing. Bukan sebagai pelarian, tapi upaya agar tetap waras untuk memulihkan energi. Self-healing ala Gen-Z nggak selalu liburan mahal atau ribet, tapi bentuknya sederhana dan dekat dengan keseharian.

Buat sebagian mahasiswa, self-healing bisa seperti, ngopi sambil dengerin lagu favorit, menikmati senja di pantai, motoran menyusuri jalanan kota, nonton konten hiburan di sosial media, atau tidur tanpa alarm. Ada juga yang memilih olahraga, menekuni hobi, atau nongkrong bareng teman. Hal-hal kecil ini sering kali cukup untuk membantu menjernihkan kepala sebelum balik ke tugas.

Selain itu, ngatur waktu juga penting. Nggak semua tugas harus sempurna. Kadang, selesai tepat waktu sudah cukup. Istirahat pun bukan tanda malas, tapi bagian dari self-care, yang sering diabaikan. Curhat ke orang yang dipercaya juga bisa membantu meringankan beban pikiran. Dan kalau tekanan terlalu berat, cari bantuan konselor atau psikolog, itu bukan hal memalukan namun bentuk peduli sama diri sendiri.

Kuliah memang penting buat masa depan, tapi mental yang sehat jauh lebih penting buat menjalani prosesnya. Deadline boleh menumpuk, tetapi mental jangan sampai ambyar. Dengan self-healing dan kesadaran menjaga kesehatan mental, mahasiswa Gen-Z bisa tetap bertahan, waras, dan jalanin kuliah dengan seimbang dan optimal.