Masa SMA. Bagi sebagian orang, itu mungkin masa paling indah. Tapi buat gue, Andre, dan tiga sekawan gue Fahri, Faqih, dan Ilham SMA lebih mirip taman bermain ilegal yang penuh tantangan dan adrenalin.
Nakal
Fase pencarian jati diri gue waktu itu bukan cuma diwarnai buku pelajaran atau ekstrakurikuler, tapi juga aroma rokok di bilik WC, bisikan “cabut yuk!” di tengah jam pelajaran, sampai rencana bolos yang matang kayak operasi militer. Era itu memang zaman gue lagi bandel-bandelnya, di mana pertemanan lebih dari sekadar “teman belajar,” tapi teman satu komplotan.
Dari Rokok
Lingkaran setan kenakalan itu dimulai dari hal-hal kecil. Awalnya cuma sekadar nyoba rokok di WC sekolah waktu jam istirahat, biar nggak ketahuan guru piket.
Sensasi asap yang mengepul, tawa cengengesan bareng Fahri, Faqih, dan Ilham, itu terasa seperti ritual “pendewasaan” yang konyol. Dari situ, kenakalan kami merambah ke level selanjutnya: kabur dari pelajaran. Pernah, di tengah pelajaran Sejarah yang membosankan, gue sama Fahri pura-pura ke toilet, eh malah jalan kaki ke kantin luar sekolah buat ngerujak. Faqih sama Ilham biasanya jadi tukang pantau di kelas, ngasih kode kalau guru mulai curiga.
Bolos Sekolah
Puncaknya, ya bolos sekolah. Ini paling sering kami lakukan kalau ada pelajaran yang “kurang diminati.” Hari-hari seharusnya diisi dengan rumus Fisika atau hafalan Biologi, malah kami habiskan di warnet main game online atau nongkrong di warung kopi dekat sekolah, pura-pura sakit perut atau ada keperluan keluarga.
Kenakalan-kenakalan itu bikin kami merasa jadi pahlawan pemberontak di mata sendiri, seolah hidup bebas tanpa aturan. Solidaritas kami makin kuat, karena kami sama-sama tahu rasanya deg-degan saat ketahuan, atau lega saat berhasil lolos.
Titik Balik
Namun, seperti halnya setiap cerita, ada titik baliknya. Buat gue, titik itu datang di kelas 12. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba gue merasa eneg sendiri dengan semua kenakalan itu. Ada suara di kepala yang bilang, “Andre, sampai kapan mau begini terus?”
Ingin Kuliah
Gue melihat teman-teman gue, Fahri, Faqih, dan Ilham, juga mulai sibuk dengan urusan masing-masing, entah persiapan melanjutkan pendidikan atau mencari jalan lain. Entah kenapa, rasa ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi itu tiba-tiba membakar semangat gue.
Rasanya kayak gue punya tujuan baru yang jauh lebih besar dari sekadar kabur dari jam pelajaran. Apalagi setelah tahu tidak ada Ujian Nasional, rasanya semakin lega karena satu beban sudah terangkat, dan fokus bisa langsung ke persiapan masuk universitas.
Fokus Belajar
Sejak saat itu, gue mulai sedikit demi sedikit mengurangi frekuensi bolos, bahkan mulai fokus mendengarkan penjelasan guru. Mungkin nggak langsung 180 derajat, tapi ada niat kuat yang mendorong. Gue masih nongkrong sama Fahri, Faqih, dan Ilham, tapi obrolan kami mulai bergeser. Dari bahasan cara lolos dari pengawas, jadi bahasan soal universitas mana yang bagus, atau tips belajar efektif.
Prioritas gue berubah total. Gue sadar, masa depan itu bukan cuma tentang menikmati masa muda dengan kenakalan, tapi tentang mempersiapkan diri untuk jadi pribadi yang lebih baik.
Tobat
Kisah gue dan teman-teman di SMA adalah cerminan bahwa masa remaja itu memang penuh dinamika. Ada saatnya kita bisa “hilang arah” karena terbawa arus pergaulan atau godaan kenakalan. Tapi yang terpenting, ada momen di mana kita sadar dan berani untuk berubah.
Bagi gue, titik tobat di kelas 12 itu bukan cuma tentang meninggalkan kebiasaan buruk, tapi tentang menemukan kembali tujuan hidup dan berani melangkah ke arah yang lebih baik.
Kuliah
Setelah melewati masa-masa penuh warna itu, jalan hidup kami berempat pun mulai bercabang. Gue, Andre Maulana Ikhsan, akhirnya berhasil diterima di Universitas Tidar jurusan Teknik Sipil. Faqih, si paling pendiam tapi cerdas, berhasil masuk Universitas Jenderal Soedirman jurusan Budidaya Ikan.
Ilham yang sering jadi perencana “operasi cabut”, kini malah fokus menimba ilmu di Poltekkes jurusan Radiologi. Dan Fahri, yang paling realistis di antara kami, memutuskan untuk langsung bekerja di Alfamart di daerah Karawang, tempat orang tuanya tinggal.
Tinggal Kenangan
Meskipun jalur kami berbeda, kenangan kenakalan di SMA tetap menjadi bagian dari cerita kami yang tak terlupakan. Kini, kami semua punya tujuan masing-masing, membuktikan bahwa setiap kenakalan pasti ada batasnya, dan setiap orang berhak punya kesempatan untuk berubah demi masa depan yang lebih cerah, dengan jalannya sendiri-sendiri.
