Mengapa pendidikan itu penting? Menurutku, pendidikan merupakan langkah awal yang sangat menentukan arah tujuan hidup kita selanjutnya. Dengan pendidikan yang lebih tinggi, kita memiliki kesempatan yang lebih luas untuk meraih masa depan yang lebih baik dan lebih terarah. Hatiku mulai tergoyah mengenai pentingnya pendidikan ketika aku dan teman-teman sekolah melaksanakan kegiatan kunjungan industri ke Bandung. Kebetulan, destinasi kedua yang kami kunjungi adalah Institut Teknologi Bandung. Perasaanku benar-benar takjub ketika aku melangkahkan kaki melewati gerbang kampus itu. Dua bola mataku tidak berhenti menoleh ke berbagai arah, memandangi megah dan indahnya bangunan di kampus tersebut. Kekaguman itu membuat hatiku berbisik lirih, “Aku mau kuliah di PTN!”.
Langkah awal untuk mewujudkan keinginan itu dimulai ketika aku didaftarkan di sebuah tempat les. Aku merasa sangat bersyukur karena orang tuaku mendukung penuh keputusanku dan membebaskanku untuk memilih jurusan kuliah yang aku inginkan tanpa intervensi. Namun, keseharianku selama di SMK cukup melelahkan. Bel pulang sekolah baru berbunyi pukul empat sore setiap hari, dan itu belum termasuk kegiatan organisasi, tugas-tugas yang menumpuk, serta les tambahan dua kali seminggu dengan durasi tiga jam setiap pertemuan. Rasanya tubuhku jarang benar-benar beristirahat.
Perjalananku tentu tidak mulus. Sebagai siswa SMK, aku memiliki kewajiban tambahan yang tidak ada di SMA, seperti sidang PKL dan Uji Kompetensi Keahlian. Semua itu membuatku harus lebih cermat dalam memanajemen waktu agar semuanya berjalan dengan baik. Tidak hanya itu, aku juga harus mengorbankan banyak waktu untuk belajar. Malam-malamku seperti terkekang oleh berbagai materi yang harus kupelajari, dan hari liburku seolah memborgolku untuk terus membuka buku. Waktu bermain dengan teman-teman pun menjadi semakin terbatas, tetapi aku sadar bahwa semua itu adalah bagian dari proses menuju impianku.
Hari demi hari berlalu hingga guru BK akhirnya mengumumkan daftar siswa eligible untuk mengikuti SNBP. Setelah mendengarkan dengan saksama, aku sangat bersyukur ketika mengetahui bahwa namaku termasuk dalam daftar tersebut. Rasanya seperti ada harapan baru bagi diriku. Meski begitu, aku tetap sadar bahwa aku berasal dari SMK, yang sering dipandang kurang unggul dalam persaingan SNBP. Kami tidak memiliki beberapa mata pelajaran teori yang ada di SMA, sehingga banyak materi akademik yang diunggulkan di jalur prestasi tidak kami kuasai. Namun segala keterbatasan itu tidak menyurutkan harapanku. Aku tetap berharap semesta berpihak kepadaku.
Ketika masa pendaftaran dimulai, barulah aku menyadari bahwa prosesnya cukup kompleks. Ternyata tidak bisa sembarangan memilih kampus dan jurusan. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan, seperti peringkat nasional sekolah, jejak alumni, linearitas jurusan, hingga strategi agar tidak memilih program studi yang sama dengan terlalu banyak teman lain, karena dapat mengakibatkan kanibalisme. Untuk meningkatkan peluang, aku juga menambahkan beberapa sertifikat kejuaraan. Saat aktif dalam organisasi Palang Merah Remaja, aku sering mengikuti berbagai lomba dan syukurnya pernah dua kali menjadi juara tingkat nasional. Semua itu kuharapkan bisa menjadi nilai tambah dalam penilaian.
Setelah pendaftaran ditutup, kami semua hanya bisa menunggu sambil berharap. Siswa SMK seperti kami memang tidak terlalu diunggulkan dalam seleksi jalur ini, tetapi di sisi lain kami memiliki keyakinan dan harapan besar untuk bisa lolos melalui jalur yang disebut sebagai “golden ticket” ini, karena peserta yang diterima tidak perlu mengikuti tes. Hari yang ditunggu pun tiba—18 Maret pukul 15.00. Suasana terasa sangat hening. Jantungku berdegup tak karuan ketika aku mengetik nomor registrasi. Namun hasil yang muncul tidak sesuai harapan. Meski sedih dan kecewa, aku tahu bahwa aku tidak boleh tenggelam dalam perasaan itu terlalu lama.
Karena SNBP telah berlalu, satu-satunya jalan yang tersisa adalah SNBT. Alasan aku begitu ngotot ingin lolos di salah satu dari dua jalur tersebut adalah agar tidak perlu membayar IPI, karena biaya pendidikan bagi mahasiswa jalur SNBP dan SNBT disubsidi oleh pemerintah. Motivasi utamaku sederhana—aku ingin membahagiakan orang-orang yang aku sayangi dan membuat diriku bangga. Beban di pundakku terasa semakin berat. Jika aku gagal, aku akan merasa sangat malu karena sudah diberi fasilitas mengikuti les dengan biaya yang tidak sedikit. Waktu persiapan hanya tinggal sebulan. Setiap hari kupenuhi dengan latihan soal, try out, dan belajar hingga larut malam. Bahkan seminggu sebelum SNBT, aku sempat jatuh sakit karena terlalu lelah. Tetapi aku tetap percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Akhirnya hari tes pun tiba. Aku memilih lokasi tes di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Selain karena tempatnya membuatku lebih semangat, aku juga memiliki niat terselubung: setelah tes selesai, aku ingin sekalian healing tipis-tipis untuk menenangkan diri. Namun soal tahun ini benar-benar tidak dapat diprediksi. Menurutku, tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan. Aku sempat pesimis, apalagi jumlah peserta SNBT tahun ini memecahkan rekor hingga lebih dari 800 ribu peserta, sedangkan kuota diterima hanya sekitar 200 ribu saja, atau sekitar 20 persen. Meski begitu, aku tetap berdoa dan berharap yang terbaik. Singkat cerita, tibalah hari pengumuman. Semua usaha, pengorbanan, doa, dan sedikit keberuntunganku akan ditentukan hari itu. Syukurlah, aku lulus. Meskipun bukan di universitas impianku, aku tetap merasa sangat bersyukur karena kehendak Tuhan pasti lebih baik dari rencanaku sendiri.
Pada akhirnya, aku berhasil membuktikan bahwa anak SMK juga bisa lolos PTN. Aku bangga pada diriku sendiri dan tidak pernah menyangka bisa berjuang sejauh ini, meskipun aku sadar bahwa ini baru awal dari perjalanan panjang berikutnya. Pelajaran terbesar yang kudapat adalah bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jika impianmu besar, maka perjuanganmu harus lebih besar lagi. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan memperbaiki diri.

