Upacara Adat Cing Cing Goling adalah sebuah kearifan lokal yang sangat dijaga oleh masyarakat Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
a) Awal Mula dan Latar Belakang Sejarah
Sejarah upacara ini berakar pada abad ke-15, sekitar tahun 1400 Masehi. Pada masa itu, terjadi peperangan besar antara Keraton Majapahit, yang dipimpin oleh Raja Brawijaya V, melawan Keraton Demak. Setelah Keraton Demak memenangkan peperangan, banyak prajurit dan senopati Majapahit yang gugur atau terpaksa mengungsi ke hutan dan pegunungan. Di antara rombongan yang mengungsi adalah kerabat keraton, yaitu Ki Wisangsanjaya, Nyai Wisangsanjaya, Eyang Tropoyo, dan Senopati Yudhopati. Mereka menyusup dari Jawa Timur hingga tiba di Dusun Gedangan.
b) Asal-Usul Nama “Cing Cing Goling”
Selama perjalanan, rombongan ini sering diganggu oleh klitih atau begal karena mereka membawa bekal berharga, seperti bahan makanan, senjata, dan emas. Untuk mengecoh atau menggoda para begal, Nyi Wisangsanjaya melakukan aksi unik, yaitu nyincengke jarik (mengangkat kain jaritnya) sehingga betisnya terlihat. Tindakan ini berhasil membuat para klitih dan begal tergoda. Ketika para begal mendekat, Eyang Tropoyo yang memiliki pusaka berupa cemethi atau cethen (cambuk) akan menampul atau mencambukkan pusakanya, menyebabkan para begal melarikan diri. Gerakan Nyai Wisangsanjaya yang “nyincingke jarik” inilah yang kemudian diabadikan dan menjadi dasar terciptanya tarian Cing Cing Goling.
c) Balas Budi dan Pembentukan Dusun Gedangan
Rombongan keraton akhirnya sampai dan diterima di Dusun Gedangan, di sekitar Sungai Kedung Dawang. Mereka dilindungi oleh tiga leluhur setempat: Kyai Brojonolo, Kyai Honggonolo, dan Kyai Nolodongso. Masyarakat Dusun Gedangan dengan kebaikan hati mencukupi segala kebutuhan hidup mereka. Karena situasi masih riuh, Ki Wisangsanjaya memutuskan untuk mengganti nama agar tidak terlacak musuh. Ia berganti nama menjadi Mbah Pisang, yang dalam bahasa Jawa dibahasakan menjadi Mbah Gedang, sehingga terbentuklah nama Dusun Gedangan.
Sebagai bentuk balas budi atas kebaikan masyarakat yang tinggal di daerah yang tandus dan berkapur (pegunungan seribu), Kyai Wisangsanjaya, Nyi Wisangsanya, dan Eyang Tropoyo meminta Senopati Yudhopati untuk membuat bendungan dan saluran irigasi di Sungai Kedung Dawang dalam waktu satu malam, menggunakan tongkat pusaka. Bendungan yang dibuat sepanjang 700 meter ini diberi tanda dengan dua pohon kluweh di setiap batasnya. Keberhasilan pembuatan bendungan ini merupakan pemenuhan balas budi Kyai Wisangsanjaya. Upacara Adat Cing Cing Goling kemudian diadakan sebagai pesta rasa syukur atas melimpahnya air yang membuat sawah subur, yang menjadi awal mula tradisi ini.
d) Rangkaian Prosesi Upacara Cing Cing Goling
Upacara Cing Cing Goling dilakukan pada masa panen sawah kedua, biasanya pada hari Senin atau Kamis Kliwon/Wage, sekitar bulan Juni atau Juli. Prosesi ini melewati beberapa tahapan:
1. Persiapan dan Pembersihan Lingkungan: Satu hari sebelum hari H, masyarakat Dusun Gedangan bergotong royong membersihkan tempat upacara, terutama tempat sesaji. Hal ini juga termasuk membersihkan makam Kyai Wisangsanjaya dan Nyai Wisangsanjaya.
2. Pembuatan Pembatas Janur dan Malam Tirakatan: Juru kunci membuat pembatas menggunakan janur (daun kelapa muda) di tempat upacara. Pembatas ini berfungsi untuk melarang orang hamil dan wanita yang sedang haid memasuki area upacara karena dianggap sebagai tempat suci. Pada malam hari, para pemain Cing Cing Goling bersama juru kunci melakukan malam tirakatan dan doa bersama di tempat sesaji.
3. Pembuatan Panjang Ilang: Pemangku adat dan juru kunci membuat panjang ilang, yaitu keranjang dari janur yang diisi hasil bumi dan kemudian dimasukkan secara berjejer ke bambu panjang untuk diarak. Keranjang janur pada panjang ilang harus berjumlah 24, melambangkan jumlah penari Cing Cing Goling.
4. Kirab dan Kenduri: Juru kunci bersama masyarakat melakukan kirab dengan membawa berkat (makanan) dan ubarampen (perlengkapan) menuju tempat upacara yang dilaksanakan dibawah pohon beringin. Setibanya di sana, acara kenduri (doa bersama) dimulai, dipimpin oleh juru kunci. Kenduri dilakukan oleh seluruh masyarakat yang membawa ubarampen atau berkat berisi nasi gurih, ingkung (ayam kampung), sayuran, dan kerupuk.
5. Pantangan Kenduri: Dalam kenduri, terdapat pantangan yang harus dipatuhi:
· Makanan yang dimasak tidak boleh dicicipi.
· Tidak boleh memasak dengan menggunakan bahan kedelai (seperti tahu dan tempe). Filosofinya karena dalam pembuatannya, kedelai dipisahkan dari kulit arinya dengan cara diinjak-injak.
· Orang hamil dan wanita yang sedang berhalangan/haid tidak boleh menghadiri.
· Makanan harus dibawa dengan ikhlas.
6. Tari Cing Cing Goling: Setelah kenduri (ingkung didoakan, dikumpulkan, dan dibagikan), acara dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Cing Cing Goling. Para pemain mengenakan baju prajurit.
Nadia Amalia
