Cara Tuhan Menyusun Mimpi dengan Unik
Mimpi yang Terasa Semakin Jauh
Perempuan itu bernama Nina, seorang perempuan kecil dengan mimpi yang besar, menjadi seorang penulis. Namun, mimpi itu akan tetap menjadi mimpi khayalan saja karena langkah awalnya tidak pernah membawa dia untuk merasakan bahkan menyapa mimpi itu. Dia seorang mahasiswi jurusan pertanian, Agroteknologi program studi yang dia dalami. Sejak SMA, dia sudah banyak membuat karya seperti puisi maupun cerita pendek yang bisa membawa dia ke mimpi itu. Namun, kenyataannya tidak semulus itu, karena program studi yang dia dalami tidak menyediakan wadah untuk karya yang dia buat. Agroteknologi, sebuah program studi yang berkutat dan berfokus pada sains, penelitian, dan praktik lapangan, yang bisa dibilang bahwa program studi itu tidak akan pernah membawa dia untuk menggapai mimpinya menjadi seorang penulis.
Ketika Mimpi Harus Mengalah pada Ketaatan
Sejak SMA dia sangat tertarik pada menulis, bahkan bisa dibilang bahwa menulis adalah setengah jiwa seorang Nina. Tetapi menulis bukanlah kegiatan yang diinginkan oleh keluarganya. Orang tuanya bersikeras agar dia memilih bidang yang meyakinkan dan menjanjikan untuk masa depannya. Pada zaman yang serba mahal ini, keluarganya meminta agar dia lebih berpikir tentang masa depan, bukan hanya mengikuti hobinya. Sudah banyak cara yang dia lakukan untuk meyakinkan keluarganya bahwa menulis juga bisa memberikan masa depan yang cerah. Ketika dia harus menuruti keinginan keluarganya, mimpi itu terasa semakin menjauh. Haruskah dia mengubur mimpinya dan melanjutkan hidup yang sudah ditata oleh keluarganya, atau memilih mengejar mimpinya dan mengabaikan permintaan mereka?
Mimpi yang sudah lama dia impikan akhirnya dipilih untuk dikubur sementara, dan dia melanjutkan hidup di program studi pilihan keluarganya, bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi cita-cita ibunya. Dia merelakan mimpinya dan memilih mewujudkan harapan ibunya dengan segenap hati serta doa yang selalu menyertainya. Dia percaya bahwa doa dan restu orang tua akan memudahkan setiap langkahnya dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Berkat dukungan orang-orang terdekat, dia mampu melewati satu setengah semester dengan baik. Tidak mudah baginya untuk merelakan cita-cita dan mimpinya, tetapi dia berhasil menjalaninya.
Agroteknologi ternyata bukan program studi yang dia minati. Namun, di sinilah Tuhan mulai menyusun mimpinya dengan cara yang unik. Program studi yang dia jalani justru menjadi wadah bagi karya dan imajinasinya. Walaupun dipenuhi laporan praktikum yang bersifat formal dan jauh dari dunia kepenulisan, dia tetap mampu menuangkan ide-ide kreatif dalam setiap tulisan akademiknya. Siapa sangka, program studi yang dulu dia anggap akan mengubur mimpinya justru menjadi jalan untuk membuatnya bersinar dengan caranya sendiri. Menulis memang identik dengan mahasiswa sastra, tetapi kisahnya menjadi berbeda. Dari jurusan pertanian pun seseorang tetap dapat menjadi seorang penulis.
Rencana Tuhan Selalu Menemukan Jalannya
Program studi yang dia jalani bukanlah alat untuk mengubur mimpinya, melainkan menjadi jembatan untuk membangun kembali mimpi yang sempat dia lepaskan. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa doa dan restu orang tua mampu membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Mengikuti arahan keluarga ternyata tidak selalu berarti meninggalkan impian. Terkadang, justru di tengah perjalanan itulah Tuhan mempertemukan seseorang dengan jalan menuju mimpinya. Ketika hati belajar menerima dan percaya pada kehendak Tuhan, Dia tidak pernah meninggalkan setiap perjuangan dan keikhlasan yang dijalani. Pada akhirnya, rencana Tuhan selalu lebih indah daripada rencana manusia. Inilah cara Tuhan menyusun mimpi dengan unik.
