Doc. pribadi
Sketsa Awal di Sudut Temanggung
Semua bermula dari tahun 2021, dari sudut rumah di Temanggung. Saat-saat di mana hampir semua orang berada di titik terendah dalam hidupnya. Fenomena global yang mengunci hampir seluruh sumber daya, termasuk sumber ekonomi. Dalam berbagai berita, ekonomi tercatat mengalami penurunan yang signifikan sehingga banyak kepala rumah tangga kehilangan pekerjaan yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga mereka. Semua seolah terhenti dalam satu waktu. Hidup berubah menjadi lebih buruk saat anak-anaknya harus tetap melanjutkan pendidikan. Satu hal yang disyukuri adalah dapat bersekolah tanpa biaya lain selain membayar seragam. Namun, apakah itu sudah cukup untuk menyelesaikan masalah? Lockdown, karantina, dan PJJ menjadi hal yang tidak asing lagi untuk didengar saat itu, tetapi sekaligus menjadi tantangan baru yang harus dihadapi.
Pembelajaran jarak jauh membuat semuanya terasa semu. Untuk dapat terus mengikuti alurnya, aku harus memutar otak agar misi pendidikanku tetap berjalan dengan baik. Orang tuaku tidak bisa memberi lebih dari yang bisa mereka lakukan saat itu karena keterbatasan yang mencekik perekonomian. Aku butuh kuota, syarat akses pendidikan yang wajib dimiliki setiap pelajar pada masa itu. Dengan dunia di dalam sebuah benda pipih yang kugenggam, aku mencoba percaya bahwa setiap usapan jempol di atas permukaannya dapat membantuku menyelesaikan masalah ini. Bermodalkan ketertarikanku terhadap dunia gambar digital dan hanya dengan perangkat seadanya, aku nekat terjun ke dunia freelance. Dunia yang tak pernah kujamah, bahkan tidak pernah kukenal sebelumnya. Meski masih amatir, aku tetap melanjutkannya, berharap sederhana agar aku punya kuota untuk belajar esok hari.
Jatuh Bangun dan Pembuktian Diri
Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa satu langkah nekat yang kuambil ini dapat mengubah hidupku. Pada awalnya, tujuanku hanya mendapatkan uang untuk membeli kuota. Namun, keputusan impulsif ini justru memberiku lebih dari sekadar kemampuan mengakses internet. Langkah tersebut menjadi titik balik terbesar yang mengubah seluruh jalan hidupku.
Ada banyak hal yang kucapai setelah menjadi seorang desainer freelance. Aku membuat ilustrasi untuk bukuku sendiri, mengikuti perlombaan wirausaha nasional dan membawa pulang medali emas, mendapatkan jabat tangan dari Gubernur Provinsi Jawa Tengah, serta memperoleh modal lebih untuk mengembangkan usaha dan kemampuanku. Untuk pertama kalinya, orang-orang mengakui pencapaianku, begitu pula orang tuaku yang awalnya menolak karena aku terlalu sering berada di depan layar dan dianggap mengabaikan sekolah. Meski demikian, satu hal yang harus kukorbankan adalah nilai dan proses pembelajaranku yang sempat mengalami penurunan.
Pernah mendengar kalimat, “Cari uang itu susah”? Aku harus memahami makna kalimat itu saat usiaku baru menginjak 17 tahun. Ketika remaja lain menikmati uang saku mereka untuk jajan, hang out, dan membeli barang-barang lucu, aku harus memikirkan cara mencari uang untuk bensin minggu depan, biaya perawatan motor, uang jajan di sekolah, uang praktik, hingga memberi sesuatu untuk keluarga. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa seperti orang lain. Aku harus berkeringat lebih untuk dapat mengikuti alur yang sudah kupilih sendiri sejak awal.
Di tengah-tengah pembelajaran, ada klien yang harus kulayani dan pekerjaan yang harus kuselesaikan hingga larut malam. Tiga tahun bertahan di industri kreatif ini nyatanya memberikan banyak pelajaran berharga. Aku dipaksa dewasa untuk menghadapi keadaan. Tanpa disadari, proses otodidak yang melelahkan ini perlahan menempa mental yang kuat dan kemandirian dalam diriku.
Menunda Mimpi yang Sama
Ujian yang sesungguhnya baru datang saat aku lulus sekolah. Ketika melihat teman-teman sebaya mulai sibuk mempersiapkan kuliah, impianku sendiri justru harus kupendam. Aku tidak memiliki modal yang cukup untuk melakukannya, dan realitas ekonomi belum berpihak padaku. Kecewa dan sedih tentu ada, tetapi aku memilih menjadikan dunia freelance sebagai ruang pelarian yang produktif. Alih-alih mencari pekerjaan di luar sana dengan gaji tetap, aku memilih fokus mendalami apa yang selama ini sudah kupertahankan. Sambil berharap, di setiap lembar desain yang kuselesaikan, ada doa yang perlahan dikabulkan.
Satu tahun berjalan, aku berhasil mengumpulkan portofolio dan mengisi tabungan. Saat aku sudah mulai berdamai dengan keadaan dan fokus bekerja, pendaftaran SNBT 2025 dibuka. Rasa ingin kuliah itu muncul kembali. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin mencobanya meski hanya sekali. Namun, aku harus mulai dari mana? Rasanya semua materi yang pernah kupelajari di sekolah sudah menguap entah ke mana. Dua bulan terakhir sebelum ujian, aku berusaha mempelajari kembali semua materi yang diujikan di SNBT. Tanpa memberitahu orang tuaku, aku melakukannya diam-diam. Aku tidak ingin menaruh harapan orang lain pada sesuatu yang bahkan belum bisa kupastikan hasilnya.
Hari itu, dengan dalih pergi ke kos teman di Magelang, aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi melalui SNBT. Tidak ada harapan lebih selain, “Aku telah mencobanya.” Untuk urusan hasil, biarlah takdir yang menjawabnya. Dan jawaban takdir itu datang sebagai kejutan manis. Pada paruh pertama tahun 2025, aku diterima di Universitas Tidar. Sebuah pintu kesempatan baru yang membuatku sulit percaya dan menghadirkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Aku sempat ragu. Jika aku kuliah, maka tanggunganku bukan hanya sekadar makan hari ini, tetapi juga biaya hidup dan biaya pendidikan yang jauh lebih besar. Aku meminta izin dan doa tulus dari orang-orang di sekitarku, lalu memantapkan diri untuk mengambil peluang yang diberikan takdir. Aku akan mencobanya sekali lagi.
Sekarang, kehidupan baruku resmi dimulai dan dinamikanya terasa unik. Aku hidup di dua dunia yang bertolak belakang. Di satu sisi, aku adalah mahasiswa Teknologi Pangan yang berkutat dengan laporan praktikum dan rumus-rumus kimia. Di sisi lain, aku tetap seorang desainer yang harus cekatan membuka laptop ketika tenggat waktu atau revisi klien mendadak datang.
Ketika Garis Waktu Menemukanku
Doc. pribadi
Belajar dari pengalamanku di masa sekolah, menyeimbangkan dua hal besar dalam hidup ini membutuhkan kemampuan manajemen yang ketat. Aku harus menghadapi tantangan baru di dunia yang lebih rumit. Bentrokan dan perdebatan dalam diriku tidak bisa dihindari. Meski begitu, ada satu hal yang harus kuakui: aku hebat karena berhasil sampai sejauh ini. Aku penasaran bagaimana akhir dari semua perjalanan ini. Namun, untuk sampai ke titik itu, aku harus melewati hari-hari dengan terus bersemangat dan menjadi lebih baik dalam menata hidup. Pekerjaanku harus tetap berjalan agar dunia kuliahku tidak runtuh.
Melihat kembali ke belakang, aku menyadari bahwa tidak ada waktu yang sia-sia. Penundaan kuliah yang sempat membuatku patah hati ternyata menjadi cara semesta mempersiapkanku lebih awal. Perjalanan ini membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi dapat membawa seseorang melampaui batas yang pernah ia bayangkan. Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus pekerja lepas memang melelahkan, tetapi hasil dari usahaku sendiri memberikan rasa bangga yang mengantarkanku ke bangku kuliah.
Dulu, aku hanyalah seorang pelajar yang berusaha mencari kuota agar tetap bisa belajar di tengah keterbatasan. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa langkah nekat itu akan mengubah hidupku sejauh ini. Kini aku memahami bahwa setiap kesulitan bukanlah penghalang, melainkan bagian dari proses yang membentuk diriku hari ini. Kanvas digital yang dulu menjadi jalan keluar dari masalah kecil ternyata membawaku pada mimpi yang sempat kutunda. Karena itu, saat masa depan terasa penuh ketidakpastian, aku memilih untuk terus melangkah. Aku percaya bahwa setiap usaha tidak akan sia-sia, dan terkadang perubahan besar berawal dari keberanian untuk mengambil satu langkah kecil.



