Hujan itu turun sejak beberapa hari yang lalu, pelan tapi tak pernah berhenti. Silvi sudah merasakan hal yang tidak beres dari hari-hari sebelumnya. Air sungainya menjadi lebih keruh, arusnya lebih deras, dan baunya seperti tanah yang dipaksa bangkit dari tidur panjang. Setiap sore Silvi berdiri di tepi sungai, ia memandangi bukit yang kini tampak telanjang. Ia teringat, di sanalah dulu ia mencari kayu bakar bersama ibunya, di bawah pohon rindang yang akarnya masih kuat mencengkram tanah. sekarang, bukit itu hanya menyisakan bekas luka.
“Palingan itu cuma hujan biasa,” kata orang. “Sekarang musimnya memang lagi begini.”
Silvi lebih memilih untuk diam. Ia tahu, alam tidak akan marah tanpa alasan.
Pada malam harinya hujan turun tanpa jeda. Bukan hujan yang ramah, melainkan hujan yang menghantam atap dengan suara berat. Menjelang subuh, teriakan terdengar dari ujung desa.
“Air naik! Air masuk rumah!”
Silvi terbangun sambil memeluk anaknya, Ica. Air sudah mengalir sampai lantai rumah, dingin dan berlumpur. Suaminya yang bernama Ilham, bergegas menarik mereka keluar. Dalam gelap, mereka berlari bersama warga lain, sementara suara gemuruh dari bukit terdengar seperti napas raksasa yang runtuh.
Saat matahari muncul, kampung itu hampir tidak dikenali. Rumah hanyut, ladang tertutup lumpur, kayu golongan bertebaran, dan sungai kini melebar seolah ingin menelan apa pun yang tersisa.
Hari-hari di pengungsian terasa panjang. Bantuan tak kunjung datang. Anak-anak menangis karena lapar. Orang dewasa menahan marah dan takut dalam diam. Pada hari ketiga, kabar tentang gudang beras di kota menyebar cepat.
“Kalau kita tunggu, kita bisa mati,”
Malamnya, Ilham pergi. Ia kembali dengan wajah lelah dan karung kecil beras. Tak ada rasa bangga di matanya, hanya rasa bersalah yang bercampur putus asa.
“Kita bukan penjahat,” katanya pelan pada Silvi. “Kita cuma ingin hidup.” Kata Ilham.
Beberapa hari kemudian, mobil bantuan datang. Pejabat berdiri di depan kamera, menyebut kejadian itu sebagai bencana alam. Silvi mendengarkan sambil memandang bukit yang kini benar-benar runtuh.
Ia ingin berkata bahwa hujan hanyalah pemicu. Bahwa jauh sebelum air meluap, pohon-pohon sudah ditebang, tanah sudah dilemahkan, dan peringatan alam sudah diabaikan. Tapi suaranya tenggelam di antara pidato dan tepuk tangan.
Di malam terakhir di pengungsian, Silvi menatap Ica yang tertidur di pangkuannya. Ia berjanji dalam hati: jika suatu hari anaknya bertanya mengapa rumah mereka hilang, ia tidak akan menjawab, “Karena hujan.”
Ia akan berkata,
“Karena manusia lupa menjaga tempatnya berpijak.”
