Budaya daerah belu dalam bingkai indonesia

BUDAYA DAERAH BELU DALAM BINGKAI INDONESIA

Para penari Likurai saat tampil di Istana Negara dalam Perayaan HUT RI ke-74 (Foto: Ist)

Indonesia yang dihuni oleh berbagai sukubangsamemilikisatubagianwilayahyang masih melestarikan budaya tradisional, yaitu Kabupaten Belu yang beribukota di Atambua, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Belu dihuni oleh banyak suku bangsa, empat di antaranya dikenal sebagai penduduk yang sudah turun- temurun hidup di Belu yaitu suku bangsa Dawan,Tetun,Bunaq,danKemaq.Masyarakat Belu sangat percaya pada nenekmoyang atau leluhurnyadanselalupatuhpadanorma-norma yang berasal dari leluhur.
Cara masyarakat Belu untuk menginternalisasikan nilai-nilai tradisional adalah melalui mimesis (peniruan).manusia belajar dari mimesis dan mimesis itu merupakan hal yang wajar bagi manusia sejak masa kanak-kanaknya. Atas dasar itu, internalisasibudayatradisionaldapatdilakukan melalui mimesis. Tradisi tersebut masih melekat erat pada moralitas masyarakat tradisional Belu. Itu terlihat pada cara adat, perayaan, dan ritual budaya yang memberi makna pada nilai-nilai moral. Masyarakat menghargaikehidupanbersamamelaluipraktik budaya,sebagaimanaterlihatpadapraktikadat istiadat beserta ritualnya. Praktik budaya menuntut masyarakat selalu patuh pada tata cara yang berlaku dalam kehidupan bersama. Mereka sejak kecil sudah memperoleh pendidikan bagaimana mereka harus bersikap, berperilaku, maupun berpenampilan dalam segala momentum ritual adat istiadat. Salah satu contohnya tarian tradisional Likurai.

Tari Likurai merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tari ini memiliki makna mendalam dan merupakan bagian integral dari kehidupan sosial serta budaya masyarakat Suku Tetun. Suku Tetun adalah suku yang mendiami wilayah tersebut.
Fungsi Tarian
Likurai Seiring
berjalannya waktu, Likurai tidak lagi identik dengan perang. Kini tarian ini lebih sering ditampilkan pada:

  1. Upacaraadatdanpestarakyat.
  2. Perayaanharibesarkeagamaanatau
    kenegaraan.
  3. Penyambutan pejabat atau
    tamu kehormatan.
  4. Ajang seni budaya di tingkat nasional
    maupun internasional.
    Selain sebagai tontonan budaya, Likurai juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar mengenal adat istiadat dan menjaga identitas Belu sebagai bagian dari NTT.
    PertunjukandanPengaruhKontemporer:Saatini, TariLikuraijugaseringmunculdalam festival budaya dan acara kesenian diluar atambua. Pengenalan tarian likurai ke public lebih luasmembantu meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia serta menarik minat wisatawan. Namun, dengan kemajuan zaman dan pengaruh budaya glonal, ada tantangan dalam menjaga keaslian tarian likurai. Upaya pelestarian sangat penting, termasuk pendididkan dan pelatihan bagi generasi muda. Perlu juga dukungan dari berbagaipihakuntukmemastikanbahwatarian ini tetap hidup dan berkembang.

Eunike.M.Tes