Berwisata dan Mengenal Candi Borobudur


Sumber: Pinterest

Magelang merupakan salah satu wilayah yang berada di Jawa Tengah yang menyimpan beragam destinasi wisata yang menakjupkan. Selain memiliki panorama alam yang indah karena dikelilingi pegunungan, Magelang juga memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang menarik untuk dipelajari. Salah satu destinasi wisata yang sangat ikonik di Magelang adalah Candi Borobudur, sebuah mahakarya warisan dunia yang telah menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.

Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun pada abad ke 8 hingga ke-9 masehi. Struktur bangunan mengandung simbolisme kosmologi Buddha yang terbagi menjadi tiga tingkatan spiritual yaitu Kamadhatu, Rupadhatu daan Arupadhatu. Selain makna religi, candi ini juga membentuk daya tarik utama bagi wisatawan budaya dan sejarah.

Candi Borobudur dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra. Pembangunannya diperkirakan selesai sekitar tahun 825 Masehi. Borobudur awalnya digunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha dan pusat kegiatan keagamaan. Namun, seiring berjalannya waktu, Candi Borobudur sempat ditinggalkan karena beberapa sebab. Di antaranya perpindahan pusat pemerintahan ke Jawa Timur. Selain itu, aktivitas Gunung Merapi membuat candi ini tertimbun abu vulkanik hingga berabad-abad. Borobudur baru ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Thomas Stamford Raffes ketika menjabat sebagai Gubernur Inggris di Jawa. Ia menugaskan insinyur Belanda, H. C. Cornelius, untuk membersikan semak belukar yang menutupi candi. Sejak saat itu, Borobudur mulai dikenal kembali oleh dunia. Upaya perbaikan candi secara besar-besaran dilakukan dua kali. Yang pertama oleh Belanda pada awal abad ke-20 dan pemerintah Indonesia bersama UNESCO pada tahun 1973-1983. Pada perbaikan kedua, batu batu candi dibongkar dan diperbaiki lalu disusun kembali serta penataan taman wisata yang berperan penting dalam pelestarian budaya dan perkembangan pariwisata. Setelah itu, Borobudur diteapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 1991, menjadikannya simbol kejayaan budaya Jawa sekaligus destinasi wisata internasional.

Selain panorama alam dan kemegahan candi, kawasan sekitar Borobudur juga memiliki potensi budaya yang terus berkembang, salah satunya adalah Kampung Seni Borobudur. Kawasan ini menjadi wadah bagi seniman dan masyarakat lokal untuk menampilkan karya seperti pertunjukan tari, musik gamelan dan pameran kerajinan tangan. Masyarakat lokal dapat memanfaatkan Kampung Seni Borobudur menjadi tempat berkembangnya UMKM yang berkembang dibidang kerajinan, kuliner serta oleh-oleh atau souvenir khas Borobudur. Pengrajin lokal memproduksi ukiran kayu, anyaman bambu, batik hingga miniatur dari kayu. Di sisi kuliner, UMKM menawarkan makanan khas yang menjadi daya tarik tersendiri, contohnya getuk dan wedang uwuh. Kehadiran Kampung Seni ini membuat perekonomian warga meningkat karena keterlibatan UMKM dalam pariwisata Borobudur yang terbukti menciptakan peluang kerja. Tidak hanya itu Kampung Seni Borobudur juga memiliki museum yang tentunya dapat menambah wawasan sejarah tentang Candi ini.

Dengan adanya kolaborasi antara seni dan UMKM, Candi Borobudur tidak hanya menawarkan keindahan candi, tetapi juga menghadirkan pengalaman menyeluruh yang melibatkan masyarakat lokal. Perpaduan antara sejarah, seni dan ekonomi kreatif ini menjadikan Borobudur sebagai destinasi wisata berkelanjutan yang memberi manfaat langsung bagi warga sekitar.

Dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur tidak hanya sekedar bangunan biasa, melainkan simbol peradaban besar yang pernah berdiri di Jawa. Sejarahnya yang panjang dari masa kejayaan Dinasti Syailendra hingga pemugaran bersama UNESCO, menunjukkan betapa pentingnya Borobudur. Kini, Borobudur tidak hanya menjadi tempat belajar sejarah atau objek wisata budaya, tetapi juga ruang hidup bagi masyarakat sekitar.

Berwisata ke Borobudur tidak hanya melihat keindahan relief dan arsitekturnya saja, tetapi juga merasakan kehidupan masyarakat sekitar. Pengunjung bisa menikmati keagungan candi, mencicipi kuliner lokal atau bahkan membeli produk-produk UMKM. Oleh karena itu, menjaga Borobudur bukan hanya tugas pemerintah atau UNESCO, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai generasi penerus bangsa, dengan cara menhargai sejarah, melestarikan budaya dan mendukung ekonomi lokal. Borobudur akan terus menjadi ikon kebanggan Indonesia sekaligus warisan dunia yang bisa dinikmati generasi mendatang.