Berada di ruang ini mungkin adalah sebuah takdirku

Assalamualaikum teman teman disini saya akan berbagi pengalaman saya. Pertama-tama perkenalkan saya adalah salah satu mahasiswa di Universitas Sebelas Maret PSDKU di Madiun prodi D3 Akuntansi.
Angkatan Corona, begitu mereka menyebut angkatan kami, lulus tanpa adanya ujian nasional sehingga tak ada nilai yang perlu ditangisi dan diakhirinyapun tanpa adanya perpisahan. Memang tahun 2020 lalu banyak sekali kejutan, namun Alhamdulillah saya bisa melewati ini walaupun banyak mengeluh dan hal tersebut membuat diri saya semakin kuat dalam menjalani kehidupan.
Universitas Negeri di Surakarta, tak pernah sekalipun dibenak saya untuk kuliah disini, karena saya sejak SMA menginginkan menjadi bagian dari Universitas di Jember atau Universitas di Malang. Alasan lain saya memilih kedua Universitas tersebut adalah karena adanya sistem Zonasi yang katanya bahwa peluang untuk diterima di Universitas melalui jalur SNMPTN adalah mereka yang berdomisili di daerah yang masih satu provinsi dengan Universitas tersebut. Tetapi Allah Maha Baik, karena ia telah memberikan kepada manusia sesuai dengan porsi dan kemampuannya.
Januari hingga April tahun lalu saya harap-harap cemas dengan kabar dari SNMPTN saya, bagaimana bisa tenang? Saya memilih Universitas di Jember dan mengambil prodi yang sangat banyak peminatnya yaitu pendidikan matematika. Dan saya juga memilih Universitas di Malang yang peminat di prodi yang saya ambil sangat banyak yaitu prodi matematika murni. Saya sangat berharap menjadi bagian dari salah satu Universitas tersebut. Namun takdir berkata lain ketika saya melihat pengumuman hasil SNMPTN saya tidak lolos. Dan pada saat itu saya sangat kecewa dan saya menangis seharian. Tapi untungnya saya memiliki orang tau yang sangat peduli dan mengerti keadaan saya. Saya diberi nasehat atau wejangan bahwa ”semua sudah ada yang mengatur yaitu ALLAH SWT yang terpenting adalah niat dan usaha kamu untuk terus menuntut ilmu dan masih banyak Universitas lain yang sesuai dan terbaik untuk kamu.”
Tibalah saatnya mendaftar SBMPTN. Tak mau ambil pusing dengan kisah masa lalu, saya berusaha dengan keras agar saya bisa lolos SBMTN. Saya mencoba keberuntungan saya dengan memilih salah satu Universitas Negeri di Surakarta. Setiap hari saya belajar dengan teman saya dengan mengerjakan latihan soal SBMPTN baik dari buku maupun tutorial di Youtube. Kami berusaha dengan sangat keras dan kami belajar dengan sangat tekun. Akhirnya tiba saat untuk tes SBMPTN dan ternyata soal yang keluar sangat berbeda dengan apa yang telah kami pelajari selama ini. Alhasil tiba pengumuman SBMPTN dan sudah saya duga bahwa saya tidak akan lolos. Namun pada saat bersamaan ada sebuah Universitas swasta di Ponorogo menghubungi saya dan menyatakan bahwa saya diterima di Universitas mereka. Saya ingat bahwa ketika masa sosialisasi di SMA pada bulan Januari-Februari saya mengisi formulir mendaftar di Universitas di Ponorogo tersebut. Akhirnya ada secerca harapan untuk saya tetap berkuliah. Namun ketika saya berbicara dengan orang tau saya, mereka sedikit takut untuk mengizinkan saya berkuliah di Universitas swasta di Ponorogo tersebut. Bukan lain adalah karena biayanya karena merupakan Universitas swasta dan saya merupakan keluarga yang kurang mampu.
Saya tidak mau terlalu lama menyesal dan pada ujian mandiri saya memilih Universitas Negeri di Surakarta dan memilih jalur Seleksi Utama Masuk Diploma (SUMD). Sesuai dengan nama jalurnya yaitu saya memilih program diploma dan saya memilih prodi D3 Akuntansi yang sebenarnya sangat berbeda dengan yang saya pelajari ketika SMA karena saya adalah lulusan IPA. Bagi saya tahun 2020 lalu banyak sekali kejutan dan hal aneh, seleksi mandiri SUMD hanya didasarkan kepada Nilai Rapor yang dibalut dengan tidak adanya transparansi dalam seleksi tersebut, dan saya tidak mau suudzon, saya hanya bisa harap-harap cemas saja. Dan kali ini saya tidak diberikan kata-kata motivasi yang berarti saya tidak gagal pada seleksi kali, saya justru diberikan ucapan selamat karena kali ini saya berhasil lolos di Universitas Negeri di Surakarta namun saya hanya diterima di cabang Universitas tersebut atau lebih dikenal dengan PSDKU Madiun. Namun tidak masalah karena kampusnya sangat dekat dengan rumah saya bisa menghemat biaya tidak perlu kost. Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk berkuliah.