Bencana Itu Tidak Datang Sendiri

Hujan turun sejak pagi di desa Sialang. Awalnya tidak ada yang merasa khawatir. Bagi warga desa, hujan adalah hal biasa. Air sungai memang naik, tapi biasanya masih bisa dikendalikan.

Namun pagi itu, Rina merasa ada yang berbeda.

“Airnya kok keruh banget, ya?” kata Rina sambil berdiri di teras rumah panggungnya.

Tetangganya, Pak Udin, ikut menatap sungai. “Iya. Alirannya juga cepat. Dulu nggak pernah begini,” jawabnya pelan.

Rina teringat ucapan ayahnya semasa hidup. “Selama hutan di bukit masih utuh, sungai nggak akan sembarangan meluap.” Sayangnya, hutan itu kini tinggal kenangan. Beberapa tahun terakhir, bukit di belakang desa dibuka. Pohon ditebang, lahan diratakan. Truk-truk besar keluar masuk desa hampir setiap hari.

Warga pernah bertanya.

“Kalau hutannya habis, nanti kami bagaimana?”

Namun jawabannya selalu sama.

“Sudah ada izinnya. Ini demi pembangunan.”

Siang itu hujan semakin deras. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah bukit.

“Allahu Akbar!” teriak seseorang dari ujung jalan.

“Ada apa itu?” tanya Rina panik.

“Tanah gerak! Longsor!” teriak warga lain.

Rina langsung menggendong anaknya dan berlari keluar rumah. Air sudah masuk ke halaman. Dalam waktu singkat, sungai meluap dengan cepat. Air naik sampai pinggang. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri.

“Cepat ke atas! Jangan ke sungai!” teriak Pak Udin sambil membantu seorang nenek.

Dari arah bukit, tanah longsor turun membawa lumpur dan batu. Beberapa rumah miring lalu roboh. Malam itu, desa Sialang lumpuh total. Listrik padam. Sinyal hilang. Warga berkumpul di tempat yang lebih tinggi, basah dan kelelahan.

“Astaghfirullah… rumahku habis,” isak seorang ibu.

Rina hanya bisa memeluk anaknya. Ia tidak tahu apakah rumahnya masih berdiri.

Keesokan harinya, kerusakan terlihat jelas. Ladang tertimbun lumpur, ternak hanyut, dan sungai berubah bentuk. Bantuan belum juga datang karena jalan dan jembatan terputus.

“Bantuan belum masuk?” tanya Rina ke seorang relawan lokal.

“Belum, aksesnya susah. Status bencana juga belum dinaikkan,” jawabnya.

Hari demi hari berlalu. Persediaan makanan menipis. Anak-anak mulai menangis karena lapar. Beberapa warga akhirnya mendatangi gudang beras di kecamatan.

“Kita nggak mau rusak apa-apa,” kata seorang warga. “Kita cuma mau makan.”

Rina ikut berjalan. Ia tahu apa yang mereka lakukan berisiko, tapi ia juga tahu anaknya butuh makan.

Beberapa hari kemudian, Rina melihat berita di televisi di posko pengungsian. Seorang pejabat berkata, “Bencana ini terjadi akibat curah hujan ekstrem.”

Rina menatap layar lama. Dalam hatinya ia bertanya, masa cuma hujan?

“Hujan memang deras,” kata Rina pelan kepada temannya, “tapi bukan hujan yang nebang hutan.”

Temannya mengangguk. “Iya. Bukan hujan yang kasih izin tambang juga.”

Dari kejadian ini, Rina mulai memahami bahwa bencana tidak hanya soal alam, tetapi juga soal kebijakan dan sosial. Keputusan membuka hutan, lemahnya pengawasan, dan fokus pada keuntungan ekonomi membuat alam kehilangan kemampuannya melindungi manusia. Saat hujan datang, dampaknya jadi tidak terkendali.

Selain itu, lambatnya bantuan dan penetapan status bencana membuat warga harus bertahan sendiri. Ketika warga mengambil beras untuk hidup, mereka justru dicap sebagai pelanggar hukum.

Padahal, yang terjadi adalah kegagalan sistem dalam melindungi rakyatnya.

Bencana di Sumatra menunjukkan bahwa pembangunan tanpa memikirkan lingkungan akan selalu memunculkan korban. Alam bukan musuh, tetapi penyangga kehidupan. Jika hutan terus ditebang dan sungai terus dipersempit, maka hujan biasa pun bisa berubah menjadi tragedi.

Bencana itu tidak datang sendiri.

Ia datang bersama kebijakan yang salah, pengawasan yang lemah, dan ketidakadilan sosial.

Dan selama itu tidak diperbaiki, bencana akan terus berulang, dengan korban yang selalu sama.