Bagaimankah perbedaan antara ketiga ragam adverbia (kata keterangan)?

Ragam Adverbia

Adverbia’, sebuah kata yang tentu sudah tak asing bagi kita. Kehadirannya memang sebagai suatu unsur yang dapat dikatakan tak begitu wajib dalam sebuah kalimat. Meski demikian, tentu kehadirannya memiliki fungsi sebagai pemberi keterangan pada kata-kata laian yang sifatnya tidak menerangkan keadaan atau sifat.

Sebuah hal yang perlu kita ketahui bersama, bahwa adeverbia itu memiliki ragam, meliputi adverbia deverbal, adverbia denominal, dan juga adevrebia denumeral. Tiap ragam adverbia tentu memiliki fungsinya masing-masing.

Tertaut dengan uraian tersebut, sekiranya, bagaimankah perbedaan antara ketiga ragam adverbia tersebut? Jangan lupa menyertakan contoh agar lebih mantap.

3 Likes

Perbedaan antara adverbia deverbal, adverbia denominal, dan adverbia denumeral dapat saya jelaskan sebagai berikut.

1. Adverbia deverbal menurut Septiana (2010, p. 22) merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari dasar verba (kata kerja) dengan proses afiksasi tertentu. Verba dengan afiks ter- dapat bertransposisi menjadi adverbia. Transposisi ini tampaknya terbatas hanya pada kata terlampau, teramat, dan terlalu (Arifin & Matanggui, 2007), 107). Kemudian menurut (Alwi, dkk. 2017: 257) adverbial deverbal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Maka dapat disimpulkan adverbial deverbal adalah transformasi verba menuju adverbial.
Misalnya:

  • Kebutuhan barang tersebut terlampau mahal.
  • Saya akan datang kira-kira pukul setengah sepuluh.
  • Pemilik jabatan tersebut teramat kaya.
  • Kamu terlalu mencintaiku, hingga aku jatuh cinta.

2. Adverbia denominal menurut Resnita (2019: 27) adalah adverbia yang berasal dari kelas nomina yang telah mengalami transposisi atau perpindahan kelas kata melalui proses morfologis yakni melalui afiksasi. Adverbial denominal tersebut dapat diperoleh melalui penambahan prefiks dan sufiks. Kemudia menurut (Septiana, 2010: 22) adverbia denominal merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari nomina (kata benda), termasuk numeralia (kata bilangan), dengan proses afiksasi tertentu. Sedangkan menurut (Alwi, 2017: 257) adverbia denominal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Adverbia rupanya, agaknya, dan malam-malam pada contoh berikut, misalnya, diturunkan dari kata rupa, agak, dan pagi yang berkategori nomina.
Misalnya:

  • Agaknya bukan tidak mungkin Indonesia mampu mewujudkan impian Indonesia emas tahun 2045.
  • Rupanya pria tersebut punya tujuan yang mampu memajukan Indonesia.
  • Bapak selalu berangkat pagi-pagi menuju kantor.

3. Adverbia denumeral menurut (Alwi, 2017: 258) adalah pembentukan adverbial dari dasar numeralia. Hal tersebut sesuai pernyataan Kridalaksana (2008:81) yang mendefinisikan adverbial sebagai kategori yang dapat mendampingi adjektiva, numeralia, atau preposisi dalam konstruksi sintaksis. Maka dapat disimpulkan adverbial numeralia adalah dasar pembentukan adverbia dari numeralia.
Misalnya:

  • Jika mencampurkan gula sedikit-sedikit saja jangan terlalu banyak.
  • Masukkan kardus tersebut satu-satu.
  • Kalau mengambil sebuah keputusan jangan setengah-setengah.
  • Pengamat minta Anies Baswedan tidak setengah-setengah atasi banjir di Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Alwi Hasan, dkk. (2017). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud.

Arifin, Z. dkk. (2007). Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: Grasindo.

Dewi, R. (2019). PEMBENTUKAN DAN PERUBAHAN MAKNA ADVERBIA DENOMINAL DALAM BAHASA INDONESIA. Jurnal MATAALLO (Masyarakat Peneliti Pendidikan Bahasa Indonesia), 25 - 32 . http://journals.ukitoraja.ac.id/index.php/mataallo/article/download/1255/944/ (diakses 9 November 2021)

Dina Yulianti, d. (2014). FRASA BAHASA MELAYU DIALEK KETAPANG. JPPK (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa), 1-16. FRASA BAHASA MELAYU DIALEK KETAPANG | Yulianti | Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (diakses 9 November 2021)

Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Nurhayati, S. (2010). ADVERBIA TURUNAN BAHASA JAWA DALAM RUBRIK CERKAK PADA MAJALAH DJAKA LODANG EDISI BULAN JUNI-NOVEMBER TAHUN 2010. Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta. https://eprints.uny.ac.id/32315/ (diakses 9 November 2021)

1 Like

Adverbia deverbal, denominal, dan denumeral memiliki perbedaan pada pembentukannya. Dimana adverbia denominal terbentuk dari nomina, deverbal berasal dari dasar verba, dan adverbial denumeral berasal dari dasar numeralia. Tahir,M (2016) menjelaskan bahwa adverbia denominal merupakan adverbia yang dibentuk dari dasar berkategori nomina. Misalnya adalah pada kalimat dia sering bekerja angin-anginan. Kata angin-anginan menjadi ciri kalimat tersebut termasuk dalam adverbial denominal. Sedangkan adverbia deverbal merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari dasar verba (kata kerja) dengan proses afiksasi tertentu (Nurhayati, 2012). Hal ini dapat dilihat pada contoh kalimat yaitu Mahasiswa itu teramat kritis dalam memberikan pandangan mengenai kondisi kampusnya. Kata teramat merupakan tanda dari adverbial verbal. Selanjutnya adverbia denumeral dapat diartikan sebagai adverbial yang dibentuk dari numeralia. Misalnya adalah pada kalimat, Orang tersebut sedikit-sedikit mengeluh. Kata mengeluh yang termasuk dalam adverbial denumeral dimana membentuk adverb dari numeralia sedikit.

Tahir, M. 2016. Adverbia Bahasa Kaili Dialog Ledo: Kajian Morfosintaksis dan Semantis. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tadulako. Palu.

Nurhayati, Septiana. 2012. Adverbia Turunan Bahasa Jawa Dalam Rubrik Cerkak Pada Majalah Djaka Lodang Edisi Bulan Juni-November Tahun 2010 . Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Alwi Hasan, dkk. (2017). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud.

Kridalaksana (1985: 61-73) memberiikan pembentukan adverbia baik dasar maupun turunan antara lain melalui proses reduplikasi; transposisi denominal, adjektiva, deverbal, depronominal; dan afiksasi. Kridalaksana juga menegaskan bahwa adverbia adalah kategori yang mendamping kategori verba, adjektiva, numerilia, adverbia lainya, atau proposisi.

Adverbia turunan dikatakan sebagai adverbia yang terdiri atas lebih dari satu morfem karena dibentuk melalui proses morfemis. Menurut (Wedhawati, 2006: 333) adapun macam-macam adverbia polimorfemis antara lain.

Adverbia berafiks
Adverbia berunsur mak atau pating
Adverbia bentuk ulang
Adverbia bentuk gabung
Adverbia bentuk kombinasi

Kemudian dalam adverbia berafiks ini merupakan adverbia yang terbangun dari dua morfem atau lebih karena proses afiksasi. Adverbia polimorfemis sendiri memiliki beberapa bentuk di dalamnya seperti :
Adverbia deverbal : merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari dasar verba (kata kerja) dengan proses afiksasi tertentu.
Contoh :
Kejadian itu berhasil mencuri (perhatiannya).
Budi ingin membahagiakan (orang tuanya).
Saya terkejut (mendengar hal itu).
Racun itu berbahaya (bagi manusia)
Adverbia deadjektival : merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari bentuk dasar adjektiva (kata sifat) dengan proses afiksasi tertentu.
Contoh :
Bola sepak itu ditendang terlampau jauh
Siswa di sekolah itu teramat pandai
Kita akhiri saja karena aku terlalu baik untukmu

Adverbia denominal : merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari nomina (kata benda), termasuk numeralia (kata bilangan), dengan proses afiksasi tertentu
Contoh :
Mari kita cangkul ladang itu.
Cangkul ladang itu!
Ladang itu sudah saya cangku

Adverbia denumerial : merupakan adverbia yang diturunkan dari numeralia (kata bilangan) menggunakan afiksasi tertentu.
Contoh :
Jangan terlalu banyak meminum sirup jeruk itu
Jangan menunda waktu untuk belajar
Perjalanan kita menuju Surabaya membutuhkan waktu 3 Jam

Sumber refrensi :
EFFENDI, S. (2004). Adverbial Cara dan Adverbial Sarana dalam Bahasa lndonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Tersedia dari http://repositori.kemdikbud.go.id
Wedhawati, dkk. 2006. Tata Bahasa Jawa Mutakhir Edisi Revisi. Jakarta: Pusat Bahasa.Kridalaksana, Harimukti. 2005. Kelas Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Adverbia atau kata keterangan merupakan kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lainnya (Moeliono dkk, 2017: 235). Ragam adverbia dapat meliputi adverbia deverbal, adverbia denominal, dan adverbia denumeral. Berikut ini penjelasan mengenai perbedaan ketiganya:

A. ADVERBIA DEVERBAL
Adverbia deverbal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Pada contoh berikut adverbia kira-kira, sekiranya, terlalu, dan tahu -tahu masing-masing diturunkan dari verba kira, lalu, dan tahu .
Contoh:

  1. la akan datang kira-kira pukul sepuluh.
  2. Lupakan saja apa yang pernah saya usulkan sekiranya hal itu
    mengganggu.
  3. Terlalu dini untuk menerima usulannya.
  4. Tahu-tahu saya didatangi oleh petugas pajak.

B. ADVERBIA DENOMINAL
Adverbia denominal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang
berkategori nomina. Adverbia rupanya, agaknya, dan malam-malam pada contoh berikut, misalnya, diturunkan dari kata rupa, agak, dan malam yang
berkategori nomina.
Contoh:

  1. Rupanya ia ingin memperkenalkan kami dalam pertemuan itu.
  2. Agaknya cara itulah yang tepat untuk mengimbangi kritikan
    mereka.
  3. Mereka menggedor pintuku malam-malam.

C. ADVERBIA DENUMERAL
Seperti halnya nomina, numeralia dapat juga menjadi dasar pemben-
tukan adverbia. Pada contoh berikut adverbia dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit masing-masing diturunkan dari numeralia dua, setengah, dan sedikit .
Contoh:

  1. Masukkan bungkusan itu dua-dua .
  2. Kalau bekerja, jangan setengah-setengah .
  3. Sedikit-sedikit mereka mengadu ke DPR.

Referensi:
Alwi, Hasan dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Adverbia Deverbal dibentuk dari dasar yang berkategori verba, misalnya adalah kira-kira, sekiranya, terlalu, dan tahu-tahu. Adverbia ini diturunkan dari verba kira, tahu, lalu, dan tahu.

Contohnya adalah :

  • Dia terlalu membanggakan harta kedua orang tuanya.
  • Ana akan kembali ke Bandung kira-kira dua minggu lagi.
  • Siska terkejut karena tahu-tahu ayahnya sudah ada di depan rumah.

Adverbia denominal adalah adverbia yang dibentuk dari nomina (kata benda). Contoh dari adverbia ini adalah rupanya, agaknya, dan malam-malam, dimana kata-kata tersebut diturunkan dari kata rupa, agak , dan malam.

Contohnya adalah :

  • Ayah pulang malam-malam karena lembur kerja.
  • Penyanyi cantik asal jakarta itu rupanya adalah saudara jauhku.
  • Kasus korupsi di Indonesia agaknya belum benar-benar terselesaikan.

Adverbia denumeral adalah adverbia yang dibentuk dari numeralia (kata bilangin). Contohnya adalah dua-dua, setengah-setengah, sedikit-sedikit, dimana kata tersebut diturunkan dari numeralia dua, setengah, dan sedikit.

Contohnya adalah :

  • Sesuai arahan Pak Tanto kami masuk bus setengah-setengah.
  • Sedikit-sedikit Adik mengadu ke ayah ibu.
  • Baik Rara maupun Rere, dua-duanya sangat cantik.

Jadi menurut saya perbedaan antara ketiganya dapat dilihat dari apa yang dibentuk, adverbia deverbal dibentuk dari verba, adverbia denominal dibentuk dari nomina, dan adverbia denumeral dibentuk dari numeralia.

Alwi Hasan, dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Izin menjawab dengan singkat,

a. Adverbia Deverbal
Adverbial deverbal dibentuk dari dasar yang berkategori verba.

Contohnya
kira-kira, sekiranya, terlalu, dan tahu-tahu. Masing-masing merupakan turunan dari verba kira, lalu, dan tahu.

b. Adverbial Denominal
Adverbial denominal dibentuk dari dasar yang berkategori nomina.

Contohnya adalah rupanya, agaknya, dan malam-malam. Kata tersebut diturunkan dari kata rupa, agak, dan malam yang berkategori nomina.

c. Adverbial Denumeral
Adverbial denumeral dibentuk dari dasar yang berkategori numerial. Dalam arti matematika yaitu, berkorespondensi satu-satu dengan bilangan asli, himpunan yang banyak.

Contohnya adalah dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit, masing-masing diturunkan dari numerila dua, setengah, dan
sedikit.

Rujukan
Natasya, Enggidia. 2019. ANALISIS PENGGUNAAN ADVERBIA PADA
ARTIKEL LUCY IN THE SKY. Medan. Universitas Muhammadiyah Sumatera

  1. Adverbial deverbal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori verba (Alwi, dkk. 2017: 257). Berikut adalah contoh adverbia dari kata dasar verba, yaitu kira-kira, sekiranya , terlalu , dan tahu - tahu masing-masing diturunkan dari verba kira , lalu , dan tahu .
    Contoh:
    • Roi akan tiba di Jakarta kira-kira pukul sembilan.
    • Tinggalkan saja pekerjaan itu sekiranya hal itu menyusahkanmu.
    • Terlalu sulit untuk dilupakan
    • Tahu-tahu saya didatangi oleh teman-teman.

  2. Adverbia Denominal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Sebagai contohnya adalah pada kata tampaknya, agaknya, dan malam-malam, dimana kata-kata tersebut diturunkan dari kata rupa, agak , dan malam.
    Contoh :
    • Adik pulang malam karena ada kegiatan ekstrakurikuler
    • Adik dari suami kakakku rupanya temanku
    • Kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia agaknya belum terselesaikan dengan tuntas.

  3. Adverbia denumeral merupaka adverbia yang dibentuk dari numeralia atau kata bilangan. Misalnya, pada kata dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit yang mana masing-masing diturunkan dari numeralia dua , setengah , dan sedikit .
    Contoh:
    • Para siswa masuk kelas dua-dua .
    • Jika ingin bermimpi, jangan setengah-setengah.
    • Sedikit-sedikit dia bertanya

  1. Adverbia Deverbal
    Adverbia deverbal dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Contoh adverbia ini yaitu kira-kira, sekiranya, terlalu, dan tahu-tahu yang masing-masing diturunkan dari verba tiba, kira, tahu dan lalu.
    Contoh:

  2. Kamu jangan terlalu tegas dengan putramu.

  3. Sekiranya ada yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa berceritak denganku.

  4. Tinggi badan kakak sepupuku kira-kira 169 cm.

  5. Adverbia Denominal
    Adverbia denominal dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Adverbia ini contohnya yaitu rupanya, agaknya dan malam-malam yang diturunkan dari kata rupa, agak, dan malam yang berkategori nomina.
    Contoh:

  6. Rupanya ia mengikutiku sejak tadi.

  7. Agaknya kamu terganggu atas kehadiranku.

  8. Malam-malam adikku ingin dibelikan es cream.

  9. Adverbia Denumeral
    Numeralia juga dapat membentuk adverbia. Contoh adverbia ini yaitu dua-dua, setengah-setengah dan sedikit-sedikit, masing-masing diturunkan dari numeralia dua, setengah, dan sedikit.
    Contoh:

  10. Anak kembar itu dua-duanya sangat aktif dan pintar.

  11. Sedikit-sedikit kamu marah, jangan begitu nanti anakmu takut.

  12. Melakukan apapun itu, jangan setengah-setengah.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaannya adalah jika adverbia deverbal kata dasarnya berupa verba, adverbia denominal kata dasarnya nomina, sedangkan kata adverbia denumeral kata dasarnya numeralia.

Alwi Hasan, dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Menurut Arifin & Matanggui (2007: 107) Adverbia Deverbal dibentuk dari dasar yang berkategori verba.

Contoh adverbia deverbal adalah kira-kira, sekitarnya, terlalu, dan tahu-tahu masing-masing diturunkan dari verba tiba, kira, lalu, dan tahu. Berikut ini adalah contoh penggunaan dalam sebuah kalimat:
a. Aku terlalu peduli pada seseorang terlalu acuh kepadaku.
b. Wijaya akan pulang dari Bogor kira-kira seminggu sebelum hari Natal tiba.

Sedangkan Adverbia Denominal dibentuk dari dasar yang berkategori nomina.

Menurut Chaer (2007: 168) Adverbia denominal ini contohnya seperti rupanya, agaknya, dan malam-malam dari contoh berikut diturunkan dari kata rupa, agak, naga, dan malam yang berkategori nomina.

Berikut ini adalah contoh penggunaan dalam sebuah kalimat:
a. Nana setiap hari selalu pulang malam-malam karena ia selalu merasa kesepian ketika berada dirumah.
b. Tanpa diduga rupanya dia terlibat kasus narkoba dan pencurian sepeda motor pada malam itu.

Kemudian, menurut Moeliono dkk. (2017: 276) Adverbial denumeral dibentuk dari dasar yang berkategori nomina.

Contoh adverbial denumeral ini adalah dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit diturunkan dari numeralia dua, setengah, dan sedikit. Berikut ini adalah contoh penggunaan dalam sebuah kalimat:
a. Jangan mencintai seseorang setengah-setengah.
b. Pak Rayka sedikit-sedikit mengkritik perkataan orang itu dalam rapat.

Referensi:
Arifin, Zaenal, dan Junaiyah H. Matanggui. 2007. Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum, Edisi Baru. Jakarta: Rineka Cipta.

Kurniati, Lisdwiana. 2021. PENGGUNAAN KELAS KATA PADA STRUKTUR TEKS CERITA FABEL “KUPU-KUPU BERHATI MULIA” KARYA ADITHIA PRATAMA (SEBUAH TINJAUAN MORFOLOGI). Prosiding Seminar Nasional Sasindo. 21-30.

Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Adverbia adalah kata yang digunakan untuk menerangkan unsur atau bagian kalimat yang berfungsi sebagai predikat, baik yang berupa verba, adjektiva, nomina, maupun numeralia (TBBI, 1993 : 218).

  1. Adverbia Deverbal, dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Dalam contoh berikut berikut adverbia kira-kira, sekitarnya, terlalu, dan tahu-tahu masing-masing diturunkan dari verba tiba, kira, lalu, dan tahu.
    Contoh :
  • Dika terlalu peduli pada sahabatnya.
  • Ia akan pulang kira-kira seminggu lagi.
  1. Advebia Denominal, dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Adverbia rupanya, agaknya, dan malam-malam dalam contoh berikut, misalnya diturunkan dari kata rupa, agak, naga, dan malam yang berkategori nomina.
    Contoh :
  • Isabela setiap hari pulang malam-malam.
  • Tanpa diduga rupanya dia terlibat kasus narkoba.
  1. Adverbia Denumeral, Numeralia juga dapat membentuk adverbia. Dalam contoh berikut ini adverbia dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit, masing-masing diturunkan dari numeralia dua, setengah dan sedikit.
    Contoh :
  • Jangan mencintai seseorang setengah-setengah.
  • Pak Amar sedikit-sedikit mengkritik perkataan orang itu dalam rapat

Referensi:
Alwi Hasan, dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Fahirul, Amin Mujid. 2018. Ciri-Ciri dan Jenis Adverbia dalam Bahasa Indonesia. Universitas Diponegoro.

Adverbia deverbal dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Di contoh berikut ini adverbia kira-kira, sekitarnya, terlaku, dan tahu-tahu masing-masing diturunkan dari verba tiba, kira, lalu, dan tahu.
contoh :
a. Dia terlalu peduli pada sahabatnya.
b. Ia akan pulang kira-kira seminggu lagi

Adverbia denominal dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Adverbia rupanya, agaknya, dan malam-malam dalam contoh ini, misalnya diturunkan dari kata rupa, agak, naga, dan malam yang berkategori nomina.
contoh :
a. Ia setiap hari pulang malam-malam
b. Tanpa diduga rupanya dia terlibat kasus narkoba

Adverbia denumeral, numeralia juga dapat membentuk adverbia. Dalam contoh ini adverbia dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit, masing-masing diturunkan dari numeralia dua, setengah dan sedikit
contoh :
a. Jangan mencintai seseorang setengah-setengah
b. Pak Amar sedikit-sedikit mengkritik perkataan orang itu dalam rapat.

REFERENSI :
nandriatiekafitri.blogspot.com Morfologi : ADVERBIA

Adverbia Deverbal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori verba (Hasan Alwi, dkk, 2010: 257). Adverbia Deverbal (verba → adverbia), yakni verba dengan afiks ter- dapat bertransportasi menjadi adverba. Transposisi ini tampaknya terbatas hanya pada kata terlampau, teramat, dan terlalu (Arifin & Matanggui, 2007: 107). Kata-kata tersebut jika diturunkan dari lampau, amat, dan lalu. Contoh kalimatnya, misalnya: (1) Harga beras itu terlampau tinggi; (2) Pengusaha itu teramat kaya; dan (3) Dia terlalu baik untuk temannya.

Adverbia Denominal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Adverbia rupanya, agaknya, dan malam-malam pada contoh berikut, misalnya, diturunkan dari kata rupa, agak, dan malam yang berkategori nomina (Hasan Alwi, dkk, 2010: 257). Contoh kalimatnya, misalnya: (1) Rupanya ia memiliki hewan peliharaan berupa kucing yang sangat lucu; (2) Agaknya ia memiliki ketakutan ketika di ruangan gelap gulita; dan (3) Malam-malam ia datang ke rumahku membawa makanan.

Adverbia Denumeral adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori numeralia. Pada contohnya yakni dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit masing-masing diturunkan dari numeralia dua, setengah, dan sedikit (Hasan Alwi, dkk, 2010: 258). Contoh kalimatnya, misalnya: (1) Mereka baris dua-dua ke belakang; (2) Kue itu dibagi setengah-setengah, dibagikan ke tetangga sebelah; dan (3) Sedikit-sedikit terdapat peningkatan dalam belajar Matematika.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa masing-masing adverbia tersebut terdapat perbedaan, yakni adverbia deverbal yang dibentuk dari kata dasar verba, kemudian adverbia denominal yang dibentuk dari kata dasar nomina, dan yang terakhir adverbia denumeral yang dibentuk dari kata dasar numeralia. Artinya ketiganya memiliki perbedaan yang signifikan.

SUMBER RUJUKAN:

Alwi, Hasan, dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kurniati, Lisdwiana. (2021). Penggunaan Kelas Kata pada Struktur Teks Cerita Fabel “Kupu-kupu Berhati Mulia” Karya Adithia Pratama (Sebuah Tinjauan Morfologi). Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia Unpam, 1(2), 23-24. DOI: http://dx.doi.org/10.32493/sns.v1i2.10810.
Lanin, Ivan. (2021). Kamu Terlalu Baik untukku. Diakses pada 9 November 2021, pada laman https://narabahasa.id/linguistik-umum/morfologi/kamu-terlalu-baik-untukku.

Perbedaan adverbia deverbal, adverbia denominal, dan juga adevrebia denumeral yang bisa saya pahami adalah sebagai berikut:

1. adverbia deverbal

Disampaikan oleh Alwi, dkk. (2017: 257) Adverbia deverbal secara inti yakni terbentuk dari dasar yang berbentuk verba. Maka dari pengertian tersebut dapat didapatkan sebuah hubungan bahwasannya proses verba bertransformasi menuju adverbial deisebut adverbia deverbal. Contohnya adalah kata sekiranya, terlalu, dan tahu-tahu.

Contoh:

Saya sebagai moderator memohon maaf sekiranya kalimat saya menyinggung.

Aku terlalu malu untuk mengajukan diri menjadi presentator.

Entah kenapa, tahu-tahu saya merasa gelisah.

2. adverbal denominal

Adverbia denominal disampaikan oleh Dewi, R., & Pulung, P. (2019:26) dibentuk dari dasar yang berkategori nomina atau kata benda. Contohnya dalam kata adverbia rupanya yang diturunkan dari kata rupa.

Contoh:

Rupanya aku bukan apapun lagi dimatamu

Terbongkar sudah agaknya kau memang memiliki dendam denganku

Mereka menyergap rumah jendral malam-malam

3. adverbia denumeral

Adverbia denumeral terbentuk dari dasar yang berkategori numeralia atau kata bilangan. Kata bilangan ini bisa menyatakan jumlah benda atau urutanya dalam suatu deretan. Contohnya adalah kata dua-dua yang berasal dari kata numeralia dua, dan lain sebagainya.

Contoh:

Tolong berbaris dua-dua

Kenapa sih sedikit-sedikit kau ini mengeluh

Kau akan dipecat jika melakukan segalanya setengah-setengah

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, K. K. D. B. Morfologi Bahasa Indonesia.

Alwi Hasan, dkk. (2017). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud.

Dewi, R., & Pulung, P. (2019). PEMBENTUKAN DAN PERUBAHAN MAKNA ADVERBIA DENOMINAL DALAM BAHASA INDONESIA. Mataallo: Masyarakat Peneliti Pendidikan Bahasa Indonesia, 1(1), 25-32.

• Adverbia deverbal merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari dasar verba (kata kerja) dengan proses afiksasi tertentu. Contoh: Musikus itu teramat kaya.
Verba dengan afiks ter- dapat bertransposisi menjadi adverbia. Transposisi ini tampaknya terbatas hanya pada kata terlampau, teramat, dan terlalu (Arifin & Matanggui, 2007, 107).
• Adverbia denominal merupakan adverbia polimorfemis yang diturunkan dari nomina (kata benda), termasuk numeralia (kata bilangan), dengan proses afiksasi tertentu. Contoh: “rupanya”, diturunkan dari kata rupa.
• Adverbia denumeral pembentukan adverbia terjadi dari dasar numeralia. Sejalan dengan pendapat Bussmann (2006) menjelaskan bahwa numeralia ialah kelas kata yang berfungsi utamanya sebagai adjektiva (misalnya setengah-setengah)
Sumber:
Iribaram, Siti Masitha. 2016. Sistem Numeralia Bahasa Ngalum. Jurnal Kibas Cenderawasih. 13(1): 31-42.
Nurhayati, Septiana. 2012. Adverbia Turunan Bahasa Jawa Dalam Rubrik Cerkak Pada Majalah Djaka Lodang Edisi Bulan Juni-November 2010. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta.

  1. Adverbia deverbal

Adverbia deverbal adalah adverbia yang dibentuk dari dasar yang berkategori

verba. (Moeliono, dkk, 2017)

Contoh:

  • Para pejuang berusaha mati-matian mempertahankan tanah air.
  1. Adverbia denominal

Adverbia denominal adalah adverbia yang berasal dari kelas nomina yang telah mengalami transposisi atau perpindahan kelas kata melalui proses morfologis yakni melalui afiksasi. (Dewi & Pulung, 2019)

Contoh:

  • Maju selangkah lagi maka ia akan berjumpa dengan-Nya
  1. Adverbia denumeral

Adverbia denumeral adalah adverbia yang berasal dari kata bilangan yang biasanya melalui proses reduplikasi.

Contoh:

  • Mereka mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan perbedaan dari ketiga adverbia tersebut terdapat pada kata dasar pembentuk advebia tersebut. Yang mana pada advebia deverbal berasal dari verba (kata kerja), adverbia denominal berasal dari nomina (kata benda), dan adverbia denumeral berasal dari numeral (kata bilangan).

Sumber:

Dewi, R., & Pulung, P. (2019). PEMBENTUKAN DAN PERUBAHAN MAKNA ADVERBIA DENOMINAL DALAM BAHASA INDONESIA. Jurnal MATAALLO: Masyarakat, Peneliti Pendidikan Bahasa Indonesia, 1(1), 27.

Effendi, S. (2004). ADVERBIAL CARA DAN ADVERBIAL SARANA DALAM BAHASA INDONESIA. Jakarta: Pusat Bahasa.

Moeliono, A. M., dkk. (2017). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Perbedaan adverbia deverbal, adverbia denominal, dan juga adverbia denumeral.

  1. Adverbia Deverbal
    Adverbia deverbal adalah adverbia yang terbentuk dari kata kerja. Ada beberapa kata kerja yang membentuk adverbial, seperti kira-kira, terlalu, tahu-tahu, dan sebagainya.

Contoh :

a. Andi pergi kira-kira pukul sepuluh.

b. Ibu terlalu cemas sebab adik belum pulang.

c. Tahu-tahu kakak pulang dengan keadaan basah kuyup.

  1. Adverbia Denominal
    Adverbia denominal adalah adverbia yang terbentuk dari kata benda. Ada beberapa kata benda yang membentuk adverbia, seperti agaknya, rupanya, dan sebagainya.

Contoh :

a. Agaknya pencuri itu ketahuan sebab tidak sengaja menyenggol guci sampai pecah.

b. Rupanya kakek sejak tadi duduk di tepi pantai.

  1. Adverbia Denumeral
    Adverbia denumeral adalah adverbia yang terbentuk dari numeralia. Ada beberapa kata numeralia yang membentuk adverbia, seperti satu-satu, sedikit-sedikit, dan sebagainya.

Contoh :

a. Kelereng itu dimasukkan satu-satu oleh adik.

b. Sedikit-sedikit air itu dipindahkan ke wadah.

Sumber : http://nandriatiekafitri.blogspot.com/2012/02/adverbia.html

Menurut Kridalaksana (2011: 2) adverbia (adverb) didefinisikan sebagai kata yang dipakai untuk memberikan verba, adjektiva, proposisi, atau adverbia lain. Sedangkan menurut Alwi (1998), adverbia (kata keterangan) dapat diketahui dari segi perilaku semantisnya, prilaku sistaksisnya, dan bentuknya. Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa adverbia secara teoretis termasuk dalam kategori kata yang memberikan keterangan pada beberapa kata seperti kata sifat, kata kerja, dan kata benda. Oleh karena itu, adverbia memilki peran khusus dalam sebuah kata maupun kalimat.

Adverbia sendiri memiliki beberapa jenis, yaitu:

1. Adverbia Deverbal
Adverbia ini terbentuk dari kata dasar yang berkategori verba. Verba dengan afiks ter- dapat bertransposisi menjadi adverbia.
Contoh:

  • Anak itu terlampau pintar.
  • Gajinya teramat besar.
  • Dia terlalu bersemangat.

2. Adverbia Denominal
Adverbia ini terbentuk dari kata dasar yang berkategori nomina. Adverbia ini mengalami beberapa proses afiksasi tertentu.
Contoh:

  • Lampu itu rupanya masih menyala.
  • Pedagang itu pagi-pagi sudah sampai pasar.

3. Adverbia Denumeral
Adverbia ini terbentuk dari kata dasar yang berkategori numerial (kata bilangan).
Contoh:

  • Setiap kelompok dibagi menjadi tujuh-tujuh.
  • Ibu membeli jahe dan kunyit semuanya seperempat-seperempat.
  • Masukkan bumbunya sedikit-sedikit terlebih dahulu.

Jadi, menurut saya perbedaan antara adverbia deverbal, adverbia denominal, dan adeverbia denumeral yaitu terletak pada penggunaannya sebagai kata maupun kalimat. Hal tersebut dikarenakan setiap ragam adverbia tentu memiliki fungsinya masing-masing.

Sumber Referensi:
Effendi, S. (2004). Adverbial Cara dan Adverbial Sarana dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Nusarini, N. (2017). Adverbia dalam Bahasa Indonesia: Tinjauan Bentuk dan Perilaku Semantisnya. CARAKA, 3(2), 36-49.

Saya Clarissa Nindytya Cahya (K1220021/3A)

  1. Adverbia deverbal dibentuk dari dasar kategori verba. Misaal pada kata terlalu, kira-kira, tahu-tahu. Ada juga adverbia deverbal gabungan, misalnya ingin benar, tidak terkatakn lagi

  2. Adverbia denominal dibentuk dari nomina. Contoh: memahat, membatu, berduri.

  3. Adverbia denumeral berasal dari numerallia. Adverbia denumeralia, misalnya dua-dua.

Sumber referensi:
Susiati. 2020. Morfologi Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. OSF Preprints. Diakses melalui https://osf.io/jc6yv/download pada 9 november 2021 pukul 23.41

Perbedaan antara adverbia deverbal, adverbia denominal, dan adverbia denumeral adalah

  1. Adverbia deverbal
    Adverbial deverbal dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Contohnya kira-kira, sekiranya, terlalu, dan tahu-tahu. Masing-masing merupakan turunan dari verba kira, lalu, dan tahu
  2. Adverbia denominal
    Adverbial denominal dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Contohnya adalah rupanya, agaknya, dan malam-malam. Kata tersebut diturunkan dari kata rupa, agak, dan malam yang berkategori nomina.
  3. Adverbia denumeral
    Adverbial denumeral contohnya adalah dua-dua, setengah-setengah, dan sedikit-sedikit, masing-masing diturunkan dari numerila dua, setengah, dan sedikit.
    Jadi bisa saya simpulkan, perbedaan dari ketiga adverbia tersebut terletak pada kategori bentuk.

SUMBER:
Natasya, Eggidia. 2019. Analisis Penggunaan Adverbia pada Artikel Lucy In The Sky. Skripsi. Medan: Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. (http://repository.umsu.ac.id/bitstream/123456789/5792/1/SKRIPSI%20Eggidia%20Natasya.pdf, diakses pada 10 November 2021).