Bagaimana Bahasa Dapat Dikelompokkan? Bagaimana Pula Metode dan Penerapannya di Indonesia?

Bagaimana Bahasa Dapat Dikelompokkan? Bagaimana Pula Metode dan Penerapannya di Indonesia?

Salah satu tujuan linguistik historis adalah pengelompokan bahasa-bahasa. Pengelompokan atau sub-grouping pada bahasa-bahasa ini dimaksudkan bukan hanya mengetahui adanya tali kekerabatan antar bahasa tapi juga untuk menelusuri lebih lanjut seberapa jauh tingkat kekerabatan bahasa-bahasa tersebut. Dengen demikian, dapat diketahui kelompok besar maupun kecil yang dapat terbentuk dalam suatu kesatuan bahasa proto.
Seperti yang kita tahu, August Schleicher merupakan seorang biolog sekaligus penggemar berat teori Darwin. Oleh karena itu, model Stammbaum yang disusunnya itu mengikuti pula prinsip silsilah keturunan. Schleicher mengemukakan suatu pandangan yang jelas tentang bahasa-bahasa, mulai dari bahasa proto yang berkembang menjadi cabang-cabang bahasa. Dasar dari teori Stammbaum adalah korespondensi fonemis. Dari korespondensi fonemis beberapa bahasa kerabat, dapat diadakan rekonstruksi untuk mendapatkan suatu fonem proto. Dalam Stammbaumtheorie, Schleicher mengajukan konsepsi yang disebut pencabangan dua. Setiap bahasa, menurut Schleicher, secara serempak dapat menghasilkan dua cabang baru. Konsepsinya mengenai pencabangan dua itu diterapkannya dalam bahasa Indo-Eropa.
Penggunaan istilah Stammbaum atau silsilah mengandung bahaya karena bahasa disamakan dengan organisme biologis. Padahal faktanya bahasa tidak memiliki wujud yang bebas seperti binatang atau pohon. Kekurangan lainnya dalam teori Schleicher ini adalah konsep tentang perubahan dalam bahasa itu sendiri. Apabila bahasa Melayu benar-benar merupakan suatu cabang dari bahasa Austronesia, maka ia tidak memperkenankan sesuatu perubahan yang disebabkan oleh pengaruh dari cabang atau sub-cabang lain yang telah berpisah dari batang atau cabang yang lebih tua. Misalnya tidak boleh ada kata atau unsur bahasa Jawa, Sunda, dan sebagainya masuk ke dalam bahasa Melayu (Indonesia). Ternyata keadaannya menunjukkan sebaliknya. Banyak kata atau unsur bahasa Jawa, Sunda, dan sebagainya masuk ke dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.
Atas dasar ketidakpuasan atas konsepsi milik Schleicher, maka Johan Schmidt (1843–1901) menemukan teori baru yang dikenal dengan nama Wellentheorie atau dikenal juga dengan nama Wave Theory (Teori Gelombang). Teori ini mengatakan bahwa bahasa-bahasa dipergunakan secara berantai dalam suatu wilayah tertentu dan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di wilayah tertentu. Perubahan-perubahan linguistis dapat menyebar ke seluruh arah seperti gelombang. Hasil dari gelombang-gelombang yang berurutan tersebut adalah jaringan-jaringan isoglos. Daerah-daerah yang berdekatan dengan pusat penyebaran akan lebih menunjukkan persamaan-persamaan dengan pusat penyebarannya.
Lantas manakah yang patut dijadikan sebagai landasan teori? Tentu saja dua teori tersebut. Karena keduanya dapat saling mengisi kekurangan satu dengan yang lainnya. Kedua landasan tersebut dapat diuraikan beberapa metode pengelompokan bahasa-bahasa kerabat, yakni metode pemeriksaan sekilas, metode kosa kata dasar (basic vocabulary), inovasi, dan leksikostatistik.
Salah satu cara yang paling kuno untuk menetapkan pengelompokan bahasa-bahasa adalah dengan menggunakan metode pemerikaan sekilas (inspection). Metode ini digunakan si pengamat untuk mengadakan peninjauan spontan lalu mengenai persamaan dan perbedaan antara bahasa-bahasa yang diperbandingkan. Misalnya dengan mengamati data-data berikut, dapat ditentukan bahwa bahasa Melayu lebih dekat dengan Bahasa Sunda, sedangkan Bahasa Jawa lebih jauh hubungannya.
Melayu : dua, tadi, anjiⴄ
Sunda : dua, tadi, anjiⴄ
Jawa : lⴢrⴢ, mau, asu
Metode ini kadang berhasil, kadang juga gagal, tergantung dari materi yang digunakan. Semakin banyak data yang dimasukkan dalam pemerikaan ini, tentu semakin dapat diandalkan hasilnya.
Sering terjadi kosa kata yang diwarisi bersama bahasa proto, proses pengelompokan akan mengalami kesulitan, karena jumlah kemiripan bentuk-makna antara bahasa-bahasa. Walaupun kita menolak asumsi A. Schleicher yang memungkinkan suatu bahasa proto hanya bisa bercabang dua, kita juga tidak dapat menerima seolah-olah suatu bahasa proto bisa menurunkan sekaligus sepuluh atau seratus bahasa. Untuk mengatasi kesulitan yang mungkin ditimbulkan oleh jumlah kemiripan yang sama antara sejumlah besar bahasa kerabat, maka dikembangkan pula suatu metode lain sebagai pelengkap, yaitu metode pembaruan dari kata-kata dasarnya. Metode ini dapat dicari dalam shared innovation yang berupa kosa kata dasar atay yang berupa persamaan ciri-ciri morfologis, atau ciri-ciri fonologisnya. Inovasi yang dipergunakan dalam mengadakan pengelompokan atas bahasa-bahasa itu sendiri seperti kelompok yang memiliki /e/ akhir, sedangkan pada kelompok lain menjadi /i/, atau dengan mempergunakan gradasi konsonan.
Oleh karena itu, harus ditetapkan sikap untuk memilih teknik mana yang paling sesuai. Untuk maksud tersebut, pertama-tama harus mempergunakan kosa kata dasar, baru kemudian bila timbul hal-hal yang meragukan digunakan metode inovasi, baik dalam inovasi dalam kosa kata dasar, maupun inovasi unsur-unsur gramatikal dan inovasi fonologis.
Usaha mempergunakan kosa kata dasar sebagai landasan pengelompokan mengalami kegagalan atau memberi hasil yang tidak memuaskan karena hal-hal berikut:

  1. Persentase kemiripan kata-kata kerabat bahasa-bahasa Nusantara berkisaran kecil (30-40%)
    Artinya sukar ditentukan bahasa mana yang lebih dekat ke bahasa lain. Kemiripan kata-kata dasar pada bahasa-bahasa Eropa berkisar antara 60-70%, sehingga lebih mudah mengadakan pengelompokan
  2. Kosa kata dasar sukar sekali dijadikan ciri sub-grouping karena kata-kata itu terdapat pada geografis yang sangat berjauhan
    Perlu kiranya dikemukakan bahwa dalam mengadakan sub-grouping dengan menggunakan kosa kata dasar, tidak boleh diadakan perbandingan secara etimologis atau terlalu bersifat etimologis. Misalnya, dalam bahasa Melayu terdapat kata hulu yang berarti ‘bagian pangkal’, atau ‘udik’, bahasa Tagalog ulo yang berarti ‘kepala’, bahasa-bahasa Lamaholot Tengah ulu yang berarti juga ‘kepala’. Dalam hal ini kosa kata dasar dari bahasa Melayu di satu pihak, dan bahasa Tagalog serta bahasa Lamahelot Tengah sudah berlainan, atau dengan kata lain sudah berpisah. Artinya, ada perkembangan atau inovasi berupa pemisahan arti. Karena itu, dalam pengelompokan bahasa dengan mempergunakan kosa kata dasar tidak boleh mendasarkan pada bentuk saja, tetapi juga harus dilihat dari aspek persamaan arti. Contohnya: Melayu /bulu/, Jawa /wulu/, Lamalera /fulo/.
    Untung saja seorang sarjana Belanda K. F. Holle (1829-1896) telah menyusun suatu daftar kata-kata sebagai dasar pencatatan kata-kata bahasa-bahasa di Indonesia yang disebut dengan Daftar Holle atau Holle List. Daftar ini kemudian perbaiki dan ditambah dengan kalimat-kalimat singkat pada tahun 1904 berdasarkan saran N. Adriani. Pada tahun 1911 daftar itu mengalami cetakan ketiga disertai penambahan-penambahan yang dianggap perlu. Dalam tahun 1931 daftar itu diterbitkan kembali dengan perubahan-perubahan yang berarti.