Kicau burung di pagi hari membuat Danu terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul, sinarnya terpancar tipis melalui celah jendela kamar. Dengan wajah sedikit malas, ia bangkit, lalu meraih handuk. Hari ini adalah hari yang sudah ia tunggu sekaligus ia takuti, hari pertama ospek di Universitas Tidar
Setelah mandi, Danu berdiri lama di depan cermin. Kemeja putih yang sudah disetrika ibunya terasa kaku di tubuhnya, celana hitam terlihat terlalu formal untuk ukuran anak yang baru saja lulus SMA. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Santai, Dan. Cuma ospek,” ucapnya pada diri sendiri, meski jantungnya tetap berdebar.
Sesampainya di kampus, suasana sudah riuh. Puluhan mahasiswa baru berlarian kecil mencari kelompok masing-masing. Di sudut sana, panitia dengan jaket almamater berdiri sambil membawa pengeras suara, memberi arahan dengan suara lantang. Danu merapatkan tasnya, mencari papan nama yang menunjukkan kelompoknya. Setelah menemukannya, ia segera duduk di kursi empuk yang sudah disusun rapi.
Di sampingnya, ada seorang gadis berambut sebahu. Wajahnya terlihat sedikit tegang, kedua tangannya meremas papan dada dan selembar kertas folio. Ia menunduk dalam diam, seolah ingin bersembunyi dari keramaian.
“Sendirian juga?” tanya Danu sambil berusaha ramah.
Gadis itu menoleh sejenak. Tatapannya ragu, tapi akhirnya ia menjawab pelan, “Iya… masih belum kenal siapa-siapa.”
“Aku Danu,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Aneta,” jawabnya singkat. Senyum tipis yang ia berikan cukup membuat suasana jadi tidak terlalu kaku.
Hari itu penuh dengan aktivitas khas ospek. Ada perkenalan kelompok, penyampaian aturan, hingga yel-yel yang harus diteriakkan dengan penuh semangat. tempat yang terasa panas, beberapa peserta mulai mengeluh kelelahan. Namun Danu berusaha tetap antusias, sesekali melirik Aneta yang tampak berusaha mengikuti meski wajahnya merah kepanasan.
Ketika kelompok mereka ditugaskan membuat yel kreatif, Danu spontan mengambil inisiatif. “Kita bikin yel sederhana tapi heboh. Nggak usah ribet,” katanya. Teman-teman lain mengangguk, dan Aneta yang awalnya pendiam, akhirnya menambahkan gerakan tangan sederhana yang membuat yel mereka lebih menarik. Saat tampil, panitia sempat menertawakan gaya mereka, tapi akhirnya justru memberi tepuk tangan karena kelompok itu terlihat kompak dan berani tampil beda.
Di sela istirahat, Aneta bersandar di kursi sambil menghela napas. “Aku kira ospek bakal Cuma nyebelin. Ternyata bisa juga seru,” katanya lirih.
Danu membuka botol air minumnya dan meneguk pelan. Ia tersenyum. “Iya, ternyata nggak seseram yang kita bayangkan. Malah bisa ketemu orang baru. Kayak aku ketemu kamu, misalnya.”
Ucapan itu membuat Aneta tersipu, pipinya memerah lebih dari sekadar panas matahari. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tertawa kecil.
Sore menjelang, panitia akhirnya membubarkan acara. Badan terasa pegal, tapi hati Danu justru hangat. Ia berdiri, menepuk celana hitamnya yang kotor oleh debu, lalu melirik Aneta.
“Besok bareng lagi ya, biar nggak salah barisan,” ucapnya sambil melambai.
Aneta mengangguk dengan senyum lebih lepas dari pagi tadi. Dalam hatinya, ia merasa lega. Ospek yang awalnya penuh tekanan ternyata justru memberinya awal cerita tentang keberanian, persahabatan, dan mungkin juga sebuah kisah yang tidak pernah ia duga sebelumnya.