Apakah bahasa dapat dikatakan memiliki struktur jika dipandang dari perspektif semantik?

Pada hakikatnya, bahasa merupakan bunyi. Namun tentunya tak sekedar bunyi semata, sebab sapi, kambing, ayam, dan monyet dapat mengeluarkan bunyi. Lalu, bunyi yang bagaimanakah? Tentunya, bunyi yang memiliki makna. Melalui bunyi yang bermakna inilah manusia selama berabad-abad melakoni kehidupan di dunia atau yang kita akrabi dengan jaman prasejarah.

Kemudian, bagaimana kedudukan bahasa di alam pikiran manusia? Terkait hal itu, kita semestinya merenungkan apa yang disampaikan Bacon, “Orang membayangkan bahwa pikiran mereka menguasai bahasa: tetapi sering kali terjadi bahwa bahasa itu yang mengatur pikiran manusia (S. Potter dalam Ullmann, 2011).” Berpijak pada paparan tersebut, seolah makna hadir di antara pergulatan bahasa dan pikiran.

Sementara itu, menyoal mengenai makna bahasa maka kita tak dapat melepaskannya dari semantik. Melalui semantik inilah makna bahasa didedah. Lalu, menurut kamu, apabila dipandang dari perspektif semantik, apakah bahasa dapat dikatkan memiliki struktur?

Referensi
Ullmann, (S). 2011. Pengantar Semantik . Cetakan ketiga. Diadaptasi oleh Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

2 Likes

Bahasa pada dasarnya bersifat abstrak karena berada di dalam perasaan atau benak manusia sebagai penuturnya. Bahasa tidak akan bisa langsung dicapai oleh pengamat tanpa melalui medium buatan seperti kamus atau buku tata bahasa. Bahasa selalu muncul dalam tindak tutur dan tingkah laku manusia. Oleh sebab, itu telaah struktur suatu bahasa akan dimulai dari pengkajian tindak tutur dalam bentuk bahasa lisan (Ullmann, 2014).
Relevan dengan pendapat tersebut (Chaer: 2014) menyatakan bahwa linguis Amerika menolak mentalistik iklim filsafat yang berkembang pada masa itu yaitu filsafat behaviorisme. Penolakan tersebut dikaitkan dengan aliran struktural Amerika yaitu Bloomfield. Linguistik strukturalisme ini mendasarkan diri pada fakta objektif bahasa yang dapat diamati dan tidak memperhatikan sisi makna atau arti. Aliran ini berdasar pada cara kerja yang sangat bersandar pada data empirik. Jadi, makna tidak dapat diamati secara empirik, sedangkan fonem morfem dan kalimat bisa diamati dan bisa disegmentasikan.
Namun, dalam kenyataannya struktur semantik serupa dengan struktur logika. Selanjutnya, struktur bahasa itu sendiri harus memiliki makna sesuai dengan logika. Bunyi dalam tataran fonologi yang terdiri dari fonetik dan fonemik merupakan bunyi yang bermakna, tak sekadar bunyi semata yang dihasilkan oleh sapi, kambing, ayam, dan monyet. Dapat disimpulkan bahwa dilihat dari sudut pandang semantik, maka bahasa itu memiliki struktur. Sejalan dengan pendapat tersebut, Chaer (2014:368) menyatakan bahwa menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen dan dapat dihubungkan dengan kaidah transformasi saja. Tidak perlu diproyeksikan dengan kaidah lain seperti yang diajarkan oleh Chomsky. Semantik dan sintaksis seharusnya diselidiki secara bersamaan karena keduanya adalah satu.

Daftar Pustaka:
Chaer, (A). (2014). Linguistik Umum . Jakarta : Rineka Cipta.

Ullmann, (S). 2014. Pengantar Semantik . Cetakan ketiga. Diadaptasi oleh Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

2 Likes

Bahasa merupakan system informasi yang sangat penting bagi seluruh manusia yang ada di dunia. Bahasa sebagai alat komunikasi manusia yang tidak telepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Sebagai suatu unsur yang dinamika, Bahasa berkembang sesuai kebutuhan hidup manusia. Menurut Kambartel (dalam sarbaini, 2018) mengungkapkan bahwa semantik mengasumsikan bahwa Bahasa terdiri dari struktur yang menampakkan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia. Oleh sebab itu struktur dalam semantik sebagai refleksi dari kongfigurasi makna kata itu sendiri. Bahasa terus berkembang dengan kebutuhan dan tuntunan hidup manusia, maka makna yang terkandung didalam suatu Bahasa harus benar sesuai kebutuhan, pikiran, dan logika manusia sesuai dengan aturan-aturan Bahasa yang telah disepakti.

1 Like

Pada dasarnya bahasa yang dikeluarkan oleh hewan tidak memiliki makna, sebagai contoh bahasa yang dikeluarkan oleh burung beo dengan menyebutkan beberapa kata secara bergantian itu hanya sebagai peniru bukan menghasilkan bahasa dan tentunya tidak mengandung makna. Hal tersebut diperkuat oleh Kridalaksana (2011: 24) bahwa bahasa adalah sistem bunyi bermakna yang digunakan untuk berkomunikasi oleh kelompok manusia. Bahasa mempunyai makna yang nantinya bisa diterima oleh banyak orang. Bahasa juga memiliki struktur apabila dipandang dari perpektif semantik. Khrisnatara, Sudipa, & Laksana (2020) menjelaskan bahwa dilihat bahasa memiliki struktur dengan dua lapisan yaitu lapisan bentuk dan lapisan makna. Pada lapisan bentuk di dalamnya terdiri dari satuan fonologi dan gramatikal. Pada satuan fonologi di dalamnya memuat fonetik dan fonemik (Chaer, 2014: 102), sedangkan pada satuan gramatikal di dalamnya memuat kalimat, klausa, frasa, dan morfem. Pada lapisan makna Wierzbicka (dalam Khrisnatara, Sudipa, & Laksana, 2020) menjelaskan bahwa untuk menentukan makna sebuah kata perlu diketahui struktur semantisnya. Sejalan dengan Tampubolon (dalam Mulyadi, 1998:11) menjelaskan bahwa makna memiliki struktur, seperti halnya pikiran manusia. Struktur semantik merupakan perwakilan bahasa yang dipengaruhi oleh faktor budaya.

Daftar Pustaka:
Chaer, Abdul. (2014). Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Khrisnantara, I. G. Y A., Sudipa. I. N., Laksana. I. K. D. (2020). “Struktur Semantik Verba “Membawa” dalam Bahasa Osing Banyuwangi”. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 10(1), 96–102.
Kridalaksana, H. (2011). Kamus linguistik edisi keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mulyadi. (1998). STRUKTUR SEMANTIS VERBA BAHASA INDONESIA. 6. 40-52.

1 Like

Menurut saya, apabila ditinjau dari sisi semantis, bahasa tetap memiliki struktur walaupun strukturnya tidak sama dengan yang kita temukan pada fonem, morfem, klausa, dan kalimat. Merujuk pada teori asosiasi makna De Saussure (Ullman, 2014), bentuk bahasa berupa kosakata dapat dikaji strukturnya dengan mengumpulkan kosakata dengan kesamaan bentuk dan makna, kesamaan makna, kesamaan bentuk, dan juga kesamaan karena kebetulan. Usaha untuk menemukan struktur pada ranah semantik terus dilakukan hingga kemudian muncul teori medan makna oleh J. Trier yang mengorganisasi kosakata berdasarkan konsep (Parera, 2004) hingga kemudian tercipta pula Kamus Tesaurus oleh Peter Roget yang mengorganisasi kosakata menjadi kelompok-kelompok tertentu berdasarkan makna leksikal (Parera, 2004). Bahasa tetap memiliki struktur apabila ditinjau dari sisi semantis, hanya saja strukturnya tidak dapat dilihat secara kasat mata karena makna dan konsep merupakan sesuatu yang ada dalam pikiran kita.

1 Like