Akhir dari Sebuah Perjuangan


Ini adalah kisahku, asaku, dan akhir dari semuanya. Aku adalah salah satu siswi lulusan SMA yang kini beranjak menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas. Detik-detik ujian masuk kuliah kini telah ku lewati, baik itu SNMPTN maupun SBMPTN. Kala itu, aku ingin sekali beranjak masuk ke kedokteran. Pada seleksi SNMPTN akupun memilihnya. Walaupun pada akhirnya aku tidak lolos SNMPTN, hal itu tidak membuatku lemah dan menyerah. Niat dan tekadku yang bulat telah mendorongku untuk berambisi menguasai materi untuk SBMPTN. Beberapa buku telah ku pelajari. Hingga suatu saat pembukaan jalur SBMPTN, akupun meminta saran kepada kedua orang tuaku. Berharap sekali mereka akan memberikan restunya agar aku dapat menempuh ke jenjang kedokteran. Namun semua itu nihil.
Ayahku berkata “Kamu harus mengukur kemampuanmu dan bersiap menerima risiko, Nak. Ayah menyarankan kamu mengambil jalur aman karena mengingat saingan kedokteran yang sangat ketat. Ayah tidak mau kamu kecewa. Terlebih lagi jika ujian itu gagal, ayah tidak dapat memastikan sanggup atau tidaknya untuk menutup biaya ujian mandiri”.
Malam itu aku sangatlah bimbang. Aku berpikir matang-matang untuk memastikan bahwa aku tidak salah mengambil jalan ke depannya. Pikiranku kacau balau. Tidaklah mudah untuk memutuskan keduanya, antara mementingkan ambisi atau mengambil jalan aman untuk antisipasi. Pada akhirnya, ambisiku untuk menjadi seorang dokter telah pupus pada malam itu. Aku mengambil jalur aman untuk mengantisipasi kekecewaan yang kemungkinan besar terjadi. Pada akhirnya aku mengambil prodi pendidikan matematika. Kini semua usahaku yang telah melewati hari hari dengan buku ambisku telah berakhir. Semenjak pendaftaran SBMPTN itu, aku sudah jarang belajar karena aku merasa impianku telah pupus.
“Jika memang aku berhasil masuk di pendidikan matematika ini, berarti Tuhan telah mengarahkan jalanku untuk singgah disini”, itu adalah peganganku. Namun, ucapan itu tak kuiringi dengan usaha seambis dahulu. Aku pasrah. Daripada aku menjadi beban ayah, biarlah impianku saja yang ku pupuskan walaupun pada akhirnya aku tak memiliki gairah pada alternatif studi yang ku ambil ini.
Hari H pengumuman SBMPTN telah tiba. Aku tidak berharap dan sama sekali tidak yakin dengan hasil ujian itu. Akupun tak berani membuka hasilnya karena aku tak berambisi. Pada waktu itu, kakakku yang membuka hasilnya. Ternyata nihil, semua feelingku salah. Aku lolos dan diterima di prodi pendidikan matematika di salah satu universitas ternama. Linangan air mata tak kuasa ku bendung. Ternyata benar apa yang telah dikatakan ayah. Ini takdirku dari Tuhan yang telah mengarahkanku walaupun hasilnya tidak sesuai dengan keinginanku. Ayah ibuku sangat bangga mendengar berita itu. Aku hanya bisa bersyukur dan pasrah serta berusaha untuk menguatkan tekad dan meyakinkan diri untuk mampu melangkah ke depan.
Namun, pada suatu hari aku goyah dan tidak terpaku pada hasil itu. Aku juga mencoba masuk sekolah kedinasan dan mengikuti beberapa seleksinya. Akan tetapi pada akhirnya gagal kembali. Pada hari itulah aku mencoba membangkitkan gairahku untuk bertahan pada salah satu universitas yang telah menerimaku pada SBMPTN kemarin. Sekarang aku mengerti bahwa itulah yang dinamakan lika-liku kehidupan. Terkadang Tuhan berkehendak lain dan menuntun kita ke jalan yang tepat walaupun dengan cara yang berbeda.

~Thanks for reading
D.K.

2 Likes